
"Pak, Bu, jengkolnya? Bisa menambah kemesraan," ucap Bia sembari cengengesan.
Setelah setengah jam Bia dan wanita muda itu mengitari kampus untuk menjajakan dagangannya, akhirnya mereka istirahat di taman yang terletak dekat dengan parkiran.
Senyuman senang tak henti-hentinya terpancar dari wajah wanita muda yang dibantu oleh Bia tadi.
"Terima kasih banyak, Kak. Berkat semangat darimu, semangatku juga ikut bangkit kembali dan aku bisa berusaha lebih giat lagi. Dan benar, rezeki tidak akan datang dengan sendirinya," ucap wanita muda itu, sambil melihat uang hasil penjualan mereka hari ini di tangannya.
"Hahaha." Bia tertawa kencang karena ikut senang bisa membantu wanita muda di sampingnya.
"Aku senang bisa membantumu. Lain kali, kau harus bisa membakar semangatmu sendiri. Meskipun daganganmu masih bersisa, tapi rezeki yang kita dapat barusan, sudah membuktikan usaha kita tidak sia-sia. Benarkan?" Bia menyenggol bahu wanita itu sambil cengengesan.
"Iya, yang kamu katakan memang benar, Kak. Sekali lagi, terima kasih," ucapnya lagi.
"Sudah, sudah, jangan katakan terima kasih padaku lagi. Bisa-bisa nanti aku jadi sombong karena terlalu sering mendengar ucapan terima kasihku itu!" celetuk Bia.
"Lain kali, apakah kita masih bisa bertemu lagi?" tanya wanita muda itu penuh harap.
"Tentu saja bisa. Jika kau mau bertemu denganku, kau bisa menungguku di Halte itu setiap pagi kecuali akhir pekan. Aku selalu berangkat dari rumah dan menunggu di sana," jawab Bia dengan senang hati merasa memiliki teman baru.
"Kak, siapa namamu?"
"Haninbia. Panggil saja aku Bia," ucap Bia mengulurkan tangannya. "Siapa namamu gadis kecil?" tanya Bia.
"Namaku Fina" jawabnya, melihat ke arah tangan Bia yang terulur namun tidak berani menjabatnya.
Bia mengerti arti tatapan Fina. Bia menarik tangan Fina dan menggenggamnya erat.
"Kamu keberatan berteman denganku?" tanya Bia.
__ADS_1
"Bu-bukan seperti itu, Kak! A-aku hanya merasa kotor untuk menerima uluran tanganku," jawabnya dengan wajah tertunduk.
"Hahaha, kotor kenapa? Apa kamu bekum mandi?" seloroh Bia.
Bia melirik pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Fina, aku sudah harus masuk kelas. Lain kali kita bertemu lagi, ya," ucapnya kemudian langsung berlari meninggalkan Fina yang masih mematung di tempatnya.
Interaksi antara Bia dan Fina tak luput dari perhatian Brandon yang lebih memilih mengawasi mereka dari dalam mobil. Sesekali dia tersenyum samar ketika melihat tingkah Bia saat menawarkan barang dagangan Fina.
"Ternyata kau suka membantu. Tidak banyak orang yang mau merepotkan diri untuk orang lain sepertimu," gumam Brandon.
Saat dia masih memperhatikan langkah Bia yang tergesa-gesa menuju ruang kelasnya, fokusnya terganggu saat ada seseorang yang mengetuk kaca mobilnya.
Tok!
Tok!
Brandon menurunkan kaca mobilnya, dengan mata menyipit dia bertanya, "Bu Clara, ada apa?"
Sudahlah, mungkin saja dia lupa.
"Ah, iya, aku lupa. Ada apa?"
"Sedari aku perhatikan kamu tidak keluar-keluar. Aku takut terjadi sesuatu padamu, makanya memberanikan diri untuk mengetuk kaca mobilmu. Aku tidak memiliki maksud lain, hanya ingin memastikan saja. Maaf jika aku mengganggu," ucapnya buru-buru menjelaskan.
Brandon tidak menanggapi, dia hanya memperhatikan wajah Clara yang tampak tersipu malu saat tak sengaja beradu pandang dengannya.
Tiba-tiba, dia teringat sesuatu yang seketika membuat wajahnya memerah. Clara turut memperhatikan perubahan wajah Brandon. Dia pikir, Brandon tersipu karena kecantikannya. Membuat tingkat kepercayaan dirinya semakin meningkat di luar batas.
"Hem!" Brandon berdehem untuk menghilangkan khayalan permainan panasnya dengan Bia semalam.
__ADS_1
"Kenapa, Brandon? Kamu tersedak? Tunggu sebentar, aku akan membelikan minuman untukmu," ucap Clara begitu panik.
"Tidak, tidak. Aku hanya sedang terpikirkan sesuatu saja. Sekarang sudah lebih baik," jawabnya.
Memikirkan sesuatu sampai wajahnya memerah seperti tomat matang? Apa dia sedang memperhatikan kecantikanku dan berpikir untuk menikah denganku?
Jantung Clara mulai berdendang. Dia membayangkan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terlintas di benak Brandon sedikit pun.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Brandon setelah mereka terdiam cukup lama.
"Aku belum punya pacar kok," jawabnya sembari cengengesan.
"Pacar?" Brandon tampak kebingungan.
"Ah? Jadi, apa yang mau kamu tanyakan?" Clara gugup, bisa-bisanya dia bertingkah bodoh seperti itu.
"Apa akan ada pertunjukan drama di kampus ini?" tanya Brandon.
"Ada! Aku juga mau mengundangmu untuk datang. Kamu jangan lupa datang besok, ya!" seru Clara kegirangan.
"Besok? Kenapa sangat cepat?"
"Ya, sebenarnya pertunjukan ini sudah direncanakan sejak lama. Hanya saja, karena belum menemukan Protagonis wanita yang cocok, jadi pertunjukannya terhambat," terang Clara.
"Yang menjadi protagonis wanitanya Haninbia?" tanya Brandon ingin memastikan. Masih kurang percaya dengan penjelasan Bia semalam.
"Iya. Kamu ... tau dari mana kalau protagonis wanitanya Haninbia Asfara?" tanya Clara menyelidik.
-Bersambung-
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, hadiah dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan rate 5 juga ya guys🙏🙏
Terima kasih❤️❤️❤️