
"Haninbia Asfara! Ckckck, seharusnya kau cukup tahu diri siapa dirimu ini. Sehelai rambut pun tidak pantas berada di dekat Brandon. Tapi, malah berani mencoba menggoda Brandon? Aku salut padamu. Maukah kamu mengajariku ilmu tidak tahu malu ini?!" sinis Clara semakin memojokkan Bia dengan kata-kata nyelekitnya.
Bia memutar kedua bola matanya, dia sejak tadi hanya diam tak menanggapi apapun. Bukan karena dia takut, tapi karena dia enggan untuk meladeni perkataan-perkataan menyakitkan tak penting yang dilayangkan oleh Clara untuknya.
"Aku yakin jika kau yang mengajariku, kemampuanku bisa langsung meningkat pesat," imbuhnya lagi, seringaian puas tercetak jelas di bibirnya, melihat Bia hanya diam, Clara berpikir kalau Bia takut padanya.
"Huh!" Bia melenguh nafas panjang. Dia melirik Clara yang bersedekap dan menatapnya remeh.
"Sudah siap bicaranya?" potong Bia, membuat Clara melongo. "Anda memanggil saya kesini hanya untuk membicarakan perihal yang tidak penting seperti ini?" tanya Bia, matanya menatap Clara tajam, tidak ada rasa takut sedikitpun di dalamnya.
Bia sudah cukup pusing dengan masalah yang terus menggerayangi pikirannya, sekarang malah ada yang membuatnya lebih pusing.
"Kau berani berbicara seperti itu padaku?" tuding Clara, seolah-olah karena dia dosen di kampus itu, semua orang harus menghormatinya walaupun dia meremehkan orang lain saat itu.
"Maaf, Clara. Kurasa sekarang kita sedang berada dalam hubungan permusuhan, kau yang memulainya, apa kau tidak ingat?!" sentak Bia menatap tajam Clara yang masih bersedekap di depannya.
"Kau takut tidak bisa mendapatkan Brandon karena diriku? Berarti kau merasa kalah saing denganku?" ucap Bia mencemooh. "Ternyata kau sadar juga, kau tidak sebanding denganku!" imbuh Bia menambah minyak ke dalam Bara api.
"Apa maksudmu? Jangan terlalu lancang saat berbicara!" kecam Clara, dia tidak terima direndahkan oleh orang lain, terlebih lagi oleh saingan cintanya.
"Lalu, kenapa selama ini kau selalu menemuiku dan memperingatkan aku? Pasti karena kau menganggapku sebagai penghalangnya, kan? Beranggapan selama ada aku, kau tidak akan bisa memiliki Brandon. Artinya ... kau menganggap aku lebih baik dibanding denganmu. Ckckck, sungguh kasihan!" cebik Bia membuat Clara semakin kesal.
Clara melongo, dia tidak menyangka Bia berani melawannya seperti itu. "Kau!" Clara menunjuk wajah Bia dengan kesal.
"Kalau begitu, aku juga tidak akan sungkan lagi."
"A-apa maksudmu?" tanya Clara masih gagal loading.
"Apalagi? Tentu aku juga mau ikut berpartisipasi dalam perebutan perhatian dan cinta Brandon!" celetuk Bia sengaja memancing huru-hara di antara mereka berdua.
Bia sudah cukup diam, tapi wanita itu selalu saja mengusiknya dengan berbagai alasan yang menurutnya tidak masuk akal.
__ADS_1
"Coba saja jika kau berani!" ancam Clara sambil menyipitkan matanya.
Boa berdiri dari duduknya, "lain kali jika mengundang tamu, kau harus lebih perhatikan dengan menyajikan minuman segar, ya!" omel Bia. "Dasar pelit!" cibirnya lagi.
Tok
Tok
Tok
"Sepertinya kau kedatangan tamu baru. Ingat, jangan lupa berikan tamumu minum!" kecam Bia sekali lagi sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu.
Pintu ruangan Clara kembali diketuk oleh seseorang dari luar, namun ketukan kali ini terdengar buru-buru dan tidak sabaran. Clara tidak menyahut ketukan itu dia masih fokus dengan Bia yang membuatnya naik darah.
Brak!
Pintu ruangan Clara didobrak dengan kasar Mata Clara dan Bia terbelalak saat melihat kedatangan Brandon yang tiba-tiba sudah berdiri di depan Bia.
"Bra-Brandon? Kau mencariku?" tanya Clara yang terlihat antusias dia membenarkan rambutnya yang tidak acak-acakan agar terlihat lebih cantik di mata Brandon.
"Aku sudah mencarimu kemana-mana dan tidak menemukanmu. Ternyata kau memang benar benar berada di sini," ucap Brandon.
"Ada apa?" tanya Bia ketus sambil menepis kasar tangan Brandon.
"Ada yang ingin aku bicarakan. Ayo ikut denganku sekarang juga," sahut Brandon kembali meraih tangan Bia hal itu tidak luput dari perhatian Clara yang memanas di sudut ruangan.
"Baiklah aku akan ikut pergi denganmu," jawab Bia sambil memeluk pinggang Brandon, tapi matanya melirik ke arah Clara yang sudah memanas dan berapi-api.
"Sial kau Bia! Aku akan mempersulitmu!" teriak Clara melemparkan barang-barang di dekatnya.
*****
__ADS_1
"Katakan!" ucap Bia ketus, sejak keluar dari ruangan Clara tadi dia sudah melepaskan pelukannya agar tidak dilihat oleh teman-temannya yang lain.
"Bibimu mengajukan pernikahan kita menjadi lebih cepat?" Bia tidak tahu, Brandon sedang bertanya atau sedang mengejek.
"Kau ... sudah tau?"
"Ya, saat Bibimu datang tadi, aku juga berada di rumah dan mendengarkan semuanya!" sahut Brandon masih dengan suara dan raut wajah batu seperti biasanya.
"Jadi, kau mencariku keliling segitiga Bermuda hanya untuk membahas perihal ini?" tukas Clara, dia tersenyum menertawakan dirinya sendiri.
Brandon diam, dia menatap wajah Bia yang juga tidak berekspresi, bahkan suaranya sangat dingin padanya.
"Kalau kau sudah membatalkannya dengan Bibiku, untuk apa kembali mencariku, Brandon? Semuanya sudah selesai, untuk apa kembali memperjelas padaku? Itu semua tidak penting untukku. Kau sudah menemuiku dan memperjelas semuanya, aku masih ada urusan lain dan harus pergi sekarang!" Bia membernarkan tas jinjingnya dan hendak pergi.
"Aku belum mengatakan apapun, Haninbia!" sergah Brandon.
Bia menoleh, namun kali ini dia tidak menatap wajah tak berekspresi itu. Dia melihat jari jemari Brandon yang saling meremas.
"Lalu, apa keputusanmu atas pengajuan Bibiku itu." tanya Bia.
Saat membicarakan tentang ini, hatinya kembali gamang. Dia tidak berharap Brandon akan setuju tapi takut Bibinya kecewa, ingin Brandon menyetujui, tapi hatinya sendiri tidak bersedia.
"Aku--"
DOR!
DOR!
Suara tembakan yang mengarah pada mereka menghentikan perkataan yang hendak diucapkan Brandon.
-Bersambung-
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan like, komentar gift dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga rate 5 ya guys 🙏🙏
Terima kasih 🥰🥰🥰