
"Membicarakan aku? Apa yang kalian bicarakan di belakangku?" tanya Brandon sambil melotot tajam pada Hilsa yang nyalinya mulai menciut.
Bia melirik wajah Hilsa yang mulai pias, jantungnya ikut berdebar, entah kenapa dirinya sendiri juga tidak tau.
Apa semenakutkan itu Brandon di mata para keponakannya? Kalau begitu, aku benar-benar harus berhati-hati padanya.
"Hahaha!" Bia tertawa kencang membuat dua orang itu langsung melirik padanya. "Sayang, kami tidak membicarakanmu! Untuk apa kami membicarakan orang yang berada di dekat kami. Iya, kan, Hilsa?" Bia menyenggol bahu Hilsa sekuat tenaga sampai wanita muda itu terhuyung ke samping.
Bia menoleh melihat Hilsa sambil mengedipkan matanya, "iya, kan, Hilsa?" serunya lagi sambil merapatkan giginya.
"I-iya, Paman. Mana mungkin kami membicarakanmu. Memangnya kau pria paling tampan?!" cebik Hilsa mulai berani karena merasa ada pembelanya.
"Sayang, coba lihat, apa masih ada yang tertinggal?" Bia menarik Brandon kuat sampai pria itu terduduk di sampingnya.
Habislah kau Bia. Kenapa kau berani sekasar itu dengannya?
"Sudah. Kalau semuanya sudah siap kita harus berangkat sekarang!" tukas Brandon dengan wajah memerah.
Bia berdiri dan menatap wajah lekat wajah tampan Brandon. "Baiklah, Sayang!" seru Bia, dia sengaja melingkarkan tangannya di leher pria itu.
"Bia, jangan seperti ini!" Brandon mencoba melepaskan lilitan tangan Bia dari lehernya.
"Ah, ada Hilsa. Maaf aku lupa!" tukasnya sengaja.
"Hehehe, tidak apa-apa, Bia. Aku tidak melihat apapun," ucap Hilsa berkilah, padahal dia melihat semuanya dengan jelas.
"Paman, Bia, aku keluar dulu, ya," pamitnya.
"Sip!" Bia mengangguk.
"Bia, bisakah kamu menjaga sikapmu di depan orang lain? Jangan bertindak sesuka hatimu!" ketus Brandon, sepertinya pria itu terlihat kes.
"Kenapa? Kau suamiku, bukannya hal wajar jika aku memelukmu dan memanggilmu Sayang seperti tadi?" balas Bia, dia melihat wajah Brandon yang merona.
Hahaha, baru seperti itu saja sudah merona. Niatku untuk mengganggumu semakin besar.
"Ingat, Bia. Kita hanya pura-pura menikah. Setelah satu tahun akan bercerai. Jadi, jangan coba untuk meninggalkan kesan apapun padaku. Karena, aku tidak mau sampai diperbudak cinta," cetus Brandon.
"Meninggalkan kesan apanya? Uncle, kau sendiri yang mengatakan, kita harus membangun Chemistry agar hubungan kita lebih terlihat nyata. Kau lupa, ha? Aku hanya melakukan apa yang kau katakan, Uncle. Dan lagi, meskipun setelah setahun nanti hubungan kita harus kandas, aku hanya sedang melakukan yang terbaik. Aku tidak mau menjadi istri durhaka. Kau tahu apa maksud dari mendalami peran, kan?" cecar Bia.
__ADS_1
"Jadi, tolong jangan salah paham!" imbuhnya, setelah mengatakan itu semua, Bia berlalu meninggalkan Brandon yang masih terpaku di tempatnya.
"Melakukan yang terbaik untuk hubungan pura-pura ini? Heh, tidak ada gunanya kecuali kau sudah jatuh dalam permainan ini," gumam Brandon.
*****
"Kukira apartemen yang akan kami tinggali itu sederhana. Tidak menyangka bisa semewah ini," gumam Bia berdecak kagum memandangi sekitarnya.
