
DOR!
DOR!
Suara tembakan yang mengarah pada mereka menghentikan perkataan yang hendak diucapkan Brandon.
Sontak Brandon langsung memeluk Bia dan menggeser tubuh wanita itu ke samping, gerakannya secepat kilat hingga membuat tubuh Bia tak merespon.
"A-apa yang barusan terjadi?" tanyanya mirip seperti orang tidak bernyawa.
Brandon tidak menjawab pertanyaan Bia, dia sibuk celingak-celinguk mencari orang yang membidik Haninbia.
"Apakah dia? Masa masih menyimpan dendam sampai sekarang?" gumamnya menerka-nerka sambil terus mencari seseorang.
"Kau mencariku?" sentak seseorang dari arah belakang Brandon. Pria berperawakan tinggi dengan wajah penuh dengan janggut keluar dari semak-semak. Dari cara berjalannya saja sudah terlihat kalau pria itu seseorang yang angkuh.
"Kau?! Kau mengikutiku sampai kesini?" tanya Brandon dingin, dia menatap pria di sampingnya berang.
"Kau masih saja tangkas seperti dulu, Brandon. Masalah melindungi wanita kau memang paling keren!" puji Ben, tapi Brandon tau, pujian itu bermaksud untuk mengorek kenangan lama.
Brandon tidak menyahuti ocehah tak berarti Ben, dia terus mengawasi Ben yang terua melihat pada Bia penuh minat.
"Kenapa wajahmu tegang seperti itu? Harusnya kau senang bertemu dengan teman lama, kan?" kelakar pria itu. "Aku dengar kau kau menikah, ini calon istrimu?" tanyanya mulai beralih pada Bia yang masih diam menatap Brandon dan pria itu.
"Jangan dekati dia, Ben! Urusanmu ada denganku, bukan dengannya!" kecam Brandon menunjukkan wajah sangarnya.
Pria yang bernama Ben itu tertawa sambil memukul-mukul pindah Brandon, seolah-olah yang dikatakan Brandon itu adalah lelucon yang paling lucu.
"Hahahaha!" tawa Ben menggelegar hingga membuat Bia sedikit jijik dengan pria itu. "Sejak kapan kau begitu khawatir dengan seorang wanita? Bukankah wanita sangat tidak berarti untukmu, menurutmu semua wanita sama seperti Septi, kan? Sama-sama ... tidak berarti apapun!" ucap Ben penuh penekanan. Bia menangkap sesuatu yang berbeda dari kata-kata akhir yang diucapkan Ben.
"Ben, pulanglah! Nanti aku akan menemuimu!" perintah Brandon mengusir secara halus.
"Kau mengusirku?" tanya Ben mengejek. "Tapi tidak masalah, aku akan menunggumu, Brandon. Jangan tidak datang, teman lama harus dijamu sebaik mungkin, kan?!" lanjutnya.
Lagi, Ben menatap pada Bia yang masih memilih bungkam. Dia mendekat pada Bia hingga gadis itu mundur beberapa langkah.
"Jangan takut gadis manis, aku tidak akan menyakitimu," seloroh pria itu sambil mencolek dagu Bia.
Bia menepis kasar tangan Ben, kekesalan tercetak jelas di wajahnya.
__ADS_1
"Jangan menyentuhku, Bandot! Dasar tidak sopan!" umpat Bia ketus.
"Hahaha, gadis yang sukai memang unik, Brandon," pujinya dengan nada mencemooh. "Tapi aku suka!" lanjutnya.
"Aku pergi!" ucap Ben berlalu meninggalkan Bia yang masih terpaku di tempatnya.
"Uncle, siapa dia? Kenapa bertindak sangat kurang ajar?!" cerocos Bia, dia tidak suka dengan perlakuan Ben tadi.
"Teman lama. Tidak usah pedulikan dia, dia memang seperti itu. Jika kedepannya dia masih mengganggumu, katakan saja padaku. Usahakan untuk selalu menghindar darinya, jangan sesekali tertipu dengannya!" urai Brandon memperingati.
"Memangnya kenapa? Dia juga cukup tampan!" celetuk Bia.
"Aku lebih tampan darinya, tidak ada yang bisa mengalahkan ketampananku!" akunya dengan wajah datar, membuat Bia terasa tergelitik.
"Ya, kau memang tampan, Uncle. Tapi sayangnya wajah batumu menutupi ketampananmu!"
"Bisakah kau menghilangkan kebiasaan mu menyebut wajah batu?! Aku tidak suka mendengarnya!" pinta Brandon.
"Aku akan menghilangkan panggilan itu asalkan kau punya stok panggilan yang lain," jawab Bia membuat alis Brandon berkerut.
