
"Terima kasih karena sudah memberikan kebahagiaan yang begitu besar, Bi!" ujar Brandon, binar kebahagiaan tak luput dari sorot matanya.
"Ini kebahagiaan untuk kita berdua, Sayang!" ucap Bia, mengusap lembut pipi anaknya yang masih begitu merah.
"Aku mencintaimu!" Brandon mengecup puncak kepala Bia. Dia sangat bahagia dengan kelahiran buah hati mereka.
"Kamu mau memberikan nama apa untuk putri kita?" tanya Bia, mendongak menatap Brandon yang tersenyum penuh makna.
"Aku sudah menyiapkan sebuah nama. Entah ini bagus atau tidak bagimu. Kalau kamu kurang suka, kita bisa gantikan dengan nama lain kok," ujar Brandon. Sangat berhati-hati untuk menamai anak pertama mereka.
Bia belum berkomentar. Dia masih menunggu Brandon menyebutkan nama untuk anak mereka.
"Emily. Bagaimana? Apa kamu setuju?" tanya Brandon, menatap Bia yang sedang berpikir.
"Hanya Emily saja?" tanya Bia.
Brandon mengangguk. "Hanya Emily saja yang aku pikirkan. Mungkin, kamu bisa menambahkannya?" ujar Brandon membuat Bia tertawa.
"Emily Brandon?" tanya Bia, menaikkan sebelah alisnya meminta pendapat suaminya.
"Cukup bagus!" Brandon menjentikkan jarinya.
"Selamat datang, Emily Brandon!" ucap Bia dan Brandon secara bersamaan.
"Sepertinya yang menunggu di luar sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam," ucap Brandon.
"Benar sekali. Persilakan saja mereka masuk, melihat baby kecil kita ini," ujar Bia sambil tersenyum.
Seperti permintaan Bia, Brandon bergegas membukakan pintu dan mempersilakan semua keluarganya masuk ke dalam.
"Kak, kalian bisa masuk. Tapi, gantian, ya!" ucap Brandon, pada Embun, Belle, dan juga Rena.
"Tentu kami dulu yang akan masuk!" ketiga wanita itu langsung masuk ke dalam, menemui Bia yang masih menggendong Emily dalam dekapannya.
"Bia ... selamat!" ucap Embun, langsung memeluk Bia, adik iparnya dengan erat.
"Terima kasih, Kak."
"Selamat, kamu sudah melahirkan seorang bayi yang cantik, Bi!" ucap Rena dan Belle, bergantian memeluk adik ipar mereka yang kini tengah dirundung kebahagiaan.
"Yang lainnya mana?" tanya Bia?
"Masih di luar. kata Brandon, kami masuknya gantian saja. Mungkin, dia takut tidur pulas putri kecilnya ini terganggu," seloroh Rena.
__ADS_1
"Maklum, baru pertama jadi Ayah. Dulu, Daniel juga seperti itu," timpal Belle.
"Siapa namanya?" tanya Embun gemas.
"Emily, Kak," jawab Bia sambil tersenyum.
Embun sangat gemas dengan Emily, ingin sekali dia menciumi pipi gembul bayi itu.
Saat mereka masih asik berbincang-bincang, suara deritan pintu menarik perhatian keempat wanita itu. Keempat wanita itu sama-sama terkejut saat melihat kedatangan seseorang yang paling tak mereka sukai.
"Ma-ma?" panggil Bia, dia berucap tanpa suara.
"Untuk apa kamu datang ke sini?" hardik Belle, begitu tak suka dengan wanita di depannya.
"A-aku hanya ingin melihat Bia dan cucuku saja," jawabnya sambil gemetaran.
"Halah! Sok baik banget sih kamu? Kamu pikir, kami percaya begitu saja? Lagian, siapa sih yang mengizinkan kamu masuk ke sini? Jangan-jangan orang di luar sudah pada pergi semua, ya?" Belle berdecak, menatap berang Rita yang tertunduk malu.
Embun memperhatikan keadaan Rita dengan seksama. Dia mulai mengerti dengan diamnya Rita.
Embun menengok pada Belle dan Rena yah masih bersungut kesal karena perilaku terakhir wanita itu.
"Bia, sepertinya ada yang ingin dibicarakan Mama kamu," ujar Embun, membuat Rita menoleh dan hanya dibalas dengan senyuman tipis oleh Embun.
"Benarkah, Ma?" tanya Bia, langsung dijawab dengan anggukan Rita.
"Kak, jangan biarkan dia di sini. Bagaimana kalau dia menyakiti Bia dan Emily?" bantah Belle tak terima.
Sejenak, Embun kembali memperhatikan raut wajah Rita yang masih bungkam.
"Aku percaya dia tidak akan menyakiti mereka, Belle. Ayo, kita keluar!" Embun kembali mengajak kedua adiknya keluar, memberikan ruang untuk Rita.
Sepertinya Embun, Belle, dan Rena, Rita masih saja diam dengan kepala yang tertunduk.
"Ma, duduklah!" Bia menepuk pelan bangku di sampingnya."Katakan saja apa yang ingin Mama bicarakan," ucapnya lagi.