"Kamu pasti sangat senang karena sudah menjadi Nyonya Brandon Wirastama!" ucap Tasya sambil merangkul Bia.
"Hahaha, tidak juga."
"Tidak mungkin. Kau pasti senang, ayo jujur padaku!" Tasya memaksa.
"Tasya, terima kasih karena sudah datang membantuku pindahan ke rumah baru. Setelah kau menikah dengan Gavin nanti aku juga akan membalas kebaikanmu ini, tenang saja!" cetus Bia.
"Bia, bukan itu yang ku mau. Aku mau kau berkata jujur padaku. Kau senang tidak bisa menjadi Nyonya Brandon Wirastama?" tanyanya lagi.
"Memangnya kenapa?"
"Aku hanya tidak menyangka saja. Yang lebih dulu berpacaran dengan Gavin itu aku. Tapi, malah kau yang lebih awal menikah dengan Paman Brandon. Kau akan menjadi Bibiku," seloroh Tasya.
Setelah semuanya selesai, Bia dan Tasya turun bersama. Mereka melihat Arga, Hansel, Hilsa, Gavin, dan Valeri sudah duduk di ruang Tivi.
"Kalian tunggu sebentar, ya. Aku akan memasak untuk makan siang kita," seru Bia.
"Eh, tidak usah, Bi," cegah Hansel.
"Kenapa?" tanya Bia heran.
"Kami mau pamit pulang. Kalian pasti kelelahan, kan? Kalian beristirahat saja. Kami tidak mau merepotkan dan menambah kelelahan kalian," timpal Arga.
"Tidak. Justru kami yang telah merepotkan kalian. Kalian tunggu sebentar, ya, aku tidak akan lama kok."
"Haninbia, biarkan saja mereka pulang. Bagus jika mereka pulang, kita bisa beristirahat," ucap Brandon.
"Apa?" Bia melongo melihat sikap Brandon.
Dasar pria tua tidak tahu terima kasih.
__ADS_1
umpatnya dalam hati.
"Karena Paman sudah berkata begitu, kami akan pulang sekarang," ucap Hansel.
"Uncle, kenapa sifatmu itu sangat aneh?"
"Aneh bagaimana?" tanya Brandon santai sambil memainkan gadgetnya.
"Kau sudah memakai tenaga para keponakanmu, tapi kau malah menyuruh mereka pulang begitu saja. Itu namanya tidak tahu terima kasih!"
"Tidurlah, Bia. Kau pasti capek."
Brandon naik ke atas menuju kamarnya. Bia juga ikut masuk karena dia belum selesai menyusun pakaiannya ke dalam lemari di kamar Brandon.
"Nanti saja dikerjakan lagi," ujar Brandon, dia merebahkan tubuhnya sambil melihat pekerjaan Bia.
"Tinggal sedikit lagi. Kalau aku tinggalkan dan tidur, yang ada tidurku tidak nyenyak dan selalu terngiang-ngiang 'baju itu belum aku lipat' begitu, kan?" terang Bia sambil berpura-pura mengigau.
"Akhirnya selesai juga," lanjut Bia, karena memang tinggal sedikit lagi.
"Mau ke mana kau?" tanya Brandon saat melihat Bia hendak keluar kamar.
"Tidur."
"Tidur? Di mana?" tanyanya terlihat bingung.
"Di kamar sebelah," jawab Bia.
"Lalu, kenapa semua pakaianmu berada di sini?"
"Pakaianku berada di sini, sedangkan aku akan tidur di kamar sebelah. Karena, keluargamu atau Bibiku pasti sering berkunjung kesini, jadi nanti aku tidak perlu repot-repot lagi memindahkan barang-barangku. Aku pintar, kan?" puji Bia sambil menaik turunkan sebelah alisnya.
"Kenapa kau tidak tidur di sini saja sekalian?"
"Aku tidak mau tidur di sini, takut dengan burung camarmu!" ketus Bia.
-Bersambung-
Jangan lupa berikan like, komentar, gift, dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga rate 5 ya guys 🙏
__ADS_1
Terima kasih ❤️❤️❤️