
Dada Bia bergejolak, otaknya kacau dengan permintaan sang Bibi. Tapi, sekarang dia hanya perlu menjawab iya atau tidak.
"Ba-baiklah, besok Bia akan mengenalkannya pada Bibi," ucap Bia yang akhirnya memberi ketenangan pada Wila.
"Terima kasih, Bi. Bibi harap kamu tidak berpikir yang bukan-bukan karena permintaan Bibi ini," ucap Wila lembut sembari mengelus rambut Bia.
Bia hanya tersenyum, senyuman yang jelas sangat ia paksakan. Sekarang, yang ada di dalam pikirannya hanya satu, di mana dia harus mencari pacar untuk ia kenalkan pada sang Bibi. Sedangkan selama ini dia tak mempunyai seorang teman pria yang sangat dekat dengannya kecuali Jonathan, mantan pacarnya.
Tapi, mana mungkin dia meminta bantuan Jonathan untuk menolongnya dan mengaku sebagai pacarnya? Pria itu pasti akan menertawakannya habis-habisan.
"Bibi, Bia masuk ke kamar dulu, ya? Bia sangat kelelahan," pamit Bia setelah mereka menyelesaikan makan malamnya.
Wila hanya menjawab keponakannya itu dengan anggukan. Wila menatap kepergian Bia dengan tatapan nanar dan penuh rasa kasihan.
"Maafkan, Bibi. Hanya ini yang bisa Bibi lakukan untukmu, Bi. Mungkin ini terlalu cepat untukmu mengenal apa artinya pernikahan. Namun, semua ini tetaplah yang terbaik untukmu," gumam Wila, dia menghapus setetes air matanya yang lolos begitu saja.
Bia merebahkan tubuhnya ke atas ranjangnya yang tak terlalu empuk. Tubuhnya memang teramat lelah dan sakit saat ini. Apa lagi kalau bukan karena malam kemarin.
"Tubuhku sangat sakit," desis Bia sambil menyipitkan matanya. "Uncle itulah penyebab semuanya! Dasar sial!" gerutunya kesal.
"Jika aku bisa menerawang masa depan, aku tidak akan masuk ke Club malam durjana itu! Aku pasti akan menuruti ucapan Tasya, huhuhu," Bia mulai tersedu menyesali setiap tindakan cerobohnya.
"Memang benar, tempat haram itu bukanlah tempat yang bisa dimasuki oleh sembarang orang. Apa lagi jika tujuannya hanya untuk memulihkan hati sesaat. Tapi, malah menyakiti tubuh dan masa depan," imbuhnya meracau.
Dalam benaknya, dia memang sangat menyesali karena telah memilih jalan yang salah untuk sedikit menyembuhkan hatinya yang sedang terluka. Namun, saat keluar dari Club malam yang memang sudah dipandang sebelah mata oleh orang lain, Bia telah mencederai masa depannya sendiri.
Lama kelamaan, suara racauan perlahan menghilang dari mulutnya. Bibirnya mulai terkatup karena matanya telah terpejam dan sukmanya sedang menyelami dunia mimpi.
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
"Bi, bangun! Jangan sampai kamu telat nanti," ucap Wila di luar pintu yang sudah berulang kali mengetuk pintu kamar Bia namun tak ada sahutan apapun dari dalam dan hal itu membuat benaknya tak tenang.
TOKKK
TOKK
TOKK
TOKK
"Bi, bangun! Bini sudah harus pergi sekarang!" ucapnya lagi yang masih tetap berusaha membangunkan Bia yang kini mulai sadar karena terganggu dengan suara keributan yang dibuat Wila.
__ADS_1
Bia membuka matanya, dia langsung melompat dari ranjangnya karena terkejut dengan ketukan Wila yang kesekian kalinya dan semakin keras.
CEKLEK!
Bia memutar kenop pintu.
"Bi, hari ini kenapa kamu susah sekali bangun?" tanya Wila.
"Maaf, Bi. Kemarin malam Bia kelelahan," jawabnya sambil menggaruk tengkuk dan menguap. Bahkan kesadarannya masih terbatas.
"Kemarin malam ... kamu ke mana?" tanya Wila hati-hati.
Bia membeliakkan matanya, kemudian menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Bia hanya bersama Tasya, Bibi Wila," aku Bia sambil tersungut.
"Kamu jangan kebiasaan bangun pagi, setelah menikah nanti kan harus mengurus suami. Jadi, rubah sedikit-sedikit kebiasaan buruk ini," ucap Wila menasehati.
"Iya, Bi. Maaf...." jawabnya sambil cengengesan.
"Ya sudah, sarapan sudah siap. Bibi pergi sekarang, ya! Jangan lupa rencana kita sore ini." Wila kembali mengingatkan sambil berlalu pergi.
...*****...
