
"Aku tidak lapar. Hanya saja, Brandon terlihat tampan. Makanya aku terus memperhatikan dia," jujur Ben. Semua orang langsung saling melempar pandangan. Tidak terlalu mengerti dengan maksud Ben.
"Oh? Paman Brandon kami memang selalu tampan. Jadi, Kak Ben tidak perlu heran dan terus menetapnya seperti itu," timpal Hansel, hanya mencoba untuk akrab dengan Ben, yang dikenalinya sebagai teman Brandon.
Tidak ada sahutan lagi dari pria gagah itu. Sampa akhirnya, Brandon dan Bia menyelesaikan sarapan mereka.
"Ayo ! Kita berangkat sekarang!" ajak Brandon.
"Brandon, kamu harus menjaga Bia baik-baik. Jangan biarkan dia terluka sedikitpun. Dia sedang mengandung!" ucap Embun resah, hatinya merasa seperti ada sesuatu hal yang buruk yang akan terjadi.
"Iya, Kak. Tenang saja. Percayakan Bia padaku, ya!" Embun hanya mengangguk. selain mempercayakan Bia pada suaminya, tidak ada lagi yang bisa dilakukan Embun.
"Kalian semua hati-hati, ya! Niat mereka ke sana bulan madu. Jangan sampai bulan madunya gagal karena sibuk mengurusi kalian si penguntit ini!" kecam Daniel dengan wajah garangnya.
Semua orang tertawa, hanya Ben yang tetap mendatarkan wajahnya. Bia melirik pada Ben, sesaat matanya dan pria itu bersitatap dan langsung diakhiri Bia dengan senyum simpul.
Arga, Hansel, Valerie, Hilsa, Tasya, Gavin, Ben, Brandon, dan Bia masuk ke dalam mobil. Meraka diantarkan oleh supir pribadi keluarga Wirastama menuju ke bandara.
"Akhirnya aku liburan!" teriak Hansel di dalam mobil dan langsung mendapat tatapan sinis dari Hilsa. "Hey, bisakah kau diam saja? Jangan seperti orang udik!" ketus Hilsa, kesal melihat tingkah Kakak kembarnya itu.
Hansel menatap sebal Hilsa. memutar kedua bola matanya. "Itu sebabnya aku malas bersama dengan wanita ini!" lirihnya kesal.
"Ckck!" dua saudara kembar itu terus saja berdebat. Namun, tidak ada yang melerai mereka, sudah sangat tahu bagaimana sikap keras kepala keduanya.
Mereka menaiki pesawat, tujuan mereka saat ini adalah sebuah pulau yang dikelilingi lautan dan pantai. Pulau pribadi milik Brandon itu sangat ketat penjagaannya. Tapi, Brandon semakin memperketat penjagaan karena ada Ben bersama mereka.
__ADS_1
"Bagaimana persiapannya? Apa lancar?" tanya Bia pada Brandon yang terlihat gugup.
"Kenapa kamu terlihat gugup? Jangan-jangan, kamu tidak setuju dengan rencanaku ini?" tanya Bia.
"Bukan begitu, Bi. Aku hanya tidak yakin kalau rencanamu ini bisa membuatnya berubah sepenuhnya," ucap Brandon mengutarakan isi pikirannya.
"Brandon, kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Aku sudah membuat pertimbangan. Kita hanya perlu mencobanya saja. Aku sangat yakin, dia bisa berubah, hanya saja tidak dalam waktu singkat. Kita hanya perlu membuatnya kecanduan dan selalu membutuhkan rasa itu!" tegas Bia, tidak sependapat dengan kekhawatiran sang suami.
"Jangan pernah menurunkan kewaspadaan." Bia kembali memperingatkan.
"Baiklah." Brandon mengangguk.
Setelah menempuh penerbangan selama empat jam. Akhirnya, mereka mendarat.
"Wah! penginapan di tengah pulau?" semua orang terkesima dengan pemandangan di depan mereka.
