
"Jika yang aku khawatirkan memang benar-benar terjadi, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus menyerahkan Bia pada Rita? Atau harus menahannya? Tapi, dia Ibunya... Entahlah, yah bisa kulakukan hanya menyerahkan semua keputusan pada Bia.
Setelah dari butik Wila, Bia dan Brandon bergegas ke salah satu make-over terkenal.
"Kamu mau look yang seperti apa?" tanya seorang pria tulen yang memiliki hobi makeup.
"Flawless saja," jawab Bia, dia tidak mau terlihat terlalu mencolok.
Dengan tangan lihainya, pria itu memulai ritual make-upnya, membuat customernya menjadi bidadari dalam sekali polesan.
"Selesai!" serunya.
Bia membuka matanya dan melihat dirinya di cermin di depannya. Wajah pucatnya telah berubah menjadi lebih cantik dan berwarna, membuatnya sangat takjub dengan dirinya sendiri.
Bia melihat Brandon yang masih sibuk memainkan ponselnya. "Brandon, aku cantik, kan?" tanya Bia dengan kepercayaan diri yang tinggi.
"Lumayan!" jawab pria itu seadanya. "Ayo, nanti kita telat!" serunya sambil berlalu keluar.
Lumayan? Jadi, menurut dia wanita cantik itu yang seperti apa? Setiap kali melihatku, wajahnya tidak pernah tersipu, hanya wajah batu itu yang terus diperlihatkan olehnya!
Bia berdecak kesal dalam hati.
"Terima kasih," ucapnya pada pria yang telah merubahnya menjadi cantik. Sejurus kemudian, dia berbalik dan merubah raut wajahnya.
Bia masuk ke dalam mobil sambil menggerutu, wajahnya yang memberengut kesal tidak bisa disembunyikan. Hanya saja, Brandon tidak peduli dengan kekesalan wanita itu. Dia fokus menyetir, menyusuri jalan malam yang mulai terang dengan lampu-lampu berwarna-warni yang menghiasi jalan.
"Turunlah!" titah Brandon setelah memarkirkan mobilnya.
Bia tidak menjawab, buru-buru dia turun. Dia sengaja berdiam diri karena dirinya sedang menyatakan bahwa dia sedang marah, ingin melihat, apakah pria itu merasa di diamkan atau tidak.
"Ayo!" ajak Brandon yang berjalan duluan.
"Dasar pria aneh! Tidak bisakah dia menggandeng tanganku seperti pasangan muda lainnya? Oh, dia kan sudah tua, jadi mana mengerti kebiasaan anak muda!" cetusnya tanpa rasa bersalah.
"Bia!" panggil seseorang dari arah samping.
"Kau? Kenapa kau di sini?" tanya Bia pada seorang pria yang tadi memanggilnya.
"Kenapa kau di sini?" tanya Jonathan yang membalas Bia dengan pertanyaan lain.
"Itu bukan urusanmu, Jo!" ketus Bia. Bia hendak berlalu meninggalkan Jonathan, tapi pria itu langsung mencekalnya hingga langkah Bia terpaksa terhenti.
"Jonathan, lepaskan tangan kotormu! Jangan sembarangan menyentuhku!" sentak Bia.
"Malam ini kau cantik, Bia. Kurasa aku mulai menyukaimu lagi!" ucapnya tanpa tahu malu.
__ADS_1
"Tapi aku sudah tidak mencintaimu lagi! Jadi, lebih baik kau menyingkir dari hadapanku sekarang juga!" sergah Bia berang.
"Kau yakin? Seingatku kau sangat mencintaiku, Bia! Ayolah, tidak perlu munafik denganku. Kalau kau mau, aku bisa menerimamu sebagai teman ranjangku, bagaimana?" ucapan Jonathan sangat jelas kalau pria itu sedang menjatuhkan harga diri Bia.
"Jangan kurang ajar! Bahkan sekarang aku jijik melihatmu! Lepaskan tanganmu!" pekik Bia lagi, namun Jonathan hanya menanggapinya dengan senyuman mengejek.
"Aku tahu kau masih sangat-sangat mencintaiku, aku sedang memberikan kesempatan untukmu, jangan menolaknya," ledek Jonathan. "Jangan bilang, karena patah hati denganku, kau malah mencari pria lain dan memberikan kesucianmu padanya?" lanjut Jonathan sembari menyeringai.
Bia terbelalak kaget, dia tidak percaya Jonathan bisa mengatakan hal yang paling sensitif baginya.
"A-aku ti-tidak...." Bia tergagap, dia sendiri bingung dengan apa yang mau dikatakan.
"Apa yang aku katakan benar?" tanya Jo lagi, "kalau begitu, kau tidak perlu munafik lagi, Bia!" imbuhnya masih dengan senyuman mesum.
