
"Ke-kenapa bisa Brandon yang berada di sana?" gumam Clara tercekat, matanya hendak lepas dari tempatnya. Senyuman yang mulanya tercetak jelas, berganti dengan kemuraman.
Clara sangat menantikan saat-saat bibir Jonathan dan Bia saling bersentuhan. Namun, yang dilihatnya malah tidak sesuai dengan apa yang diprediksikannya.
Sementara itu, Brandon dan Bia melanjutkan akting mereka. Meskipun Jonathan berhenti di tengah-tengah, tetapi ternyata Brandon bisa menghafal naskah dialog yang sedang diperankan olehnya bahkan aktingnya juga lebih bagus dari Jonathan.
Bia melanjutkan perannya, mereka tidak perduli dengan bisikan-bisikan keheranan orang-orang yang hadir karena pemeran utama pria telah berganti. Kini, perasaannya menjadi lebih tenang dan lega. Bertemu dengan Brandon di atas panggung seperti ini, membuatnya merasa lebih nyaman.
Chemistry mereka semakin bagus, sampai akhirnya drama yang mereka mainkan selesai, tidak ada yang berani berkomentar langsung.
Mereka melakukan adegan ciuman yang terakhir. Kali ini, Bia yang duluan menabrakkan bibirnya pada Brandon, membuat mata Clara semakin membulat. Dia sudah bergerak ingin naik ke atas panggung dan memisahkan sepasang suami istri yang telah berciuman sangat lama itu. Namun, Nugraha yang mengerti maksud Clara, langsung menghentikan Clara dengan cegahan tangannya.
"Jangan gegabah, Clara. Acara belum usai," cegah Nugraha, pandangan matanya masih terpaku melihat Brandon yang semakin mendekap erat istrinya itu. Bia ingin menyudahi, namun Brandon semakin memeluknya erat, tidak merasa malu berciuman di depan banyak pasang mata yang menyaksikan. Seakan sedang memproklamirkan kalau dia sedang mencium istrinya sendiri atas nama adegan dalam naskah.
"Pak, adegan itu sudah terlalu lama. Bia mahasiswi di sini. Jangan sampai kampus kita malu karena ada yang membocorkan hal ini keluar!" alibinya, sesungguhnya dia tidak tahan melihat Brandon berciuman sangat mesra dengan wanita lain, siapapun itu. Hanya dia, yang boleh menyentuh bibir manis pria itu sampai kapanpun. Jangan sampai ada wanita yang berani melakukannya. Namun, adegan di depan matanya saat ini begitu menguji tingkah kesabarannya yang sudah berada di ambang batas.
"Membocorkan hal apa?" tanya Nugraha, dia memperhatikan sejoli di atas panggung itu dengan senyuman tipis. Bukan tanpa alasan, dia sudah tahu rahasia hubungan Bia dan Brandon.
Clara berdecak, "Anda tidak lihat, Pak? Beraninya Bia mencium Brandon lebih dulu dan tidak melepaskannya! Jika tersebar, maka dia juga yang rugi karena dianggap genit. Nama baik kampus kita juga akan terseret, Pak!" protesnya.
"Dalam pandangan saya tidak seperti itu. Memang Bia yang duluan nyerobot. Tapi, karena adegannya memang seperti itu. Dan lagi, Chemistry yang mereka ciptakan sungguh bagus. Melebihi ekspektasi saya," sanggah Nugraha.
Seharusnya sejak awal, langkahku membawa wanita ****** itu memang salah. sesalnya.
"Kamu lihat, Brandon yang memeluk Haninbia sangat erat. Berarti, Brandon yang tidak mau melepaskannya," ujarnya sambil menunjuk dengan tatapan matanya. "Tadi, saat kita pikir Jonathan yang akan berciuman dengan Haninbia, kamu tidak mengatakan apapun. Sekarang, kenapa kamu protes keras?" tanya Nugraha menyelidik.
__ADS_1
"Aku hanya takut nama baik kampus kita tercemar," lirihnya dengan wajah tertunduk, enggan melihat kemesraan pasangan di atas panggung yang tidak berkesudahan.
