
Kata Pamanmu Hansel meminjam mobilnya, memangnya ke mana dia pergi?" tanya Bia. Sebenarnya itu tidaklah penting, dia hanya mau mengakrabkan diri dengan gadis yang terlihat tertutup itu.
"Hansel? A-aku tidak tau!" tangkasnya cepat, seketika wajahnya memerah.
"Oh?" Bia hanya manggut-manggut.
*****
"Vale, terima kasih untuk tumpangan mandinya. Setelah aku mencucinya, akan aku kembalikan," ujar Bia.
"Sama-sama, Tante!" sahut Valerie.
"Hem, itu ... bisakah kamu jangan memanggilku Tante?" pintanya, sebenarnya Bia sangat sukar mengatakan itu. Tapi, panggilan itu begitu menyakitkan telinganya.
"Kenapa?"
"A-ku ra-sa panggilan itu belum cocok untukku," akunya gugup.
"Lalu, aku harus memanggilmu apa?"
"Kakak saja! Itu sudah cukup."
Apa aku terlalu impulsif dan menakuti gadis ini?
"Sesuai keinginanmu!" Valerie mengangguk setuju.
Setelah mandi, Valerie mengajak Bia makan siang bersama. Meskipun tanpa Brandon, Bia tetap makan dengan lahap, perutnya yang lapar tidak bisa diajak kompromi.
"Sudah selesai makannya?" tanya Brandon yang baru keluar dari lift.
"Hum!" jawab Bia berdehem, dia menyunggingkan senyum manis pada Brandon sebagai pencitraan.
"Ayo pulang!" Brandon tidak melakukan hal yang sama, dia tetap memasang wajah dingin dan kakunya.
"Vale, terima kasih atas jamuannya," ucap Bia.
"Sama-sama, Kak."
Bia mengekor di belakang Brandon, langsung masuk ke dalam mobil tanpa diminta. Brandon mengamati gelagat calon istrinya itu, tadi siang wajahnya ditekuk, sekarang wajahnya terlihat riang.
"Sepertinya suasana hatimu sangat bagus?" ucap Brandon sambil fokus menyetir mobilnya.
"Kau pasti tahu istilah, perut kenyang hati pun senang! Begitulah aku!" jawab Bia.
"Aku lupa memberitahumu, nanti malam Kak Embun mengajak kita makan malam bersama," ucap Brandon.
"Apa? Nanti malam? Uncle, kau gila?" pekik Bia, keriangannya seketika lenyap saat mendengar kabar itu.
Bia menarik paksa tangan Brandon yang sedang memegang setir, kemudian melihat jam di lengan pria itu.
"Sudah jam segini, aku mana sempat bersiap!" cicit Bia resah. Dia menghempaskan tangan Brandon ke sembarang arah.
"Ini semua karenamu!" tuduhnya kesal.
"Karenaku?"
__ADS_1
"Ya. Kalau bukan karena umurmu yang terlalu tua hingga melupakan semua hal penting, ini tidak akan terjadi!" tukasnya lantang.
"Apa yang kau khawatirkan?" nada suara Brandon masih saja sesantai angin pantai.
"Aku tidak bisa bersiap! Meskipun pernikahan kita hanya pura-pura, aku juga harus terlihat baik di mata keluargamu, kan? Coba kau pikir, tidak mungkin aku datang dengan pakaian seadanya seperti ini, kan?" cecar Bia.
"Aku akan membawamu ke butik Bibimu, kau bisa memilih baju sekalian berpamitan padanya. Setelah itu aku akan membawamu pada penata rias," terangnya.
"Benar begitu?" tanya Bia memastikan.
Brandon tidak menjawab lagi, untuk apa dia membohongi wanita itu? Apa untungnya? Dia sudah menjelaskan, jika Bia tidak percaya, itu urusannya.
Saat mendapat kabar makan malam itu, Brandon sudah menyusun rencana lain di kepalanya. Rencananya, setelah mengabari Bia, mereka akan datang masing-masing. Namun, karena sudah seperti ini, rasa bersalah tidak bisa membuatnya lebih egois, terpaksa dia harus mengantar gadis itu untuk menyiapkan dirinya.
Mereka tiba di butik, keadaan butik yang sedang ramai, mengharuskan Bia untuk langsung menemui Bibinya.
"Bia? Ada apa?" tanya Wila, tentu saja dia kaget melihat kedatangan Bia yang tiba-tiba.
"Bibi Wila, pilihkan aku satu baju yang cocok untuk aku kenakan di acara makan malam keluarga," rengeknya memelas.
"Makan malam keluarga?" Wila mengerutkan keningnya.
"Keluarga Wirastama mengajakku makan malam, Bi," ungkapnya.
Wila tersenyum mendengarnya. "Kamu datang ke sini sama siapa? Apakah bersama Brandon?" tanya Wila.
Bia mengangguk, "Ya, sekarang dia masih menunggu di depan."
"Ayo, Bibi pilihkan yang cocok untukmu," ajak Wila.
"Bibi Wila, tadi ... Mama menemuiku," ucapnya sembari tertunduk.
Wajah Wila langsung berubah pias seiring dengan genggamannya yang terlepas.