Bia masih tercenung, dirinya tersentak kaget saat Jonathan menarik tangannya dengan kasar.
"Aw! Kau mau membawaku ke mana?" pekik Bia.
"Kita akan bersenang-senang!"
"A-apa? Lepaskan aku!" teriak Bia.
Jonathan membuka pintu mobil yang berada di sampingnya dan melemparkan Bia ke dalam mobilnya.
"Jo, lepaskan aku! Apa yang kau lakukan?" Bia berteriak-teriak sambil menggedor-gedor kaca namun tidak ada yang datang menolongnya.
"Ckckck, tidak kusangka kau sangat pendendam, Bia!" Jonathan berdecak santai.
"Aku sudah mau menikah, Jo. Jika kau berani melakukan sesuatu padaku, kau akan hancur!" ancam Bia agar pria itu mau melepaskannya.
"Menikah? Dengan sugar Daddymu? Kau persis seperti Ibumu!" ejek Jonathan menyeringai.
Di restaurant, sejak tadi Brandon sudah duduk di kursinya, namun Bia belum menampakkan batang hidungnya.
"Brandon, di mana calon istrimu?" tanya Belle.
"Semua orang sudah berkumpul, tapi dia belum terlihat, apakah ada sesuatu yang terjadi padanya?" imbuh Rena, mereka sudah bertanya-tanya sejak tadi, hanya Brandon yang terlihat santai.
"Bia, kau di mana?" gumam Tasya sambil celingak-celinguk mencari keberadaan sahabatnya itu.
"Mungkin dia sedang di toilet," sahutnya enteng.
"Toilet? Ini sudah lewat dari setengah jam, Brandon!" kini Embun yang angkat bicara. "Kenapa kau terlihat santai sekali? Kau tidak khawatir akan ada sesuatu yang terjadi pada calon istrimu?" imbuhnya.
"Hilsa, cari Bia di toilet!" titah Embun sembari mendengus kesal.
__ADS_1
Lima menit berlalu, Hilsa kembali dengan wajah panik.
"Mommy, Bia tidak ada dimanapun," seru Hilsa.
Mata tajam Embun langsung menghujani Brandon. "Brandon, di mana Bia?!"
Sial! di mana gadis itu? Apakah dia melarikan diri?
"Aku akan mencarinya!" Branson langsung berlari keluar.
Tasya, Gavin, dan Valeri ikut berlari mengejar dari belakang. Kekhawatiran jelas tersembunyi dalam relung Tasya, nasib sahabatnya sedang dipertanyakan saat ini.
Mereka semua berhenti di parkiran restaurant tempat di mana Brandon memarkirkan mobilnya tadi. Mereka mencari di sekeliling tapi tetap tidak menemukan orang yang mereka cari.
"Bia, kau di mana? Semoga kau baik-baik saja!" gumam Tasya, sudah berulang kali dia menghubungi wanita itu tapi tidak ada jawaban apapun.
Tiba-tiba Tasya teringat saat Jo mengatakan kalau pria itu akan datang ke restaurant ini untuk berkumpul dengan teman-temannya.
"Paman, sepertinya aku tau di mana Bia berada," ucap Tasya.
"Di mana?" tanya Brandon yang ikut merasa cemas.
"Kita harus pergi ke suatu tempat!"
"Ayo!"
Tasya menyusuri jalan ke rumah Jonathan. Hatinya mengatakan kalau Bia sedang bersama dengan pria itu, perasaan tidak tenangnya mengartikan kalau sahabatnya sedang tidak baik-baik saja.
Tasya meremas jari-jarinya, ketakutan benar-benar telah menusuk hatinya. Sampai matanya menangkap sebuah mobil yang dikenalinya sedang terparkir di pinggir jalan.
"Paman, Bia di dalam mobil itu!" Tasya menunjuk ke arah mobil itu dengan yakin.
Mereka semua turun berbondong-bondong menghampiri mobil yang terparkir di jalanan itu. Brandon berulang kali menggedor kaca mobil itu sekuat tenaga, kecemasan yang berubah menjadi emosi kian menjadi-jadi, semakin lama ketukannya semakin kuat.
"Tasya, kamu yakin Bia ada di dalam?" tanya Gavin, dia tidak mau mereka salah orang dan waktu mencari Bia semakin terbuang banyak, dan hal itu akan menciptakan peluang lebih banyak kalau Bia akan terluka.
Tasya mengangguk.
"Memangnya siapa yang membawanya?" tanya Gavin lagi.
"Mantan pacarnya. Dan ini mobilnya, aku yakin itu!" kekeuh Tasya.
-Bersambung-
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, gift, dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga rate 5 ya guys 🙏
__ADS_1
Terima kasih ❤️❤️❤️