Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)

Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)
Ternyata Ben?


__ADS_3

"Jadi, antara aku dan Ben, tidak ada dendam saling membunuh seperti yang kamu pikirkan, Tapi, ingatlah, kamu harus menjauh darinya, ya. Aku tidak mau kamu sampai terluka karena dia, Haninbia!" ucap Brandon sambil mengusap-usap kepala istrinya.


"Tidak ada dendam membunuh, tapi kamu terus mengultimatum aku agar menjauh darinya?" Bia mengernyit heran. "Sebenarnya, hubungan apa yang terikat di antara kalian, sih?" Bia berdecih, dia benar-benar dibuat bingung oleh penjelasan Brandon yang bukannya menenangkan, malah membingungkan.


"Tidak ada ikatan hubungan apapun di antara kami. Dia gay, Bia. Bisa dipastikan dia itu menyukaiku! Makanya, aku illfeel setiap kali melihat dirinya. Kau tau, dia bisa melakukan apa saja untuk bisa mendapatkan keinginannya!" terang Brandon.


Sungguh, semua itu di luar nalar Haninbia. Bagaimana bisa seorang pria tampan berbadan kekar malah menyukai suaminya? Ini sungguh sebuah fakta yang sangat-sangat mengejutkan. Dan, ya, Bia menjadi jijik pada Ben.


"Dia bisa melakukan apa saja? Apa maksudnya?" tanya Bia, dia ingin semuanya diperjelas sekarang.


"Kau ingat, saat hari dirimu pertama kali bertemu dengannya?" tanya Brandon. Ingatan Bia melanglang buana tatkala dirinya mendapat beberapa tembakan yang mengejutkan. Untung saja, tembakan itu tidak mengenai dirinya. "Kau ingat nama seorang wanita yang dia singgung?" Brandon kembali mencoba mengingatkan Bia akan kenangan lampau.


"Tentu saja aku ingat. Itu hari paling menakutkan untukku. Hampir saja aku mati sia-sia!" Bia menghela nafas panjang. "Septy, kan? Aku ingat sekali dia menyebut nama Septy!" seru Bia.


"Itu karena dia cemburu padamu. Aku yakin, saat itu kamu pasti berpikir kalau aku dan dia memiliki dendam seperti seorang mafia, kan?" Ujaran Brandon hanya ditanggapi dengan kekehan oleh Bia.


"Dia juga membunuh Septy. Dia mengira, aku dan Septy memiliki hubungan spesial. Padahal, sudah jelas itu tidak benar!" Brandon menghela nafas panjang. Dia merasa serba salah.


Aku yakin dia juga memiliki niat yang sama pada Bia. Aku harus menjauhkan Bia dari orang seperti itu. Tapi, aku bingung bagaimana cara menjauhkan Ben dari kehidupanku selamanya!" batin Brandon, helaan nafasnya terdengar berat. Dia memang sedang mengemban sesuatu yang berat di benak dan pikirannya.


"Tapi, orang seperti itu sangat mengerikan. Di mana kau mendapatkan orang seperti itu, ha?" Bia menghela nafas hingga beberapa kali.


"Maka dari itu, lebih baik kita menjauh darinya. Entahlah... aku hanya berteman saja dengannya. Awalnya aku tidak tahu kalau dia itu gay," ucap Brandon.


"Lalu, bagaimana cara kita menjauhkan Ben?"

__ADS_1


"Ah! aku punya cara!" seru Bia sambil mengedipkan sebelah matanya pada sang suami.


"Cara apa? Coba bisikan padaku." Brandon mendekatkan dirinya pada Bia, meminta wanita itu untuk membisikkan rencana yang sudah dirancang gadis itu.


Dengan senang hati Bia mendekatkan wajah mereka. Membisikan sesuatu yang membuat Brandon menganga tak percaya istrinya bisa memikirkan rencana seperti itu.


"Kau yakin? Di mana kita harus mendapatkannya?" raut wajah Brandon menyiratkan kegusaran.


"Tenang saja. Temanku banyak kok," jawab Bia sambil cengir kuda dan diangguki pasrah oleh Brandon.


"Tidurlah! Besok kita harus bangun pagi-pagi sekali." Brandon mengelus puncak kepala istrinya lembut, membawa Bia pada rasa kantuk dan akhirnya tertidur pulas.


...----------------...


Sinar mentari pagi menembus gorden kamar Bia dan Brandon. Pagi ini cahaya begitu terik, siap memicu semana orang-orang yang akan beraktivitas. Namun, sepasang suami istri yang masih bergelut dalam selimut, masih enggan untuk bangun. Pelukan mereka saling mengerat satu sama lain. Perasaan nyaman, membawa mereka ke alam mimpi yang lebih dalam lagi.


Sampai akhirnya, dering telepon Brandon memaksa mata mereka untuk terbuka.


"Paman, kenapa belum keluar dari kamar, sih? Kami sudah menunggu kalian di meja makan!" sentak Hansel, begitu kesal lantaran harus menunggu padahal perutnya sudah pemberontak minta diisi.


"Kalian makan saja duluan. Sebentar lagi kamu turun," ujar Brandon, tak ingin semua orang menunggunya. Brandon meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.


"Tidur kami benar-benar nyenyak," gumamnya.


"Bi? Bangun!" Brandon menggoyangkan lengan Bia.

__ADS_1


"Sudah jam berapa?" tanya Bidan dalam kantuknya.


Bia terduduk, matanya masih menyipit. Karena sibuk bercerita, mereka sampai telat tidur dan berakhir telat bangun juga.


"Kita mandi bersama saja. Hitung-hitung untuk menghemat waktu," ajak Greya yang langsung ditanggapi anggukan oleh Brandon.


"Hanya sekedar mandi saja. Tidak ada yang lain!" Bia kembali menegaskan.


Wajah Brandon yang awalnya antusias, seketika langsung berubah kecewa. Bia bukan tidak tahu apa yang dipikirkan oleh suaminya. Namun, mereka memang harus mempersiapkan waktu agar tidak membuat yang lainnya menunggu terlalu lama.


"Ayo, Brandon!"


Cara berjalannya saja lunglai. Brandon kehilangan semangat pagi.


Keduanya benar-benar hanya melakukan ritual mandi saja, tidak ada jatuh cinta seperti yang diharapkan Brandon.


Selesai berpakaian, Bia dan Brandon turun dan menemui semua orang yang sudah menunggu mereka di ruang tv.


"Lama sekali?" sinis Ben, menarik perhatian semua orang Tetapi dia tidak peduli sedikit pun. Melirik Bia dari atas ke bawah.


"Semalam kami terlambat tidur. Makanya sampai kesiangan juga," jawab Bia apa adanya dan terkesan biasa saja. Dia tidak memperjelas lewat tindakannya, bahwasanya Bia mengetahui penyimpangan Ben.


"Memangnya ngapain saja?" Ben masih sangat penasaran tetapi tidak ditanggapi oleh Bia yang langsung duduk di samping Brandon dan melahap sarapannya.


"Kak Ben benar-benar ikut dengan kami?" tanya Arga, yang hanya ditanggapi dengan anggukan oleh Ben, yang sejak tadi terus menatap Brandon dan Bia lekat.

__ADS_1


"Kakak kenapa terus memperhatikan mereka? Apa lapar juga?" tanya Arga, sejak tadi dia juga selalu memperhatikan Ben.


*BERSAMBUNG*


__ADS_2