
"Aku takut, jika aku sedang bermain dan tiba-tiba leher burung camarmu patah, bagaimana? Aku kan tidak bisa menikmatinya lagi sampai kapan pun. Lebih baik tidak merasakannya, tapi sampai kapan pun aku masih bisa dibuat melayang dengan gaya yang lain," tutur Bia.
"A-apa? Leher burung camar?" tanya Brandon terkesiap.
"Hu'um!" jawab Bia penuh keyakinan.
"Jadi, kau takut leher burung camarmu patah, dan tidak mau meneruskan permainan ini lagi?" Brandon bertanya dengan serius.
Bia menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Aku takut, Uncle," cicitnya melemah.
"Kalau begitu, biar aku yang goyang. Kau cukup diam dan menikmati saja," ucap Brandon.
"Hah?" Bia melongo.
Brandon memegang pinggang Bia, Bia menundukkan sedikit punggungnya hingga kedua bukitnya mengenai wajah Brandon.
Brandon mengulangi permainan mereka. Dia menghentakkan senjata laras panjangnya ke dalam lembah milik Bia. Bia merasakan sesuatu yang berbeda, sebuah kenikmatan yang membuatnya kembali mengudara dengan perasaan yang menyenangkan.
"Uncle, rasanya ... lebih enak!" serunya dengan suara tertahan.
Seutas senyuman samar terukir di bibir Brandon, mendengar lenguhan dan ******* yang keluar dari mulut Bia merupakan sebuah kesenangan untuknya.
"Kau akan merasakan yang lebih nikmat lagi," ucap Brandon, dia menyesap ujung bukit kembar istrinya membuat Bia semakin mengerang nikmat.
"Uncle, uhh... aku sudah tidak tahan...." ucapnya tanpa sadar ikut mengusap-usap pucuk dada Suaminya dengan jempolnya.
"Kamu sudah mau keluar?" tanya Brandon.
"Hu'um. Aku sudah mau keluar, Uncle," bisiknya dengan suara parau yang terdengar erotis.
Brandon lebih mempercepat permainannya, menguatkan hentakannya hingga mempercepat Bia mencapai puncaknya.
"Terima kasih karena telah memberitahukan rasa yang tidak pernah aku rasakan selama ini," ucap Bia, dia menarik selimut dan menutupi seluruh tubuh polosnya, hanya tinggal kepalanya yang terlihat.
"Sama-sama," jawab Brandon. Mau mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan Bia, tapi terlalu malu.
Sepertinya sudah banyak wanita yang ditidurinya. Makanya dia sangat pintar cara membuat sesuatu menjadi lebih nikmat.
"Kamu mau langsung tidur?" tanya Brandon.
__ADS_1
"I-iya. Pinggangku sudah hampir patah," jawab Bia sembari memegangi pinggangnya di dalam selimut.
"Pinggangmu sakit? Mau aku bantu pijat?" tanya Brandon serius.
"Ti-tidak perlu, Uncle. Mungkin hanya sakit sesaat saja. Besok pasti sudah lebih baik," jawabnya langsung membalikkan badan membelakangi Brandon.
"Sangat menggemaskan!" ucap Brandon.
*****
Pagi hari, mereka berada di meja makan dengan saling diam. Hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring yang meramaikan suasana. Bia makan dengan wajah tertunduk. Jika mengingat tentang pergulatan panas mereka semalam, ******* dan lenguhan yang keluar dari mulutnya, benar-benar sangat memalukan.
"Kebetulan hari ini aku singgah ke kampusmu. Kamu mau sekalian aku antarkan?" tanya Brandon sekedar menawari.
"Ti-tidak. Antarkan saja aku sampai di pemberhentian bus seperti biasanya," tolaknya.
"Baiklah." Brandon hanya pasrah.
Brandon tahu kenapa bia berperilaku seperti itu, tentu saja karena dia merasa malu. Dia mengajak Bia berangkat bersama juga hanya ingin lebih dekat dan mematahkan pembatas yang membuat wanita itu merasa malu dan canggung.
Buang jauh-jauh ingatan itu, Haninbia! Kau memang sangat memalukan!
