Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)

Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)
Seperti tak berarti


__ADS_3

"Bi, Mama mohon... ayo temui Mama, Nak!" Rita memohon dan memelas, berharap Bia mau menemuinya.


Apakah aku harus menemuinya? Rinduku menjadi semakin menggebu-gebu.


"Baiklah, kirimkan alamatnya!" jawab Bia pada akhirnya.


"Siapa Bi?" Tasya sangat heran dengan kata-kata yang diucapkan oleh Bia.


"Ibuku!" Bia menjawab dengan suara pelan.


Tasya terkejut, "ibumu?" tanyanya memastikan.


"I-iya. Nanti akan aku ceritakan padamu. Nanti bantu aku izin, ya? Aku harus pergi menemuinya sekarang, ini sangat mendesak," tangkas Bia.


"Baik-baik, pergilah, Bi."


"Terima kasih," ucapnya sambil menyentuh bahu Tasya kemudian langsung berlari meninggalkan gedung kampusnya.


Tasya masih mematung di tempatnya. Selama mereka bersahabat, dia memang tidak pernah melihat Ibu dari sahabat baiknya itu. Bia selalu menutupi satu hal ini darinya, dan Tasya tidak mau mengungkit tentang Ibu dari sahabatnya karena dia menghargai itu. Dari awal dia merasa ada yang tidak beres dengan hubungan Anak Ibu itu. Terkadang dia hanya mendengar selentingan kabar miring tentang Bia dan Ibunya, namun dia enggan untuk mempercayainya. Dia lebih memilih menunggu Bia menceritakan semuanya. Dan akhirnya, saat itu tiba juga.


"Aku menunggumu menjadikanku tempat menumpahkan keluh kesahmu, Bi. Semoga hubunganmu dan Ibumu baik-baik saja," gumam Tasya.


*****


Bia tiba di depan sebuah cafe khusus remaja, dia menghubungi Ibunya untuk kembali memastikan keberadaan wanita itu.


"Masuklah, Mama sudah menunggumu di dalam," titah Rita.


Bia menghela nafas panjang sebelum memutuskan masuk ke dalam. Kemudian mengangkat langkah kakinya, meskipun ragu, dia tetap memantapkan langkahnya.


"Kau bisa, Bi. Masuklah dan temui wanita yang kau rindukan selama ini!" bisiknya pada dirinya sendiri.


Tidak seperti tadi yang memasang wajah resah, kali ini Bia menarik kursi, mendudukkan bokongnya dengan wajah datarnya. Tanpa mau memulai duluan, dia hanya menatap lekat wanita itu.


"Apakah kau masih punya uang saku? Apakah selama ini Wila memberimu cukup uang?" tanya Rita, kemudian dia meneguk kopi susunya.


Bia terperangah, menatap tajam Ibunya yang masih menatapnya sombong.


"Siapa pria itu, Ma? Kenapa berbeda dengan yang terakhir kali?" pertanyaan Bia membuat Rita salah tingkah.

__ADS_1


"Dia sugar Daddy Mama yang baru!" jawabnya setelah mengontrol diri.


"Mama tidak malu? Di umur yang sudah setua itu masih melakukan hal yang sangat memalukan! Merebut kebahagiaan wanita lain hanya demi uang? Pekerjaan itu sangat rendahan, Ma!" cecar Bia, dia sendiri tidak habis pikir dengan jalan pikiran Ibunya.


"Bia! Kenapa mulut kamu sudah setajam ini? Apa yang Wila ajarkan padamu?!" bentak Rita berang.


"Bibi Wila?" Bia menyeringai, "tentu dia mengajarkanku yang baik-baik. Jangan sampai terjerumus ke hal-hal memalukan sepertimu!" tandasnya lirih.


"Bia!" Rita menggebrak meja. Tatapannya semakin tajam pada anak yang tidak pernah ia pedulikan itu.


"Mama melakukan ini untuk kamu! Mama mencari uang juga untuk kebutuhan kamu! Apa yang Mama lakukan itu semua untuk kebaikan kamu! Mama bahkan tidak memperdulikan harga diri Mama demi mencari uang untuk kebutuhan kamu. Tapi, kenapa kamu malah mengatai Mama seperti itu?!" hardik Rita.


"Untukku? Memangnya berapa banyak yang telah Mama berikan untukku? Kebutuhanku tidak sebesar itu hingga Ibuku harus menjual harga dirinya! Tidak bisakah Mama berkaca? Untuk siapa Mama melakukan ini semua? Untuk Mama sendiri, kan!" tukas Bia.


