Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)

Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)
Keputusan Menikah


__ADS_3

Wila menatap punggung Bia dengan tatapan nanar, air matanya luruh, ia tersedu dalam diam menelan semua kepahitan yang sedang ia rasakan saat ini, tak ada niatan untuk berbagi kepada siapapun. Wila meremas tissue itu hingga tak berbentuk.


"Maafkan Bibi, Bia!" gumamnya sambil menahan isak tangisnya. Namun, sekuat apapun dia menahan isakan tangisnya, suara-suara isakan itu tetap saja terdengar oleh Bia yang sedang berdiri di ambang pintu.


"Apa yang terjadi pada Bibi Wila? Kenapa dia memilih menyembunyikan hal ini dariku? Aku harus mencari tahu apa yang terjadi, aku tidak mau dia memikul beban seorang diri," gumam Bia.


"Bibi Wila, ini minumnya." Bia menyodorkan segelas air hangat untuk Wila. Wila langsung meminum air itu hingga tersisa sedikit. Dia menyerahkan gelas itu lagi pada Bia.


"Bi, ada yang ingin Bibi bicarakan denganmu," ucap Wila sambil terbatuk-batuk.


"Kenapa, Bi? Apa yang mau Bibi bicarakan?" tanya Bia sambil mengelus-elus punggung tangan Wila.


"Bibi mau pernikahanmu dengan Brandon di percepat, Bi!" seru Wila serius.


"Apa? Tapi kenapa?!" sentak Bia kaget dengan permintaan Wila.


"Bibi hanya ingin melihatmu bersanding, Bia. Bisakah kamu menuruti permintaan Bibi?" pinta Wila, suaranya sangat lemah, membuat Bia semakin curiga ada sesuatu yang salah dengan Bibinya.


Bia terdiam, dia tidak langsung menyetujui permintaan Bibinya yang terasa berat untuk dia iyakan. Padahal, dalam benaknya dia sudah menyusun rencana untuk membatalkan pernikahan ini, meskipun buah yang akan diterimanya adalah kebencian dan kekecewaan.


Namun, setelah melihat keadaan Bibinya yang melemah, hatinya tak kuasa untuk menolak namun persetujuan juga tidak bisa dia iyakan, hatinya benar-benar gamang.


"Bi, kenapa melamun? Kamu keberatan?" tanya Wila, memegang lengan Bia agar wanita itu tersadar dari lamunannya.


"Bibi, bisakah aku memikirkannya terlebih dahulu?" tukas Bia.


"Baiklah. Tapi, Bibi mau secepatnya mendengar jawabanmu, ya?"


Bia menganggukkan kepalanya, "kalau begitu aku masuk ke dalam dulu, Bi," pamitnya.


"Bia, pikirkanlah baik-baik. Bibi selalu menunggu jawabanmu," ujar Wila.


Bia hanya tersenyum simpul, senyuman itu juga dia paksakan. Tanpa menoleh lagi Bia kembali ke kamarnya dengan pikiran yang berkecamuk.


*****


Bia terduduk di tepi ranjangnya. Dia mengusap kasar wajahnya yang sudah dibasahi oleh air mata.


"Apa yang harus aku lakukan, Tuhan? Kenapa rencanamu begitu rumit untukku? Maaf karena aku terlalu banyak mengeluh pada-Mu. Tapi, hanya itu yang bisa kulakukan!" gumamnya pelan.


Bia meringkuk di ranjangnya, pikirannya mulai berkelana, memikirkan keputusan apa yang harus dia ambil ke depannya.

__ADS_1


"Aku sudah berjanji untuk menjalani pernikahan satu tahun, maka aku harus menjalaninya. Kehidupan tanpa cinta memang menakutkan. Tapi, mengecewakan orang yang kita sayang itu jauh lebih menyakitkan! Jadi, aku akan memilih untuk tetap maju dan membuat Bibiku tersenyum meski pada akhirnya dia akan kembali kecewa karenaku." setelah berpikir lama, begitulah keputusan yang dia ambil.


Walau pikirannya sedang berkelana, Bia akhirnya tertidur. Hari ini terlalu banyak insiden yang terjadi yang menguras emosi dan tenaganya.


*****


"Bia, bagaimana keputusan kamu?" tanya Wila di meja makan.


"Aku menerimanya, Bibi Wila. Jika Brandon dan keluarganya setuju, kami akan mengadakan pernikahan lebih cepat," jawabnya sambil memejamkan matanya. Ada rasa tak rela, namun dia terpaksa untuk menerimanya.


"Bibi akan segera membicarakannya dengan keluarga Brandon!" seru Wila bersemangat.


"Hum!" sahut Bia pasrah.