Perlahan-lahan langkah Rita mulai mendekat, tanpa basa-basi dia langsung memeluk dan menangis di dalam pelukan Bia. Bia mengusap pelan punggung Rita, dia juga tidak bisa menahan laju air matanya yang terus mengalir tanpa henti.
"Bia, Mama sangat bersalah padamu. Mohon maafkan Mama, Bi!" suara Rita terdengar bergetar. Air matanya membasahi pundak Bia.
"Ma, Jagan menangis... duduklah, Ma!" pinta Bia, dia tidak tega melihat Rita yang terus menangis sesegukan.
"Maafkan Mama, Bi!" Rita terus menerus meminta maaf pada Bia, anak yang selama ini dia telantarkan.
__ADS_1
"Mama tidak memiliki kesalahan apa pun kok. Jika pun ada, semua itu sudah Bia maafkan. Seburuk apa pun sikapmu padaku dulu, aku tidak akan pernah memutuskan hubungan di antara kita. Aku tetap anakmu ... meskipun terkadang aku begitu sakit hati jika mengingat kenangan dulu, tapi tidak ada yang bisa aku lakukan selain memaafkan, Ma." Bia ikut menangis. Dadanya terasa begitu sesak. Bagai ribuan sembilu sedang menusuknya tanpa ampun.
"Kamu sudah memaafkan Mama?" Rita masuk tidak mau melepaskan pelukannya pada Bia.
Bia mengangguk sebagai jawaban.
"Maaf karena dulu Mama sudah meninggalkan kamu demi mencari kebahagiaan sendiri, mencampakkan kamu dan tidak menganggap kamu ada. Untung saja ada Wila yang mau mengasuhmu sampai kamu--"
"Sssttt!" Bia melarang Rita untuk lanjut bicara. "Jangan ungkit kenangan lama lagi, Ma. Semuanya sudah berlalu, tidak perlu diingat lagi. Yang penting, sekarang dan ke depannya kita bisa hidup lebih baik dari itu," tukas Bia, memandangi lekat wajah Rita yang sudah mulai menua. Baru kali ini, Bia dan Rita bisa berinteraksi dengan baik lagi.
"Terima kasih, Bi! Mama sangat senang karena sudah mendapatkan maaf dari kamu. Mama mendengar kabar kalau kamu sudah melahirkan, kamu sudah menjadi ibu. Mama merasa bersalah, tidak bisa menjadi Ibu yang baik," ujar Rita.
Saat mereka masih berbincang, Emily menangis. Mendengar tangisan anaknya, Brandon langsung masuk dan bertanya.
"Bia, kenapa Emily menangis?"
"Tidak apa-apa kok. Kamu sigap sekali?" seloroh Bia, mengejek suaminya.
"Seorang Ayah memang harus seperti itu, bukan?" celetuk Brandon senyam-senyum.
"Dia haus... tolong buatkan susunya. ASIku belum keluar," pintanya pada sang suami.
"Baiklah."
"Biar Mama saja yang buatkan, Bi. Mungkin, suami kamu belum terlalu mahir. Nanti rasanya tawar, cucu Mama tidak mau meminumnya," ujar Rita sambil bergurau.
"Haha... Baiklah, Ma. Sekalian ajari suamiku, ya!" pinta Bia.
Rita mengangguk sambil tersenyum.
Brandon juga menurut. Dia memperhatikan saat Rita membuatkan susu untuk Emily. Dari mulai takaran, air apa yang harus dipakai. Semuanya sudah terpatri dalam memori Brandon.
"Terima kasih, Tuhan... aku tidak menyangka, Engkau memberikan kebahagiaan berkai lipat seperti ini. Aku pernah berada dalam keterpurukan, kesedihan, dan kekecewaan karena orang terdekatku, Mama. Namun, sekarang kau telah membalikkan hatinya pada kebaikan lagi. Kebaikan yang Engkau berikan, sangat aku syukuri. Semoga, Mamaku tetap akan sebaik ini sampai kapan pun!" Batin Bia, banyak-banyak mengucapkan syukur pada sang pencipta.
*TAMAT*
Terima kasih untuk kalian semua. Tetap mau membaca novel ini walaupun aku sempat Hiatus beberapa kali. Jujur, aku sangat bahagia saat kalian selalu berkomentar tentang menantikan Novel ini. Aku kebanyakan malasnya, sibuk ngedrakor dan, sibuk sama Real life yang sering tidak baik-baik saja:) Maaf jadi curhat.
Semoga kalian enggak pernah bosen baca ceritaku yang kadang tidak sesuai ekspektasi kalian.
Sekalian, aku mau promosikan Novel baruku yang bertema mafia. Judulnya Istri Pilihan Tuan Mafia.
Kalian bisa baca dulu tiga bab awal. Kalau suka tolong berikan dukungan dan tap ❤️
__ADS_1
Kali ini aku ga bakal Hiatus lagi, soalnya mau kejarrrr jumkat, wkwk🤣
Sekali lagi, terima kasih untuk dukungan kalian semua. Aku sangat berharap kalian berkenan untuk singgah di novel baruku. Bye bye!