
"Bibi Wila? Kamu ... kenapa?" hanya kata-kata itu yang mampu terucap dari bibir Bia yang mendadak kelu.
Perlahan Bia berjalan semakin mendekat pada Dokter Handy. Brandon tau, saat ini wanitanya sedang tidak baik-baik saja. Jadi, dia berinisiatif menggenggam erat tangan wanita itu, menyalurkan kehangatan dan kekuatan agar Bia tetap bisa tegar melihat keadaan Bibinya yang amat berbeda seperti biasanya.
"Dokter Handy, bisakah kamu menjelaskan, apa yang terjadi pada Bibiku?" air bening lolos begitu saja dari pelupuk matanya.
Dokter Handy melihat raut wajah Wila, wanita itu menggeleng pelan, memberikan tanda kalau Dokter Handy tidak diperbolehkan menceritakan apapun tentang kesehatan dirinya.
"Sampai kapan, Bi? Sampai kapan Bibi mau merahasiakan ini semua dariku?" akhirnya, isakan tangis terdengar juga. Rasanya begitu sakit, ketika dia tidak dipercayai untuk berbagi keluh kesah orang terdekatnya. Haruskah seperti ini? Haruskah Bibinya menanggung semuanya sendiri.
Bia menatap Bibinya yang terbaring lemah dengan nanar, sudah terbaring lemah, untuk berucap saja tidak mampu, tetapi masih memilih merahasiakan semuanya darinya? Sebenarnya sepenting apakah dirinya di dalam hati bibinya itu?
Kini, tatapan Bia beralih pada Dokter Handy yang masih menggenggam erat jemari Wila.
"Kenapa kau masih diam? Seharusnya kau menjelaskan kondisi terkini pasienmu pada anggota keluarganya, kan? Bukankah kau yang mendesakku untuk datang kesini? Lalu, kenapa sekarang kau malah terdiam membisu? Kau menyetujui permintaan Bibiku yang tidak masuk akal itu?" sentak Bia, menatap sendu pria yang seumuran dengan Bibinya itu.
Dokter Handy menggelengkan kepalanya, "Tidak, Bia, aku akan menjelaskan kondisinya padamu," kekeuh Dokter Handy, tidak mempedulikan Wila yang sepertinya terus merengek agar pria itu tidak menceritakan pada keponakannya.
"Bibimu mengidap kanker paru stadium akhir. Menurut prediksi kami, mungkin hidupnya sudah tidak bertahan lama lagi," terang Dokter Handy. Meskipun dengan berat hati, dia tetap terpaksa mengatakan yang sebenernya.
Bia menutup mulutnya. Tidak menyangka, Bibinya akan menghadapi kondisi seperti ini. Penyakit ini begitu serius, tetapi kenapa Bibinya tidak mau menceritakan apa yang dia alami?
"Kamu jangan salah paham, Bi. Wila tidak mau menceritakan padamu, karena dia tidak mau membebanimu," ujar Dokter Handy berusaha membantu menjelaskan agar Bia tidak jadi salah paham.
Brandon menggengam erat tangan Bia, wanita itu menoleh ke samping dengan mata sembab. Brandon mengulas senyum, agar wanita itu tidak lupa kalau dia selalu berada di sampingnya untuk mendampingi istrinya itu.
__ADS_1
"Aku tidak perduli dengan alasan apapun itu. Bagiku, hal terpenting yang harus aku lakukan sekarang adalah merawat Bibiku. setelah dia benar-benar sembuh nanti aku akan menuntut penjelasan yang akan membuatku puas!" ujar Bia. Sebenernya, hatinya tak begitu tegar. Tapi, tidak ada yang bisa dia lakukan kecuali mencoba ikhlas dengan keadaan.
"Aku akan merawat Bibiku, Dok. Terima kasih telah memintaku datang ke sini," ucap Bia, dia memperlihatkan wajah seriusnya, agar Wila tidak terlalu terbawa kerapuhan hidupnya. Bagi pasien, sebuah kebahagiaan itu jauh lebih berarti daripada tangisan keluarga yang akan membuatnya ikut lemah. Menjaga ketenangan hati mereka itu lebih penting. Memangnya, siapa yang tidak terluka ketika melihat orang terpenting terbaring lemah dan terlihat rapuh? Sedikit banyak, kita pasti akan menangis. Tetapi, usahakan untuk tidak menangis di depan mereka. Yang mereka butuhkan support yang membuat mereka menjadi lebih kuat, bukan air mata yang memperlihatkan kepada mereka seolah-olah mereka tidak ada lagi harapan untuk sembuh. Karena aku pernah mengalami itu.
