
"Pergi kau wanita ******!" Ben melihat ke arah tasnya. Giginya bergemelatuk, ingin mengambil pistol namun tubuhnya tak bisa digerakkan barang sedikit pun.
"Wanita ****** inilah yang akan membantumu kembali ke jalan yang benar!" cetus wanita itu, ada kegentaran di wajahnya ketika akan melucuti pakaian Ben.
"Aku tidak butuh! Pergi! Atau aku akan membunuhmu!" ancam Ben, dia begitu tidak sudi disentuh oleh seorang wanita.
Wanita itu tidak perduli. Baginya, bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat, itu lebih baik daripada harus terus menurut mendapatkan umpatan dan cacian dari mulut Ben.
Meski harus bersusah payah melucuti pakaian Ben sampai pria itu benar-benar polos, barulah aksi wanita itu dimulai. Dia mulai memegang senjata laras panjang Ben, mengurut benda itu dengan tangannya.
Tanpa menunggu lama, senjata Ben sudah mengeras sampai menonjolkan urat-urat disekitarnya.
"Ternyata milikmu masih bisa bergairah dengan benar. Punyamu lumayan besar, ya. Aku ingin segera mencobanya.
"Ahh... hampir saja lupa. Panggil aku Caroline!" ucap wanita itu. Membuka lingerie yang membungkus tubuh indahnya.
Caroline mulai menggesek-gesekkan bukit kembarnya pada benda tumpul Ben. Pria itu mulai merasakan sensasi berbeda yang selama ini belum pernah dia rasakan.
"Aku sudah melihat data dirimu, ternyata kau masih perjaka. Baru aku mau menerima penawaran ini. Aku juga takut terkena penyakit aneh darimu!" cetus wanita itu.
Foreplay yang Caroline lakukan meran**ang titik kekuatan Ben. Pria itu jadi bergairah dan bernafas cepat.
"Sialan!" umpatnya karena tak bisa mengendalikan dirinya sendiri lagi.
__ADS_1
Setelah dirasa cukup, Caroline menyudahi Foreplay nya dan mulai ke permainan utama. "Aku akan membuatmu tahu, lubang mana yang lebih nikmat!" ucap Caroline sambil tersenyum. Wanita itu duduk di atas tubuh Ben dan memasukkan benda tumpul pria itu ke dalam goanya.
Bergerak-gerak lincah sampai Ben akhirnya mencapai klimaksnya. "Bagaimana, bandingkan saja rasanya sesuai imajinasimu!" tukas Caroline.
Ternyata, setelah Ben mencapai ke puncaknya, obat yang sengaja ditaruh ke dalam minuman Ben tak lagi bereaksi.
Dia langsung bangkit dan membalikkan posisi. Ben menggempur Caroline habis-habisan sampai wanita itu tak bertenaga.
Pria itu terkejut ketika melihat beberapa tetes darah di seprainya.
"Kau ... masih perawan?" Ben terbata-bata, dia mengancingkan kemejanya dan menaikkan resletingnya. Dia langsung pergi meninggalkan Caroline seorang diri yang sudah kehilangan tenaganya.
Langkah kaki besar Ben berjalan menyusuri Lobby. Di sana, Ben duduk termangu, memperhatikan sekitarannya yang dipenuhi dengan pasir putih.
Pria itu bergegas menemui Brandon dan Bia di dalam kamar mereka.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu terdengar. Brandon bergegas membukakan pintu. Saat tau siapa yang datang, Brandon mempersilahkan Ben masuk ke dalam. Banyak bodyguard yang bersiaga di luar.
"Terima kasih untuk wanita yang kalian kirim!" ucap Ben. "Aku tau, Brandon pasti sudah mengatakan yang sebenarnya tentang penyakitku. Jadi, pasti kamu yang merencanakan semua ini?" tudingnya pada Bia yang hanya langsung dijawab dengan anggukan oleh wanita itu.
"Dugaanku benar!" lirih Ben.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana? Apa sudah merasakan perbedaannya?" tanya Bia.
"Perbedaan?" Ben mengangkat sebelah alisnya. "Belum," jawabnya kemudian.
"Meskipun aku lebih tertarik pada pria, itu hanya berlaku untuk Brandon saja. Aku trauma pada seorang wanita, dan Ibuku lah yang menciptakan rasa trauma berat ini. Dia bermain gila dengan banyak pria di depanku, dan itu membuatku sangat jijik. Dan kejijikan itu membuatku membenci semua wanita. Kemudian, aku nyaman berada di sisi Brandon, dia yang sangat bersih, dan tidak pernah berhubungan dengan seorang wanita, membuatku berpikir, dia sama sepertiku, membenci wanita!" terang Ben, pandangannya melihat ke depan, seperti sedang menerawang ke depan.
"Hingga akhirnya, obsesiku semakin menjadi. Aku malah mencelakai seorang wanita tidak bersalah di masa lalu. Mungkin, Brandon juga sudah menceritakan kejadian ini padamu, ya!" Ben terkekeh. "Sungguh memuakkan!"
"Terima kasih karena sudah mau menarikku dari lubang hitam ini, menepis segala prasangka burukku. Kini, aku sudah sangat sadar, tidak semua wanita sama menjijikannya dengan yang aku bayangkan," kata Ben lagi sambil menyuguhkan senyum manisnya.
"Kupikir, kau datang ke sini untuk marah-marah," tukas Bia, tergelak bersama dengan Ben yang ikut terkekeh.
"Sebelum Caroline berhasil membuatku menikmati rasa itu, aku memang berniat membunuhmu!" seloroh Ben.
"Sekarang, apa kau masih menyukai suamiku? Jujur saja, memang aku lah yang mengusulkan ide gila ini. Sebelumnya, aku harus minta maaf padamu. Aku memang harus melakukannya. Aku wanita hamil yang sangat takut kehilangan nyawa dan suami. Apalagi, yang menjadi ancamanku seorang pria kekar yang garang. Kapan saja kau bisa mencelakaiku. Sekali lagi, aku mohon maaf," ucap Bia merasa tak enak hati.
"Tidak masalah. Justru, aku sangat berterima kasih karena kamu sudah membuka mataku lebar-lebar. Menyembuhkan penyakit takut dan jijik terhadap seorang wanita. Meski aku tak bisa berangsur-angsur membuang semua perasaan itu, mungkin jika aku terus bersama Caroline, aku bisa semakin membaik."
"Maksudmu? Kau dan Caroline akan--"
"Ya, aku akan menikahinya. Semoga kehadirannya bisa membawa perubahan besar dan warna baru dalam hidupku." niat Ben sudah begitu mantap.
"Baiklah. Apa pun niat baikmu, tentu kami akan mendukungnya." Bia tersenyum. Terasa ada beban besar yang seketika menghilang.
__ADS_1
-Bersambung-