"Paman, pulau ini kamu wariskan untuk aku saja!" pinta Hansel tanpa tahu malu.
"Hey! Memangnya kau siapa? Bukan anaknya juga. Lihatlah! Bibi Bia sedang mengandung, dia lah yang akan mewarisi semua kekayaan Paman Brandon termasuk pulau ini!" sungut Gavin.
"Sudahlah. Ayo kita masuk ke dalam!"
Saat masuk ke dalam, Brandon menatap seorang bodyguard yang paling dia percayai. Bodyguard itu mengangguk samar pada Brandon.
"Semuanya sudah beres," ucap Brandon setengah berbisik pada Bia.
__ADS_1
"Baguslah!" Bia tersenyum. Sekarang, mereka hanya tinggal menunggu obat tersebut bereaksi dan mereka bisa menyaksikan sebuah pertunjukan menarik. Pertunjukan yang akan mengubah penyimpangan Ben selama ini.
setelah mendapatkan kamar mereka masing-masing, mereka masuk dan tidur. Berbeda dengan Brandon dan Bia yang sejak tadi terus memantau sebuah monitor yang langsung terhubung ke kamar Ben.
Pria itu sedang berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Terlihat gelisah, seperti ada sesuatu yang membuatnya ingin melepaskan semua pakaiannya.
"Kenapa panas dan gelisah, ya?" gumam Ben. Tiba-tiba, kedua tangan Ben terasa kaku. Kemudian, disusul dengan anggota tubuhnya yang lain.
"Kenapa ini?" gumamnya bertanya-tanya. Sebelum kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan, Ben berjalan cepat ke arah ranjang. Walau sedikit tertatih akhirnya dia merasa lega ketika bisa berbaring di atas ranjang.
"Kenapa hanya tubuhku? Kesadaranku tidak menurun sedikitpun. Bisa berbicara normal, tidak seperti orang lumpuh pada umumnya," Ben berteriak-teriak meminta pertolongan dari orang-orang di luar. Namun, kamarnya kedap suara. Di depan pintu kamarnya pun ada empat orang bodyguard yang berjaga. Jika ada orang lain yang mencoba menerobos masuk maka akan dihalangi oleh keempat bodyguard tersebut.
"Siapa saja yang berada di luar! Cepat tolong aku ... tolong!" tidak henti-hentinya Ben berteriak minta pertolongan.
Sedangkan bodyguard yang bersiaga di luar, hanya mendengar samar-samar suara permintaan tolong pria itu. Karena tau apa yang selanjutnya akan terjadi, mereka semua memilih diam dan menulikan pendengaran.
Seorang gadis cantik dengan memakai pakaian minim masuk ke dalam. Wajahnya yang sangat cantik dan anggun berbalut make-up tipis dan lipstik nude membuat cantiknya wanita itu terkesan alami.
Heelsnya yang berbenturan dengan lantai mengalihkan perhatian Ben. Wanita itu berjalan ke arah Ben yang menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Siapa kau? Pergi dari sini! Kenapa kau bisa berada di kamarku? Pergi!" bentakan beserta pengusiran tak bisa membuat wanita itu melenggang pergi. Justru, malah semakin mendekatkan dirinya pada Ben.
"Kau mirip seperti ikan menggelepar yang kekurangan air. Karena kau seorang pria gay! Berarti kau kekurangan wanita!" cicit wanita itu, membuka kancing kemejanya. Paha putihnya terlihat begitu jelas karena wanita itu tidak mengenakan celana.
"Hey, ******! Apa yang kau lakukan?" teriak Ben begitu marah melihat wanita itu hanya menyisakan lingerie di badannya.
__ADS_1
"Aku penolongmu, yang akan membantumu supaya bisa kembali bergerak!" celetuk wanita itu dengan senyuman manis yang sesaat dapat membius Ben.
*BERSAMBUNG*