
"Brandon, katanya dia temanmu. Sudah lama kalian tidak berbincang. Jadi, dia mampir ke sini untuk melihatmu. Sekalian ajak makan malam saja!" ucap Embun.
"Siapa?" tanya Bia setengah berbisik.
"Entahlah, aku juga tidak tahu," jawab Brandon di balas berbisik.
"Ayo, kita hampiri mereka!" ajak Bia, menggandeng lengan Brandon dan menggeret suaminya itu pada seorang pria yang masih membelakangi mereka.
"Hay, Brandon, lama kita tidak bertemu, ya! Bagaimana? Kabarmu baik? Sepertinya, kau cukup bersenang-senang," sapa pria itu.
"Ben? Untuk apa kau di sini?" sontak, Brandon langsung menggeser tubuh Bia ke belakangnya sebagai tanda perlindungan.
Melihat reaksi Brandon yang cukup tangkas, Ben menyunggingkan senyum manisnya. "Tentu saja, untuk menemuimu. Mana mungkin aku datang ke sini untuk mencari istrimu!" jawab Ben sambil tersenyum, matanya terus menatap Haninbia penuh minat.
Brandon menatap Ben, dia tidak suka Ben terus menatap Bia seperti itu.
Apa tujuannya datang ke sini? Apakah mau menghitung perkara hutang lama? Tapi, itu sudah berlalu sangat lama. Kenapa masih menghitungnya pada Istriku. Bahkan, Bia tidak tahu apapun.
"Kenapa kalian masih diam mematung di sini? Ayo, kita makan malam. Kasihan Bia, dia pasti sudah kelaparan," seru Embun dan diangguki semua orang.
Semua orang berjalan menuju meja makan. Embun duduk di samping Brandon. Dengan senang hati menjalankan tugasnya sebagai seorang istri, mengambilkan banyak makanan untuk suaminya. Yang ini dan itu.
"Sayang, kamu mau makan yang ini tidak?" tanya Bia, menawarkan makanan untuk suaminya.
"Bia, duduk saja! Biarkan aku yang mengambilnya untuk kamu," pinta Brandon, dia tidak mau Bia terlalu banyak bergerak.
"Tapi, aku hanya mau men--"
"Duduk saja, tidak apa-apa, Sayang!" Brandon berkata dengan sangat lembut.
"Ahhh, romantis sekali... Kak Brandon merawat istrinya yang sedang hamil!" celetuk Hansel sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sambil tersenyum.
"Diamlah, Hans! Kalau kamu mau seperti Pamanmu, cepatlah menikah! Jangan taunya main saja," cetus Bara.
__ADS_1
"Pa, jangan ungkit-ungkit hal ini lagi!" Hansel mencebikkan bibirnya.
"Brandon, ternyata istrimu sedang hamil, ya?" tanya Ben pura-pura ramah, lagi dan lagi tatapan tajamnya mengarah pada Haninbia.
"Hum!" Brandon hanya menjawab dengan deheman saja.
"Wah, selamat, ya!" ucap Ben dengan senyuman merekah. Menunjukkan dirinya yang ikut bahagia atas kehamilan istri sahabatnya.
"Terima kasih," Brandon hanya menjawab seadanya.
"Brandon, besok aku ma mengajakmu pergi ke suatu tempat. Hitung-hitung, sekalian reuni," ajak Ben tapi langsung mendapat penolakan dari Brandon.
Brandon menggelengkan kepalanya, "Maaf, aku tidak bisa. Besok, aku sudah memiliki janji untuk membawa istriku pergi berlibur. Iya, kan, Sayang?" Brandon menggenggam tangan Bia, memperlihatkan mereka yang saling sayang.
"Oh? Berlibur? Ke mana?" tanya Ben menyelidik.
"Ke pantai. Dan kami semua juga ikut!" jawab Arga, semangatnya begitu menggebu-gebu.
"Pantai?" wajah Ben berubah cerah. "Aku suka lantai. Brandon, bagaimana kalau aku juga i--"
"Kau selalu bisa menebak isi hatiku!" ucap Ben masih tersenyum senang.
"Aku tidak bisa membawamu, Ben. Kau terlalu merepotkan. Lebih baik, kau pergi bersama orang lain saja!" ketus Brandon, Brandon tidak akan pernah bersedia membawa band kemanapun dia.
"Brandon, kau benar-benar, ya! Dari dulu, kau tidak pernah berubah. Selalu saja ketus!" Ben mencebikkan bibirnya.
"Sebenarnya, Ben ini siapa?" tanya Belle, sejak tadi pembicaraan keduanya mengundang rasa penasaran. Membuat semua orang yang mendengarnya selalu bertanya-tanya tentang hubungan keduanya.
"Aku temannya Brandon saat kuliah dulu, Kak. Tersimpan dendam yang bengis di antara kami berdua!" jawab Ben sambil sesekali melirik ke arah Brandon dan Bia.
"Den-dendam? Dendam apa?" tanya Rena, khawatir kalau nantinya mereka berdua saling membalaskan dendam dan semua itu akan berimbas pada kandungan Bia.
"Bukan apa-apa, Kak. Dia hanya sedang membual saja. Tidak perlu mendengarkan dia," sanggah Brandon. Brandon menatap Ben, tatapannya seolah bisa membelah Ben hingga berkeping-keping. Memberikan isyarat agar Ben diam, tidak mengatakan yang aneh-aneh.
__ADS_1
Sejak tadi, Bia juga ikut melirik suami dan pria di depannya dengan raut wajah bingung.
Sebenarnya, apa hubungan mereka berdua? Dendam apa yang tersimpan di antara mereka? Aku sangat ingat, pria inilah yang pernah membidikku dengan pistolnya. Jika saja saat itu Brandon tidak tangkas, mungkin sekarang aku sudah menghadap Tuhan.
"Brandon, aku ikut denganmu, ya!" pinta Ben.
Brandon hanya diam, menambah kejengkelan Ben.
"Brandon?!" rengek Ben memaksa.
"Kak, kenapa Brandon hanya diam saja? Dia benar-benar tidak mendengarkanku, atau hanya pura-pura tidak dengar, sih?" Ben sangat kesal karena dia diabaikan oleh Brandon.
Mereka semua menahan tawa.
"Kamu ini benar-benar temannya, kan, ya?" tanya Embun sambil tersenyum.
"Benar. Lantas, mengapa?" tanya Ben yang belum mengerti dengan maksud pertanyaan Embun.
"Jadi, kenapa kamu masih tidak tau dengan sikapnya itu?" tanya Embun lagi.
"Sayang, kamu makan yang banyak, ya!" ucap Brandon pada Bia, sang istri.
"Nah! Sekarang aku sangat yakin. Dia bukan tuli. Tapi, pura-pura tidak mendengarkan suaraku, dan tidak menganggapku ada di sini!" celetuk Ben.
"Pintar!" Belle menjentikkan jarinya.
"Aihhh!"
Bia tidak bisa membendung rasa penasarannya. Rasa penasaran itu terlalu besar, sedikitpun tidak bisa dia tahan.
"Sayang, sebenarnya dendam apa yang tersimpan di antara kalian berdua? Jika kenangan, mungkin aku tidak akan terlalu ingin tahu. Tetapi, dendam? Aku tidak bisa mengubur rasa penasaran ini. Bisakah kamu jelaskan? Sebelum, kamu katakan, aku tidak bisa tenang," tanya Bia mengharap sebuah jawaban dari Brandon ataupun Ben.
-Bersambung-
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar. Berikan juga rate 5, Vote, dan Hadiah sebanyak-banyaknya. Terima kasih ❤️❤️❤️❤️