
Bia terdiam, dia sedang menimbang, apakah harus memberitahukan yang sebenarnya dan membatalkan perjanjian yang sudah dia buat dengan Brandon, atau memilih melanjutkannya agar Bibinya tak kecewa?
"Bia?" Wila kembali memanggil, dan gadis itu kembali terkejut.
"Kamu masih melamun? Ada apa?" tanya Wila lembut.
"Tidak ada, Bi. Ayo kita masuk ke dalam!" ajaknya sambil tersenyum senang.
Bia dan Wila berjalan beriringan masuk ke dalam, semua sorot mata mengarah pada mereka.
Bia mendudukkan bokongnya di tempat duduknya tadi.
"Jadi, bagaimana keputusanmu, Bia?" tanya Wila memecah keheningan.
"A-aku menerima lamaran ini, Bi. Aku mau menikah dengannya."
Mendengar jawaban Bia, semua orang yang berada di sana tersenyum dan mulai menghela nafas panjang. Bia dan Brandon ikut tersenyum, senyum kegetiran itu hanya bisa dirasakan oleh merek berdua.
"Jadi, kapan pernikahan akan dilangsungkan?" tanya Belle, sejak tadi dia menyikut Brandon dan sibuk berbisik agar pria itu memasang senyum di depan Wila.
"Brandon, tersenyumlah! Jangan sampai Bibi calon istrimu mengira kalian menikah karena keterpaksaan!" bisiknya.
"Diamlah, Kak!" balas Brandon kesal.
"Bagaimana kalau tiga Minggu lagi, sembari memberi waktu untuk saling bersiap," usul Embun.
"Ya, lebih cepat lebih baik," sahut Rena yang akhirnya buka suara.
"Bagaimana, Nyonya Wila? Apakah Anda setuju dengan usulan kami?" tanya Embun meminta pendapat.
Wila tersenyum, hatinya menghangat karena ternyata keluarga Brandon masih menghargainya, tidak mengambil keputusan sebelah pihak.
"Kalau kalian sudah memutuskan yang terbaik,. saya ikut saja," jawabnya.
Setelah kesepakatan telah dibuat diantara kedua belah pihak, keluarga Brandon pamit undur diri.
"Brandon, kamu tidak di sini saja bersama calon istrimu? Inikan akhir pekan, kesempatan untuk mengajaknya jalan-jalan, kan?" goda Rey.
"Jangan dengarkan kadal ini, Brandon. Ayo pulang, biarkan calon istrimu beristirahat," sanggah Daniel.
"Sudah tua masih saja bertengkar!" cebik Bara sambil berlalu meninggalkan Rey dan Daniel yang masih adu argumen.
*****
"Bia, selamat!" ucap Tasya, wanita itu menerobos kamar sahabatnya begitu saja.
"Kenapa kau masih di sini?" ketus Bia tanpa menoleh pada Tasya yang duduk di sampingnya.
"Kenapa wajahmu muram seperti itu? Tersenyumlah calon pengantin," goda Tasya sambil mencolek dagu Bia.
"Tadi kau ke mana saja, Tasya? Aku lelah menghubungimu tapi tidak ada jawaban apapun darimu. Taunya kau datang bersama mereka?!" cecar Bia, wajah kesalnya tak dapat ia sembunyikan.
"Maafkan aku, Bi. Aku hanya mau kamu berpikir lebih dewasa dan tidak mengecewakan Bibi Wila."
__ADS_1
"Memangnya kau tahu kenapa aku menghubungimu?" sungut Bia.
"Untuk membantumu melarikan diri, kan?" jawaban Tasya membuat Bia terperangah. "Bi, seberat apapun sebuah masalah, melarikan diri bukanlah jalan keluar yang baik."
"Aku mengerti, Tasya. Aku menghubungimu, ingin memintamu menemaniku. Tadi aku sangat gugup...." keluh Bia.
"Aku juga gugup tadi," sambar Tasya sambil menunjukkan sederet giginya.
"Kenapa?" kening Bia mengerut dalam sebab tidak mengerti.
"Tadi Gavin mempertemukan aku pertama kali dengan Tante Belle dan Om Daniel, dia mengenalkanku sebagai pacarnya, membuatku sangat gugup, Bi," jelasnya.
"Benarkah?" tanya Bia, matanya berbinar, ikut senang dengan kebahagiaan sahabatnya.
"Lalu, bagaimana dengan Jo?" Bia menaikkan sebelah alisnya gantian menggoda Tasya.
"Menyebut namanya, mengingatkanku pada sesuatu, bukankah kau sudah berjanji untuk membantuku putus dengannya?"