Setelah makan, Bia melakukan rutinitas biasanya, mencuci piring-piring agar sepulang dia dari kampus nanti, pekerjaannya tidak bertambah.
"Aku yakin. Jangan menanyakan pertanyaan yang sama berulang kali, Uncle," ketus Bia.
Brandon memberhentikan mobilnya tepat di depan Halte, tanpa mengucap sepatah kata pun Bia langsung meninggalkan Brandon.
Di sudut jalan, ada sebuah mobil yang sedari tadi sudah berdiri di sana. Dari dalam, seorang wanita terus mengawasi Bia yang turun dari mobil milik Brandon.
"Sepertinya, kau belum benar-benar mengerti apa kesalahanmu. Tampaknya, aku harus menghukummu lebih keras lagi," gumam wanita itu.
Bia duduk di samping seorang wanita muda yang terlihat lesu. Di tangannya terdapat sebuah nampan yang berisi dagangannya. Bia memperhatikan wanita muda yang terlihat kelelahan dan lesu tersebut, dia memberanikan diri untuk bertanya.
"Maaf, kenapa kamu hanya diam? Kamu sedang berdagang, kan? Kenapa tidak menjajakan barang daganganmu pada orang-orang yang berada di halte ini?" tanya Bia.
Wanita muda itu mendengus panjang, menatap Bia sekilas lalu kembali menatap ke jalanan yang terdapat banyak kendaraan mewah berlalu-lalang.
"Aku sudah menawarkan daganganku pada mereka. Tapi, mereka menolaknya dengan alasan akan bekerja, takut mulut mereka jadi bau," jawabnya dengan lesu.
__ADS_1
"Bau? Memangnya apa yang kamu jual?" tanya Bia dengan rasa penasaran yang menggebu.
"Jengkol, Kak. Kakak mau membelinya? Pasti tidak, kan?" seru wanita itu kembali lesu.
"Hah? Hahaha. Bukannya tidak mau, aku memang tidak bisa memakan jengkol. Kamu ... jangan tersinggung, ya," ucap Bia tak enak hati.
"Tidak apa-apa kok, Kak. Itu hal yang biasa," jawabnya.
"Sini, biar aku bantu tawarkan pada mereka," ajak Bia dengan semangat menggebu-gebu, berharap bisa membangkitkan semangat wanita muda di sebelahnya juga.
"Tidak perlu, Kak. Aku sudah menawarkannya sekali. Setelah ditawarkan dua kali, mereka tetap tidak akan mau."
"Kita mana tau hasil apa yang kita dapatkan jika belum berusaha semaksimal mungkin." Bia tetap terbakar api semangat.
"Baiklah."
Saat Bia dan wanita muda itu hendak bangkit untuk menawarkan barang dagangannya, Bis tiba dan menghalangi niat baik Bia.
"Tuhan memang belum memberikan rezeki untukku hari ini, Kak. Terima kasih untuk tawaranmu," ucap wanita muda itu.
"Ikutlah denganku. Aku akan pergi ke kampus. Kita bisa menawarkan daganganmu di sana," ujar Bia.
"Tapi, Kak, aku ti--"
"Bagaimana Tuhan bisa memberikan rezekimu hari ini, sedangkan kau terlalu cepat menyerah saat menjemput rezeki yang sedang menunggumu itu. Tetaplah semangat!"
Wanita muda itu tersenyum dan mengangguk, dia membernarkan apa yang dikatakan oleh Bia.
"Ayo, aku ikut denganmu."
Mereka sama-sama menaiki bis. Setelah beberapa menit melalui perjalanan dan melewati beberapa tikungan, mereka tiba di tujuan mereka.
"Ayo, kita tawarkan pada mereka semua!" seru Bia dengan semangat yang menggebu-gebu.
"Ayo, Kak!" sahut wanita muda itu mengekor di belakang Bia yang mengaitkan jemari mereka.
"Pak, jengkolnya, Bu? Enak banget untuk lauk sarapan!" tawar Bia.
"Pak, Bu, jengkolnya? Bisa menambah kemesraan," ucap Bia sembari cengengesan.
__ADS_1
-Bersambung-
Jangan lupa berikan Iike, komentar, hadiah, dan vote. Berikan rating 5 juga ya. Terima kasih 🙏🥰