"Sama-sama." hanya itu yang bisa diucapkan Dokter Handy. Dia juga ingin Wila sembuh, pasiennya yang keras kepala itu telah menggait hatinya. Dia memutuskan untuk keluar, menunggu Bia datang ke ruangannya dan menjelaskan kondisi terkini Wila.
"Uncle, kalau kamu lelah dan mau pulang, pulanglah! Aku harus di sini, menemani Bibiku," ucap Bia, dia tidak mau merepotkan orang lain dengan kesibukannya sendiri.
"Aku akan menemanimu. Jika ada yang diperlukan, kau bisa mengatakannya padaku," ucap Brandon, menolak untuk pulang.
"Tapi, kamu bisa mengganti panggilan aneh itu, kan? Jangan sampai Bibimu mendengar ketika kau memanggilku dengan panggilan aneh itu," celetuk Brandon yang dari awal tidak suka dengan panggilan yang menurutnya sangat aneh itu.
"Kamu maunya aku memanggilmu apa?" tanya Bia dengan wajah datarnya.
"Sayang...!" seru Brandon dengan suara yang begitu mendayu-dayu, tetapi itu sangat menggelikan di telinga Bia.
"Coba kamu tes panggil," pinta Brandon, memasang telinganya lebar-lebar agar bisa mendengar penuturan Bia dengan jelas.
"Sayang...?" Meski merasa geli dan kesal, dia tetap menuruti apa yang diminta oleh Brandon. Dia juga menirukan suara Brandon tadi.
"Ya, begitu!" Daniel bersorak senang.
"Tapi, itu sangat menggelikan," bantahnya.
"Tidak. Seperti itu saja," ucap Brandon. "Sudahlah, jangan terlalu banyak berpikir. Bibimu sedang memperhatikan kita. Lebih baik, kamu temani dia saja. Aku akan duduk di sofa," ujar Brandon.
__ADS_1
Bia menganggukkan kepalanya setuju. Dia menghampiri sang Bibi yang sejak tadi melihat ke arahnya sambil tersenyum senang dengan interaksi Bia dan Brandon.
Kuharap, panggilan itu akan melekat selamanya. Jangan Uncle, uncle, uncle! Aku merasa jadi pria paling tua!
Bia duduk di samping Wila. Wanita itu terlihat lemah dan pucat. Sangat berbeda dengan Wila yang biasanya, terlihat cantik dan berseri-seri.
Bia menggenggam tangan wanita yang telah membesarkannya itu, mengusap punggung tangannya sambil sesekali menciumnya.
"Bibi, cepatlah sehat. Aku merindukan bercanda denganmu lagi," ucap Bia sambil menghapus air matanya dengan kasar.
"Bia?" panggil Wila dengan suara putus-putus. Terlihat sekali wanita itu memaksakan kondisinya yang lemah untuk bicara.
"Ya. Bibi memerlukan sesuatu?" tanya Bia.
"Bibi harap, kamu bisa menjadi lebih tegar lagi, ya. Dan, Bibi mau, pernikahanmu dengan Brandon juga bertahan lama. Jangan sia-siakan dia selagi kamu memilikinya. Jika dia tidak mencintaimu, gapailah cintanya agar dia menyukaimu," ujar Wila dengan nafas tersengal-sengal.
"Kejarlah apa yang kamu inginkan, jangan sampai menyesal dikemudian hari," imbuhnya lagi.
"Bibi, apa maksudmu?" tanya Bia mengerutkan keningnya.
"Bibi tahu, pernikahan kalian hanya pura-pura untuk menyenangkan Bibi, kan? Setelah Bibi tiada nanti, ubahlah pernikahan pura-pura ini menjadi pernikahan yang serius, Bia!"
-Bersambung-
Jangan lupa untuk tinggalkan komentar, gift, dan vote sebanyak-banyaknya. Jangan lupa beri rating 5 ya guys 🙏😁🙏
__ADS_1
Terima kasih ❤️❤️