Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)

Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)
Memasak untuk suami


__ADS_3

"Aku tidak mau tidur di sini, takut dengan burung camarmu!" ketus Bia.


"Burung camar?" Sepeninggal Bia, Brandon memegangi apa yang ia anggap sebagai burung camar.


"Memang ini burung camar yang dia takuti?" gumamnya.


*****


Pagi-pagi sekali, Bia sudah berkutat di dapurnya. Dia sengaja memasang alarm dan bangun lebih awal agar bisa membuatkan sarapan untuk dirinya dan suaminya. Dia sedang mencoba beradaptasi dengan keadaannya.


"Huh, ternyata pekerjaan dapur lumayan melelahkan," gumamnya sambil menyeka keringat. "Padahal ada AC, tapi keringatku terus saja mengucur." Bia mengaduk nasi goreng spesialnya sambil melihat Vidio tutorial di ponselnya.


"Sudah tercium aromanya. Harusnya sudah matang, ya?" Berulang kali dia mengendus aroma nasi goreng yang membuat perutnya bergetar hebat.


"Aromanya saja sewangi ini, pasti rasanya sangat enak!" ucapnya sambil senyum-senyum sendiri.


Bia menyiapkan dua piring nasi goreng spesial dan dua gelas susu hangat. Setelah semuanya selesai, dia bergegas membangunkan Brandon yang sepertinya masih tidur nyenyak.


"Brandon, cepat bangun... nanti nasi goreng spesialku dingin," ketus Bia.


"Hem, aku sudah bangun." Brandon bergumam dengan mata yang masih terpejam.


"Mandi sana! Atau, perlu aku yang mandikan?" seloroh Bia.


Brandon tidak menanggapi ocehan wanita itu. Dia berjalan masuk ke dalam kamar mandinya.


"Kenapa dia lama sekali?" gumam Bia sambil menggaruk tengkuknya. Padahal Brandon baru saja masuk ke dalam kamar mandi.


Bia membereskan kamar Brandon, dia membenahi seprai yang berserakan. Setelah semuanya selesai, Bia kembali turun dan memutuskan untuk menunggu di meja makan.


Bia menyusun semua sarapan yang telah ia siapkan di atas meja makan. Dia menunggu Brandon sambil memainkan gadgetnya.


Ada banyak panggilan yang berasal dari Bibinya. Mungkin panggilan itu dilakukan Wila saat Bia sudah tertidur karena lelah menata rumah barunya kemarin.


"Halo, Bi, ada apa? Maaf karena aku tidak menjawab panggilanmu kemarin, aku kelelahan jadi langsung ketiduran," terang Bia.


"Tidak apa-apa, Bia. Bibi hanya mau mengucapkan selamat atas kepindahanmu ke rumah baru kalian. Bibi tidak menyangka setelah pernikahan kalian akan langsung memutuskan untuk pindah," ucap Wila.

__ADS_1


"Hehe, mungkin setelah menikah akan lebih nyaman di rumah sendiri, Bi," ujar Bia.


"Kemarin, Bibi kenapa tidak ikut datang dan membantu pindahanku? Aku tidak berharap Bibi bekerja terlalu berat, aku hanya mau Bibi datang dan melihat Keponakan kecilmu sudah memiliki keluarganya sendiri," seru Bia, tak terasa air bening mengalir dari sudut matanya.


"Maafkan Bibi, ya. Kemarin ada hal lain yang tidak bisa Bibi tinggalkan. Lain kali Bibi akan meluangkan waktu dan berkunjung ke rumah barumu, ya?" ucap Wila, dia mengerti kesedihan Bia. Namun, memang ada sesuatu yang lain yang lebih penting menurutnya.


"Janji, kan? Bibi tau, kan, jangan berjanji apapun padaku karena aku pasti menagihnya," ujar Bia.


"Iya. Bibi berjanji. Kamu ... sudah membuatku sarapan untuk Suamimu, kan?" tanya Wila.


"Sudah, Bi. Aku memasak sambil melihat tutorial. Tapi, jangan khawatir, rasanya pasti sangat lezat," seru Bia.


"Hahaha, ya, ya, Bibi percaya. Sudah dulu, ya, Bibi juga sedang bersiap ke butik."


"Baiklah, Bibi, sampai jumpa."