"Itu bukan menghilangkan tapi mengganti!"
"Apa yang kau katakan, Uncle? Ucapanmu tidak terdengar jelas olehku!" Bia benar-benar tidak mendengar jelas apa yang dikatakan Brandon, bukan karena dia mau mengerjai pria itu.
"A-aku minta ma-maaf!" ucapnya lagi, kali ini ucapannya terbata-bata.
"Maaf untuk apa?" tanya Bia enteng.
"Untuk hal yang kemarin. Aku merasa itu juga kesalahanku makanya kamu sampaindi--" Brandon tidak melanjutkan ucapannya karena Bia menghentikannya dengan jarinya.
"Aku tidak mau mendengar atau mengingat kejadian kemarin lagi. Jadi, lupakanlah. Tidak perlu minta maaf karena itu mutlak kesalahanku sebab aku tidak berhati-hati terhadap Jo!" terang Bia sambil memaksakan senyumnya.
Bayang-bayang tentang kejadian malam itu kembali berulang di pikiran Bia. Dia memegang bibirnya bekas dicium oleh Jo.
"Bibirku sudah dijamah olehnya," ucapnya pelan.
"Sebelum dia, bukankah duluan aku? Bahkan, kesucianmu juga aku yang ra--"
"Uncle!" pekik Bia mencebikkan bibirnya karena kesal. "Jangan ungkit yajg sudah lalu!" tegasnya lagi.
__ADS_1
"Kau masih mau mendengarkan jawabanku?" tanya Brandon mau melanjutkan percakapan mereka yang sempat tertunda.
"Jawaban?" Bia mengangguk, isyarat kalau dia masih mau mendengar jawaban pria itu.
"Aku menerima permintaan Bibimu tanpa syarat!" tukas Brandon.
Bia terkejut, dia menatap lekat mata pria di depannya, berusaha mencari kebohongan tapi tetap tidak menemukan apapun.
"Kenapa?" tanpa sadar kata itu terucap tanpa suara.
"Karena posisi kita sama. Hanya itu alasanku," jawabnya singkat.
Ya, dia benar. Posisi kami sama, dan itulah alasannya. Mana mungkin karena dia menyukaiku, memangnya diriku siapa, Bia sampai mengharapkan Brandon menyukaimu? Hanya karena dia pernah menyelematkanmu, bukan berarti dia suka padamu, kan? Mana mungkin seorang kaisar menyukai buruh cuci di kerajaannya?
Bia menertawakan kelancangannya yang sudah berani berharap lebih.
Jika kau tidak mau sakit hati, maka tutuplah hatimu dari segala harapan. Jangan pernah berharap sesuatu yang kau ketahui jawabannya adalah tidak mungkin.
Bia menanggapi Brandon dengan senyuman. Dia tidak menyangka, pria tampan nan berwibawa yang sedang berdiri di depannya adalah calon suaminya. Pria dingin seperti bongkahan es kutub, akan menikah dengannya yang selalu riang seperti cahaya matahari yang selalu bisa menghangatkan orang disekitarnya. Tapi, bisakah kehangatan itu bekerja pada Brandon? Mencairkan bongkahan es itu menjadi air yang bisa memberikannya manfaat lebih.
"Lantas, kapan pernikahan kita akan diadakan?" tanya Bia.
"Setelah perundingan keluarga, Bibimu meminta pernikahan kita dilaksanakan tiga hari lagi," jawab Brandon.
"Tiga hari lagi? Bibiku yang mengusulkannya?" tanya Bia sukar untuk percaya.
"Ya, memang Bibimu yang memintanya."
Sebenarnya ada apa dengan Bibi Wila? Kenapa dia terus mendesak untuk mempercepat pernikahanku? Apa yang sedang dia sembunyikan dariku?!
"Pernikahan kita tetap diadakan tertutup, kan? Kau belum merubah yang itu, kan, Uncle?" cecar Bia.
"Ya, pernikahan kita akan diadakan secara tertutup. Ini juga untukku, jadi mana mungkin aku mengganti rencana ini," akunya jujur.
"Setelah menikah nanti, apa kamu akan meminta hakmu sebagai seorang suami? Melakukannya sesering mungkin. Pasti nanti Kakak-kakakmu akan meminta keponakan darimu, untuk menghasilkan keponakan, kita harus melakukan anu-anu, apakah kaku mau melakukannya?" tanya Bia takut-takut.
-Bersambung-
Jangan lupa untuk tinggalkan like, komentar, gift, dan vote sebanyak-banyaknya. berikan rate 5 ya guys 🙏
__ADS_1
Terima kasih ❤️❤️❤️