"Hahahaha! Untuk tiga Minggu ke depan sepertinya aku belum bisa berpikir untuk hal itu. Aku harus menyiapkan pernikahanku, kan?"
"Bi, bagaimana bisa kamu dekat sampai mau menikah dengan Paman Brandon?" tanya Tasya, rasa penasarannya sangat besar.
Apa yang harus aku jelaskan padanya? Tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya. Aku malu....
"Apa jangan-jangan malam itu...?" Tasya mulai menerka-nerka.
"Jangan sembarangan berpikir!" sentak Bia.
"Dan sekarang kalian benar-benar menikah? Kalian memang sangat berjodoh, ya? Jika Tuhan telah menetapkan takdir, sejauh apapun kau berlari, seberusaha apapun kau menghindar, tempatmu kembali tetaplah orang yang sudah ditakdirkan itu," oceh Tasya.
Saat mereka sedang berbincang-bincang, ponsel Bia berbunyi.
"Siapa, Bi?"
"Tidak tahu, nomor tidak dikenal."
"Jawablah, mungkin saja ada sesuatu yang penting," ujar Tasya.
"Hum!" Bia mengangguk.
"Halo, siapa?" tanya Bia.
"Ini aku, Brandon!"
"Kau? Ada apa? Jika tidak ada kepentingan lain, tutup saja panggilanmu. Aku sibuk!" ketus Bia.
"Aku ingin bertemu, kutunggu di restaurant saat itu, sekarang!" titahnya setelah itu langsung memutuskan sambungan telepon mereka sepihak.
"Dasar pria tua! Kalau kau mau bertemu, jadi aku harus menemuimu? Cih, tunggu saja sampai wajahmu berubah jadi berekspresi!" umpat Bia membuang ponselnya.
"Siapa, Bi? Kenapa kau sekesal itu?"
"Uncle Brandon, dia memintaku untuk menemuinya. Bukan meminta, lebih tepatnya memerintah!" cebiknya kesal.
__ADS_1
"Lalu, kenapa kau tak menemuinya?"
"Siapa yang mau menuruti permintaan orang tua itu? Tidak akan!" kekeuhnya.
"Kamu tidak penasaran apa yang ingin dibicarakan olehnya?" pertanyaan Tasya memancing rasa penasaran Bia.
Benar juga. Ada baiknya temui dia dulu.
"Tasya, antarkan aku...." pintanya memelas.
"Baiklah, ayo!"
*****
Bia tiba di sebuah restaurant, restaurant yang menjadi saksi bisu saat Bia mengenalkan Brandon pada Wila sebagai pacarnya. Kini, Bia kembali menginjakkan kakinya ke tempat yang sama dan akan menemui orang yang sama pula.
"Anggap saja nostalgia," gumamnya.
Bia memasuki sebuah ruangan VIP.
"Tuan Brandon sudah menunggu Anda di dalam," ucap seorang pelayan yang memandunya ke ruangan tersebut.
"Terima kasih," ucap Bia sebelum pelayan itu pergi menjauh.
"Tidak perlu sungkan, Nyonya," balas sang pelayan itu lagi.
Nyonya? Bia tersenyum getir.
"Duduklah!" seru Brandon pada Bia yang sudah masuk ke dalam. Terdapat banyak makanan di atas meja yang sudah di pesan.
"A-aku tahu kau menyukai apa. Jadi, asal pesan saja," ungkapnya.
Basa-basi yang sangat buruk, batin Bia.
"Oh? Aku masih kenyang, tak bisa memakan semua makanan ini. Apa yang ingin Anda katakan?" Bia langsung menuju pada intinya.
"Aku memintamu datang kesini untuk membicarakan persyaratan pernikahan yang akan segera kita langsungkan," tutur Brandon.
"Lalu, persyaratan seperti apa yang ingin Anda ajukan?"
"Persyaratanku?" dia tampak berpikir kemudian melanjutkan berkata, "Karena kita berada disituasi yang sama dan saling membutuhkan, aku tidak memiliki persyaratan apapun. Jika kau memilikinya, kau bisa mengajukan padaku!" tangkas Brandon.
Bia tersenyum sambil menaikan sebelah alisnya.
"Seperti pernikahan terpaksa pada umumnya, aku tidak bersedia kau menyentuhku, jangan mengusik hal pribadiku, bersikap baiklah di depan Bibiku selayaknya seorang suami dan aku akan melakukan hal yang sama, dan yang terakhir aku ingin ada tenggat waktu untuk pernikahan tanpa cinta ini!" tandas Bia serius.
"Tenggat waktu?"
"Ya, aku tidak ingin berlama-lama menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tak pasti," ujar Bia
"Bagaimana kalau satu tahun?" imbuhnya lagi.
-Bersambung-
__ADS_1