Bia menggengam ponselnya erat-erat. Dia tahu, sesuatu yang dimaksud Bibinya pasti berhubungan dengan kesehatan sang Bibi makanya sesuatu itu dianggap lebih penting. Namun, kenapa Bibinya memilih bungkam dan menyembunyikan semuanya dibandingkan harus bercerita padanya? Apakah dia tidak cukup bisa dipercayai?


Entahlah, dia sendiri juga bingung. Dia ingin menunggu Wila menceritakan semuanya padanya secara terbuka namun rasanya nihil. Rasa penasaran memintanya untuk segera mencari tahu namun dia tidak tau harus memulainya dari mana.


Sesaat dia termenung, dia memutar otak, mulai berpikir bagaimana caranya dia mengetahui apa yang sedang disembunyikan oleh sang Bibi?


"Ckck, biasanya seorang suami yang romantis akan bertanya, 'kamu sedang memikirkan apa, Sayang?' tapi tidak ini kenapa berbeda?" omel Bia berdecak sebal.


"Aku tidak pandai basa-basi," ucap Brandon.


"Aku harus mengerti," ucap Bia.


"Ini semua kamu yang buat?" tanya Brandon sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Hem. Enak, kan?" tanya Bia dengan senyuman menggoda minta dipuji.


"Masih biasa saja. Ternyata kamu rajin juga," ucap Brandon bermaksud jujur. Namun, kejujuran terkadang menyakitkan.


"Bukan rajin, tapi terpaksa!" sentak Bia sembari mencebikkan bibirnya.


Tanpa disadari Bia, seutas senyuman muncul di bibir Brandon. Melihat tingkah Bia membuat wajahnya sering menyiratkan senyuman tanpa alasan.

__ADS_1


"Tapi, masakanmu lumayan," puji Brandon lagi.


"Kalau mau memuji jangan tanggung-tanggung dong! Kalau enak langsung bilang enak, jangan malu-malu," seru Bia masih saja merasa tidak puas dengan pujian Brandon.


"Mau aku antarkan ke kampus?" tanya Brandon.


"Ckck, lebih memilih mengalihkan pembicaraan daripada memujiku!" umpat Bia. "Tidak mau. Aku tidak terbiasa naik mobil mewah!" tolaknya.


"Kamu harus membiarkannya. Karena setahun ke depan kamu akan selalu menaikinya!" ucap Brandon.


"Ya, ya, ya, kau benar! Tapi, aku tidak mau diantar olehmu. Jika teman-temanku melihat aku turun dari mobil mewah, mereka pasti mengira aku telah dipelihara oleh sugar Daddy!" terang Bia apa adanya.


"Jadi, kau mau berangkat naik apa?"


"Tidak perlu kamu tanyakan. Aku bisa memesan taxi online kok," sahutnya.


"Aku hanya mau mengingatkan, di sini jauh dari jangkauan taxi. Kalau kamu mau naik taxi, kamu bisa menumpangi sesuatu sampai bertemu halte pertama," jelas Brandon.


"A-apa? Jauh sekali!" gumam Bia melongo.


"Begitulah. Keluarga elit memang lebih memilih tempat yang sedikit jauh agar tidak terganggu dengan aktivitas di luar sana, agar mereka bisa lebih tenang."


Aku ingat haltenya jauh sekali, berdesak-desakan pula!


"Tapi, Uncle, setahuku Halte untuk menunggu Bus. Bukan menunggu Taxi!" protes Bia.


"Jika digunakan secara bersamaan juga tidak masalah, kan? Sama-sama menunggu kendaraan umum. Lalu, letak kesalahannya di mana?" timpal Brandon.


"Sejak kapan kau banyak bicara seperti ini? Biasanya apapun yang kukatakan kau pasti hanya diam, tidak akan menyangkal apapun meskipun aku mengatakanmu jelek," cecar Bia.


"Sejak bertemu denganmu!" jawab Brandon cepat.


-Bersambung-


Maaf baru sempat update setelah banyaknya kegiatan yang membuat author sampe ga bisa update πŸ™ Terima kasih untuk kalian yang masih bersedia menunggu dan berkenan membaca karya remahan rengginang ini πŸ₯°


Minal aidzin walfaidzin untuk kalian semuanya ❀️❀️❀️

__ADS_1


Jangan lupa berikan like, komentar, bunga dan vote ya, heheπŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2