"Rita ... sudah kembali?"
"Apa dia tahu kamu akan menikah?" tanya Wila, pandangan matanya kosong.
"Tahu. Bia memberitahunya, Bi."
"Lalu, apalagi yang dia katakan?" tanya Wila serius, dia penasaran sebab kesedihan terlalu kentara diperlihatkan oleh Bia.
"Banyak, Bi. Yang pasti, dia belum berubah sama sekali!" ungkapnya.
"Nanti saja kamu lanjut cerita sama Bibi, ya? Sekarang kamu harus buru-buru, kan? Jangan sampai dipertemuan kedua kamu sudah telat," ujar Wila berpura-pura tenang.
Mereka berjalan beriringan, hati Wila mulai kalut, merasa takut jika sewaktu-waktu Rita datang padanya dan mengambil Bia darinya. Namun, meski perasaannya sedang resah, Wila tetap berusaha tersenyum pada Bia dan Brandon.
"Tante, warna apa yang cocok untukku?" tanya Bia, entah sudah berapa kali dia berkeliling di butik Wila namun masih belum menemukan yang cocok di hati.
"Bia, jangan hanya berkeliling, lihatlah satu persatu, jika ada yang kamu suka maka ambilah," ujar Wila.
"Bibi, pilihkan... aku bingung...." rengeknya sambil bergelayut manja pada Wila.
"Brandon, saat bersamamu apa dia sering menempel seperti ini juga?" tanya Wila bercanda. Namun, reaksi mereka berdua di luar dugaannya, mereka seketika menegang dan kebingungan.
__ADS_1
Bia melirik Brandon, menaikan kedua alisnya sambil mengerucutkan bibirnya sedikit, memberikan kode agar Brandon yang menjawab.
"Per-pernah, Bi. Bahkan dia selalu bersikap manja padaku, sangat lengket, tidak pernah mau lepas. Jika aku melarangnya menempel padaku, dia pasti akan berpura-pura menangis!" tukas Brandon sengaja mengarang cerita.
Apa katanya? Kapan aku pernah memeluknya dan menangis? Karangannya sungguh indah, aku sampai takjub! Lihat saja, pembalasanku tidak perlu menunggu waktu!
"Hahaha! Kau lupa? Kau yang merengek jika aku tidak bermakna padamu. Kenapa kamu membalikkan fakta di depan Bibiku? Walaupun kau malu, juga jangan menjelekkan namaku!" balas Bia, dia menyeringai saat melihat Brandon menatapnya dengan kesal.
"Bi, meskipun wajahnya seperti batu karang, tapi hatinya begitu hangat, dia selalu mencintaiku meskipun tidak mengungkapkannya secara langsung," ujar Bia.
Kau sedang mempermalukanku atau memujiku? Perkataanmu sungguh tidak jelas!
"Sudah, jangan bertengkar lagi. Bibi percaya pada Brandon, dia laki-laki yang baik, mampu menjagamu dan sangat mencintaimu. Bibi yakin dia tidak akan menyakitimu, jadi kamu juga harus berlaku sama seperti itu. Cintai dia setulus hatimu, hormati dia sebagai suamimu kelak, dan patuhlah padanya," ujar Wila sembari tersenyum lembut.
Bia ikut tersenyum, berusaha menyembunyikan wajah sedihnya di balik senyumannya.
Jika aku menikah karena cinta, nasihat ini sangat berguna untukku. Tapi, hubungan kami tidak lebih dari orang asing yang tiba-tiba menikah, mana bisa aku mencintainya selayaknya seorang suami.
"Bi, jadi kamu mau gaun yang mana?" pertanyaan Wila menyadarkan Bia dari lamunannya.
"Yang sederhana saja, Bi."
"Sebentar, Bibi ambilkan satu gaun yang cocok untuk kamu."
Tak berselang lama, Wila membawa sebuah dress Tea-Length berwarna Berry di tangannya.
"Bagaimana? Kamu suka?" tanya Wila.
"Suka, Bi. Yang ini saja," jawabnya.
"Ayo bayar!"
"Tidak perlu, kalian bawa saja," sahut Wila.
"Tidak apa-apa, Bi. Ini untuk calon istriku, jadi aku harus membayarnya," jawab Brandon.
"Tapi, kan...."
"Tidak apa-apa, Bi. Biarkan kami membayarnya," timpal Bia.
"Baiklah terserah kalian saja." Wila akhirnya mengalah.
"Bi, nanti tidak perlu menungguku. Nanti Brandon akan mengantarku, mungkin aku pulang agak larut. Bibi istirahat saja," ujar Bia.
Wila hanya mengangguk sambil tersenyum.
Selepas kepergian Bia, hatinya kembali resah, kecemasan yang menyelimuti hatinya kembali bangkit.
"Jika yang aku khawatirkan memang benar-benar terjadi, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus menyerahkan Bia pada Rita? Atau harus menahannya? Tapi, dia Ibunya... Entahlah, yah bisa kulakukan hanya menyerahkan semua keputusan pada Bia.
-Bersambung*-
Jangan lupa berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga rate 5 ya guys 🙏🙏
Terima kasih ❤️🙏
__ADS_1