Jam selalu berjalan, Bia berharap hari ini setelah siang bisa langsung malam dan Bibinya bisa melupakan tentang permintaannya itu. Namun, semua halusinasi itu tak akan mungkin terjadi. Sore hari pun datang, Bia yang sebenarnya sedari tadi sudah tiba di cafe tempat ia membuat janji temu dengan sang Bibi tak ada niatan untuk masuk.
Ponselnya berulang kali berbunyi, tanpa melihat pun dia sudah tau panggilan dari siapa itu.
"Bi, kamu di mana sih? Bini sudah satu jam menunggu di sini, kamu mau mengecewakan Bibi?" ucap Wila mendesak.
"Bu-bukan begitu, Bi. Pa-pacar Bia terkena ma-macet, jadi telat menemui Bibi. Sabar sebentar lagi ya, Bi!" ucap Bia berbohong.
"Baiklah, Bibi akan menunggu nya di sini meskipun sampai malam!" tukas Bia.
"A-apa? Bibi serius?" tanya Bia dengan kaki gemetar. Sebenarnya dia hanya ingin mengulur waktu, saat sudah senja Wila pasti akan menyerah. Sebab hari ini dia belum menemukan ide apapun.
"Tentu Bibi serius. Bibi akan menyambut calon menantu Bibi dengan lapang dada, meskipun dia terkena macet, Bibi akan tetap menunggunya di sini."
"Kalau begitu, Bia akan menghubunginya sekarang. Bia akan menanyakan dia sudah sampai di mana," cicit Bia.
Setelah mereka mematikan sambungan teleponnya, Bia langsung meringis.
__ADS_1
"Tuhan, apa yang harus aku perbuat?" gerutu Bia resah. Dia menyugar rambutnya berulang kali, menggigit bibir bawahnya sambil celingak-celinguk.
Bia menjentikkan jarinya merasa ada sebuah ide yang tercetus begitu saja di kepalanya, membuat dia tersenyum nakal.
"Ya, begini saja. Aku harap ada seseorang yang mau menolongku!" gumamnya sembari menggosok-gosok tangannya.
Bia mulai mencari mangsanya, dia melihat ke kiri dan ke kanan. Mencari seorang pria tampan yang bersedia membantunya untuk menemaninya berakting di depan sang Bibi. Setelah semuanya selesai, dia akan memberikan imbalan berupa uang.
Mata Bia jelalatan kesana-kemari, dan matanya menangkap seorang pria bertubuh tinggi tegap, dan kulitnya putih. Pria itu memakai topi dan masker menutupi wajahnya, meskipun begitu tetap saja Bia bisa menangkap ketampanan dari balik masker yang digunakannya.
Pria itu terlihat sedang beradu argumen dengan seseorang di balik telepon, setelah itu memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Ah, ini kesempatanku. Semoga saja dia bersedia membantuku!" ucapnya optimis.
Bia berjalan cepat menghampiri targetnya.
"Ehem-ehem!" Bia berdehem di samping pria itu, mengalihkan perhatian si pria. Namun, setelah melihat sekilas, pria itu langsung melihat ke arah lain tanpa memperdulikan Bia sedikitpun.
Parfum ini, sepertinya aku pernah menciumnya. Tapi, di mana? Sudahlah, parfum pasaran begini, bisa kutemukan di manapun.
Tanpa segan Bia langsung menarik lengan kekar pria itu. Namun, bobot pria itu lebih berat darinya, penarikannya gagal dikarenakan tubuh pria tak bergerak sedikitpun.
Pria itu langsung menghempaskan tangan Bia dengan angkuh, menautkan kedua alis ulat bulunya lalu hendak pergi dari sana.
"Eittt, mau kemana?" tanya Bia sembari merentangkan kedua tangannya menghadang jalan pria itu.
Pria itu hendak menggeser tubuh Bia agar menyingkirkan dari jalannya, tapi malah ditangkap oleh Bia dan digenggam erat.
"Tuan, kumohon padamu jangan pergi. Aku mau meminta bantuan padamu, kumohon bantulah aku...." Bia memelas, tatapan orang-orang disekitar sudah menuju ke arah mereka dengan raut wajah penuh tanda tanya.
Pria itu hanya membiarkannya, jika dia menghempaskan genggaman Bia, takut orang-orang akan mengiranya terlalu kejam.
Dia sengaja melakukan itu agar sang pria tak bisa menolak dan bersedia membantunya. Memang sangat licik.
Sambil masih menggenggam tangan pria itu, Bia menceritakan apa maksudnya dan apa yang ingin dimintai tolong olehnya. Tak disangka, pria itu mengangguk setuju.
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift, dan vote sebanyak-banyaknya.
Berikan juga rate 5 ya guys ❤️❤️❤️
Terima kasih karena sudah mau mampir ❤️❤️❤️
__ADS_1