"Bia sudah selesai, Bia berangkat sekarang, Bi." Bia mencium punggung tangan Wila dan berangkat dengan menumpangi taxi.


Di perjalanan Bia lebih banyak termenung tanpa bicara sedikitpun. Mulut yang biasanya sering mengoceh banyak kata-kata tak bermakna kini hanya diam seribu bahasa, mata yang biasanya jelalatan melirik sana sini kini hanya terpejam pasrah, sebegitu bingungnya dia. Meskipun dirinya sudah membuat keputusan, namun hatinya selalu bergejolak tak bisa menerima keputusan yang dibuatnya sendiri.


"Nona, kita sudah sampai!" ucap sang supir taxi menyadarkan Bia dari lamunannya.


Setelah membayar dengan uang tunai, Bianturun dari taxi. Kakinya yang lincah sekarang hanya bisa melangkah dengan lunglai.


"Bia, Bu Clara menunggumu di ruangannya!" ucap seorang wanita yang tidak sengaja berpapasan dengannya.


"Ya, Bu Clara tadi mengatakan pada beberapa orang, jika sudah melihatmu datang, kamu diminta untuk datang ke ruangannya saat itu juga."


Bia tersenyum, "terima kasih," ucapnya.


"Sama-sama." wanita itu langsung berlalu meninggalkan Bia.


"Ada apa dia memanggilku? Bukankah di antara kami tidak ada kepentingan?!" gumamnya.


Sejuta rasa penasaran membawanya ke depan sebuah ruangan, sempat ragu untuk masuk, tapi rasa penasaran itu seketika langsujg menghilangkan ragunya.


Tok


Tok


Tok


Bia mengetuk pintu tiga kali, jika tidak ada yang menjawab dari dalam, dia tidak jadi masuk, itu tekadnya.

__ADS_1


"Masuklah!" sahut seorang wanita dari dalam.


Hari ini kau memang kurang beruntung, Bia!


"Ada apa Bu? Kenapa anda memanggil saya?" tanya Bia yang dasarnya memang tidak suka basa-basi.


"Silahkan duduk!" ucapnya mempersilahkan.


Bia langsung duduk, dia bertatapan dengan Clara namun belum ada yang memulai pembicaraan.


"Kalau tidak ada yang harus dikatakan, saya permisi, Bu. Saya masih ada kegiatan lain!" seru Bia.


"Saya akan berbicara langsung pada intinya."


"Sekali lagi saya akan bertanya, ada hubungan apa kamu dengan Brandon?" pertanyaan Clara membuat Bia sangat jengah.


"Itu lagi?" sergah Bia.


"Ya, pertanyaan ini akan selalu saya layangkan untuk kamu jika kamu selalu enggan untuk jujur!" ketus Clara, sebenarnya dia juga malas melihat Bia. Tapi, demi memperjelas hubungan antara Bia dan Brandon dia terpaksa menemui gadis kecil ini.


"Akan selalu saya tegaskan pada Anda, aku dan Brandon tidak memiliki hubungan spesial apapun!" sentak Bia, dirinya sangat sebal degan pertanyaan berulang.


Memang aku dan dia ada hubungan apa? Hanya akan pura-pura menikah saja, itu tida termasuk hubungan spesial, kan?


"Tapi, aku melihat hubungan kalian lebih dari itu. Bahkan, kalian sangat akrab!" cecar Clara.


"Oh? Kapan Anda melihatnya? Seingatku aku tidak pernah menunjukkan keakraban apapun!" bantahnya.


"Kemarin!" tegas Clara, dia menyeringai melihat wajah Bia yang berubah pias. "Kau bersama dengannya, kan?" imbuhnya.


Bia hanya diam, menutup mulutnya rapat-rapat, tidak ada niatan untuk menjelaskan apapun pada wanita di depannya itu.


"Kenapa bungkam? Sudah tidak bisa menjawabnya? Karena yang aku tudunkan ini benar, iya, kan?" tuduhnya lagi semakin menyudutkan Bia.


"Haninbia Asfara! Ckckck, seharusnya kau cukup tahu diri siapa dirimu ini. Sehelai rambut pun tidak pantas berada di dekat Brandon. Tapi, malah berani mencoba menggoda Brandon? Aku salut padamu. Maukah kamu mengajariku ilmu tidak tahu malu ini?!" sinis Clara semakin memojokkan Bia dengan kata-kata nyelekitnya.


-Bersambung-


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga rate 5 ya guys 🙏🙏


Maaf karena beberapa hari ini author jarang update, karena jadi kurang semangat liat kalian yang kayaknya kurang puas, hehehe.

__ADS_1


Tapi, terima kasih yang udah mampir❤️❤️❤️


__ADS_2