"Yang Mama perdulikan hanya uang dan uang! Pernahkan sekali saja kamu merindukanku seperti aku yang selalu ingin tidur dalam dekapanmu? Pernahkan sedikit saja kamu melihatku yang sering terluka sebab kerap dihina karena ulah memalukanmu itu, ha?" cecar Bia membuat Rita semakin terperangah.


"Bia, maafkan Mama, Mama sayang sama kamu," ujar Rita memelas.


"Beginikah caramu menyayangiku? Aku tidak butuh apapun selain dirimu!" tangkas Bia.


"Bi, Mama minta maaf untuk kejadian tadi. Mama terpaksa melakukannya agar sugar Daddy Mama tidak marah, Bi."


Lagi, Bia menyeringai pada Rita. "Agar sugar Daddy mu tidak marah namun kau rela menyakiti hatiku? Sungguh ironis!"


"Sebentar lagi aku akan menikah, setelah mengatakan padamu, aku sedikit lega," ujar Bia.


"Menikah? Dengan siapa? Apakah calon suamimu itu kaya? Kalau dia pria miskin Mama tidak setuju!"


"Ma, aku sedang memberitahumu, bukan meminta persetujuanmu. Bibi Wila sudah setuju, itu sudah cukup untukku!" sanggahnya.


"Bi, aku ini masih Ibumu! Kamu lebih memilih mendengar Wila dari pada aku?" seru Rita tak percaya.


"Kamu memang Ibuku, selamanya tetap begitu. Tapi, di hatimu aku bukanlah anakmu!"


"Sudahlah, Bi, Mama tidak mau bertengkar denganmu. Mama mengundangmu datang ingin melihatmu dan melepas kerinduan. Tapi kamu malah seperti ini. Hebat sekali ajaran Wila!" sungutnya kesal.


"Ajaran sikapku itu tanggung jawabmu, bukan Bibi Wila. Dia mengajariku dengan sangat baik. Hanya saja, aku berperilaku seperti ini karena emosi lama yang belum pernah terluapkan," kelit Bia.


Rita hanya diam tak menjawab apapun, mungkin dia juga tahu akan hal itu dan merasa malu setelah mendapatkan balasan menohok dari anaknya sendiri.

__ADS_1


Rita merogoh tasnya dan mengeluarkan segepok uang, menaruhnya di atas meja dan mendorong uang itu ke hadapan Bia.


"Ambillah! Tadi Mama baru minta pada sugar Daddy Mama. Kamu gunakan semaumu, jika sudah habis boleh minta lagi," ucapnya.


"Uang? Untukku?" Bia memastikan.


"Hum!" Rita mengangguk membenarkan.


"Setelah sekian lama tidak bertemu, Mama tidak menanyai kabarku, tidak menciumku. Hanta memberikan segepok kertas tak berharga ini untukku? Serendah itu aku di matamu?"


"Maaf, aku tidak bisa menerimanya!" Bia menyodorkan uang itu pada Ibunya lagi.


"Aku tidak membutuhkannya! Do'akan saja agar aku tidak salah jalan sepertimu!" tandas Bia kemudian pergi dari sana.


Sambil berjalan Bia menyeka kasar air matanya. Perasaan kecewa menyeruak begitu saja.


"Haninbia?" panggil seseorang, Bia menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Uncle? Ada apa?" tanyanya dengan suara parau.


"Mata kamu kenapa memerah?" tanya Brandon.


Perasaan Bia menghangat. Setelah merasa kecewa terhadap seseorang, bertemu dengan orang yang perhatian, perasaan senang pasti ada.


"Kelilipan?" tanya pria itu lagi, wajahnya sangat polos, namun wajah itu membuat Bia jengkel.


Bia terperangah, terkejut batin, dan hatinya bergejolak jengah.


Kelilipan? Anak kecil pun tahu aku habis menangis! Ingin sekali mengatainya bodoh, tapi dia Brandon Wirastama, si jenius!


"Apakah aku terlihat seperti orang kelilipan?"


"Aku mana tahu, kamu kan belum menjawab pertanyaanku," ujarnya enteng.


"Kenapa dia sangat tidak peka dan datar seperti plasteran kering?" gumam Bia. "Selama satu tahun aku harus hidup bersama orang seperti ini? Lebih baik aku tinggal di rumah sakit jiwa, walaupun penghuninya orang gila, setidaknya mereka selalu menyunggingkan senyum tulus dan lebih berekspresi!" gumam Bia.


-Bersambung-


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga rate 5 ya guys

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berharga untuk author 🙏🙏


Terima kasih ❤️❤️❤️


__ADS_2