"Takutmu terlalu berlebihan," tangkas Nugraha tidak sependapat.
"Setelah semua ini selesai, Brandon memintamu untuk berkumpul di ruang Rektor."
"Benarkah?" terlihat binar kebahagiaan di wajah Clara. Dia mulai berpikir sesuatu yang lain.
Kenapa dia memintaku untuk menemuinya? Apa karena dia merasa tidak enak hati dan mau meminta maaf padaku? Tapi, kenapa di ruang Rektor? Ah, mungkin karena dia mau membicarakan tindakan kurang ajar wanita ****** itu. Lihat saja, Nugraha, orang yang kau anggap baik, akan segera mendapatkan pelajaran.
Bia mencubit pinggang Brandon agar pria itu melepas pagutan mereka. Sudah lama sekali, bahkan nafasnya nyaris menghilang gara-gara pria itu. Dan lagi, bukannya mereka sudah sepakat untuk tidak mengobral kedekatan mereka pada umum. Bia duluan mencium, memang begitulah adegan yang seharusnya. Tapi, pria itu menahan pinggangnya, bukankah itu sama saja dengan mencari masalah?
Dia bisa semakin dibenci oleh wanita yang mendambakan Brandon.
"Uncle, apa-apaan kau ini?" sentak Bia gusar, dia menatap Brandon lekat, tidak berani melihat ke arah lain. Rasanya, dia sedang diserang oleh ribuan jarum.
"Ya, memang aku. Tapi, karena memang seperti itu. Kau pasti sudah membaca naskahnya dengan baik, kan?" Bia menyipitkan matanya.
"Semua mata memandangku dengan tajam, Uncle. Ini semua karenamu!" Bia merajuk sambil mengerucutkan bibirnya.
Cup!
Brandon kembali mengecup bibir yang membuatnya gemas itu. "Sudah kukatakan, jangan mengerucutkan atau mencebikkan bibirmu. Itu racun untukku," timpalnya.
Brandon merengkuh Bia, menariknya ke dalam pelukannya. Benar saja, tatapan para gadis semakin tajam melihatnya.
__ADS_1
"Uncle, kamu sengaja, ya?" cicitnya.
"Sudahlah, setelah ini masih ada yang harus aku urus. Ayo ikut denganku, mereka sudah menunggu kita." Brandon menarik tangan Bia mengikutinya.
Melihat Brandon dan Bia turun dari panggung, Nugraha juga mulai bergerak, "Clara, mereka sudah pergi. Ayo, kita juga bergerak sekarang," ajak Nugraha.
*****
Di dalam ruangan Rektor, Bia dan Brandon duduk di sofa. Saat Nugraha dan Clara masuk, tatapan tajam sang Rektor langsung jatuh padanya. Clara yang sibuk mengamati wajah Brandon, tidak memperhatikan wajah Rektor.
"Duduklah, Pak!" perintah Rektor pada Nugraha.
"Terima kasih."
Clara menatap tajam pada tangan Brandon dan Bia yang saling menggenggam. Dan lagi, duduk mereka yang tidak berjarak membuatnya semakin memanas. Dia mengepalkan tangannya, giginya yang saling bergemeratak tertangkap oleh penglihatan Bia.
Bukannya dia mau menghukum Bia dan meminta maaf padaku? Lalu, kenapa mereka malah sedekat itu? Apapun alasannya, aku tidak bisa menerimanya.
"Brandon, kenapa kau duduk sangat dekat dengan wanita itu? Tanganmu juga menggengam tangannya, kenapa?" sergah Clara dengan tatapan sendu nan kecewa.
Brandon beralih, wajah sendu Clara membuatnya ingin tertawa. Dengan entengnya, dia memberikan satu jawaban yang membuat semua orang di ruangan itu terkejut.
"Karena dia istriku!"
-Bersambung-
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga rate 5 ya guys 🙏🙏🙏
Terima kasih ❤️❤️❤️