
"Iya. Kamu ... tau dari mana kalau protagonis wanitanya Haninbia Asfara?" tanya Clara menyelidik.
"Kebetulan, pacar keponakanku temannya Bia. Jadi, dia banyak bercerita tentang gadis itu dan tidak sengaja menyinggung perihal itu," jawab Brandon cepat, tidak mengundang kecurigaan dari Clara.
"Oh, begitu, ya." Clara manggut-manggut seolah mengerti.
Ternyata ada teman wanita itu yang selalu bercerita tentangnya pada Brandon. Jika cara bermainnya seperti ini, aku pasti akan kalah karena aku tidak mengenal keluarga mereka yang bisa menceritakan tentang kebaikanku.
"Ya, memang dia yang akan menjadi protagonis wanitanya," imbuh Clara.
"Siapa lawan main Bia?" tanya Brandon.
"Kamu sedang menyelidikinya? Sepertinya kamu sangat peduli dengan gadis itu," seloroh Clara, di balik candaannya, dia juga sedang memancing reaksi Brandon terhadap Bia.
"Tidak. Aku hanya mau tau saja. Jika mau menonton drama, bukankah kita harus tau siapa saja para pemainnya?" untung saja Brandon pintar berkilah.
"Benar sekali. Lawan main Bia besok adalah Jonathan. Kebetulan mereka adalah sepasang kekasih. Jadi, kami percaya chemistry yang tercipta di antara mereka berdua pasti lebih kuat," ucap Clara.
"Sepasang kekasih?" tanya Brandon memastikan.
"Ya, memang tidak banyak yang tau kalau mereka sepasang kekasih. Tapi, melalui drama ini, semua orang akan tau kalau mereka sepasang kekasih. Karena, drama yang mereka mainkan kali ini sungguh sangat-sangat romantis," ujar Clara sambil tersenyum.
Ya, dari saat Bia berlatih semalam saja, aku sudah bisa membayangkan seromantis apa adegan mereka nanti. Aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi. Apalagi adegan ciuman, aku tidak akan membiarkan pria itu menyentuh istriku!
"Brandon, kenapa kamu malah melamun?" tanya Clara menyadarkan Brandon.
"Tidak ada. Aku pergi dulu," Brandon melajukan mobilnya, meninggalkan Clara yang masih tersenyum sinis karena berhasil menghasut Brandon.
"Brandon, kau hanya milikku!" gumamnya.
Sebenarnya, Brandon tidak benar-benar pergi. Dia hanya berpindah tempat, dia memilih menunggu Bia pulang karena merasa Bia harus menjelaskan semuanya dengan jelas.
__ADS_1
"Kenapa Clara bisa secerewet itu dan terkesan sangat akrab? Aku sangat tidak suka wanita seperti itu," gumam Brandon.
Sembari menunggu Istrinya, Brandon memeriksa laporan-laporan yang masuk ke email-nya melalui ponsel. Hari ini dia sengaja tidak datang ke kantor demi untuk penjelasan Bia tentang 'sepasang kekasih' yang dimaksud oleh Clara tadi. Entah kenapa, kata-kata itu begitu mengganggu pikiran tenangnya.
Setelah selesai berkutat dengan ponselnya, Brandon melihat Bia yang sedang menyetop taxi. Dengan langkah besarnya, dia menghampiri Bia.
"Uncle, kenapa kamu bisa berada di sini?" tanya Bia, sangat terkejut melihat Brandon yang tiba-tiba berdiri di sampingnya. Mata Bia mengawasi sekitar, dia takut disalahpahami oleh orang-orang yang melihat mereka berdua.
"Aku menjemputmu. Kau takut teman-temanmu yang lain melihatku, kan? Kalau begitu, naiklah ke mobilku sebelum temanmu melihatku dekat denganmu," pintanya.
"Aku masih ada urusan lain. Kamu pulang duluan saja," tolak Bia yang tampak menghindari Brandon.
Brandon mengerutkan keningnya, menatap Bia semakin tajam.
Apa dia sedang menunggu kekasihnya? Aku tidak akan membiarkan kau bertemu kekasihmu, Haninbia!
"Jika kau tidak mau ikut denganku, aku akan terus membuntutimu kemanapun kau pergi," tukas Brandon.
Brandon menggenggam tangan Bia yang menolak dadanya. Dia menarik tubuh istrinya itu hingga jarak mereka menjadi semakin dekat.
"Uncle, kenapa wajahmu memerah?" tanya Bia. Bahkan, hangatnya hembusan nafas Brandon menyapu wajah Bia namun wanita itu tidak merasakan apapun. Berbeda dengan Brandon, jantung pria itu berdetak kencang seakan-akan hendak lepas dari tempatnya.
"Kenapa kalian malah bermesraan di depanku? Jadi naik tidak?" seru supir taxi yang sejak tadi terus mengamati gerak-gerik sepasang suami istri itu.
"Maaf, Pak, aku pulang bersama Pamanku saja," ucap Bia sambil mengatupkan kedua tangannya.
Setelah supir taxi itu pergi, Bia langsung menyeret Brandon masuk ke dalam mobilnya. Seperti biasanya, Bia lebih memilih duduk di kursi belakang seperti seorang penumpang.
"Duduk di depan!" titah Brandon.
"Aku di sini saja," tolak Bia.
__ADS_1
"Pindah ke depan atau kita akan tetap di sini!" ancam Brandon.
"Kau sedang mengancamku, Uncle? Kalau begitu, lakukan saja. Aku tidak akan pindah ke depan!" tolak Bia dengan tegas.
Sekilas Brandon melihat raut wajah Bia yang begitu meyakinkan. Dia mengeluarkan ponselnya dan kembali memeriksa data-data yang belum ia selesaikan tadi.
Bia melenguh pasrah saat Brandon benar-benar melakukan apa yang dikatakannya. Bia mulai bosan, sudah dua puluh menit berlalu namun pria itu belum menjalankan mobilnya.
Apa dia benar-benar mau di sini sampai malam? Ini sudah waktunya makan siang. Perutku sudah melilit karena lapar loh!
Sekali lagi, Bia menghembuskan nafas panjang sebelum dia benar-benar menuruti permintaan Brandon dan pindah ke depan.
"Jalanlah! Aku lapar!" ketus Bia melihat ke arah luar.
"Kita akan mencari tempat makan terbaik," ucap Brandon sambil berusaha menahan senyumnya.
Seketika suasana berubah hening. Brandon merasa inilah kesempatan yang bagus untuk meminta penjelasan tentang apa yang sedang ia risaukan saat ini.
"Kapan pertunjukan dramamu akan berlangsung?"
"Besok!" jawab Bia singkat.
"Siapa lawan mainmu?" tanya Brandon, entah jawab seperti apa yang diinginkan Brandon. Dan entah kepedulian hati dari mana yang membuat Brandon pura-pura tidak tahu.
Mendengar pertanyaan itu, Bia tersenyum kecut Dan menatap lurus ke depan.
"Jonathan, dialah protagonis prianya," jawab Bia setelah terdiam cukup lama.
-Bersambung-
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, gift, dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga bintang 5 ya guys 🙏🙏
__ADS_1
Terima kasih🥰