
"Setelah menikah nanti, apa kamu akan meminta hakmu sebagai seorang suami? Melakukannya sesering mungkin. Pasti nanti Kakak-kakakmu akan meminta keponakan darimu, untuk menghasilkan keponakan, kita harus melakukan anu-anu, apakah kaku mau melakukannya?" tanya Bia takut-takut.
Brandon tersenyum, kemudian dia mengatakan sesuatu yang dapat menenangkan Bia. "Tidak akan. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang merugikanmu. Kita menikah hanya untuk menenangkan keluarga kita saja, bukan untuk tujuan yang lain. Jika kita memiliki seorang anak di antara kita, itu akan menyulitkan kita. Aku juga tidak mau dia kecewa karena perpisahan kita berdua nantinya," terang Brandon.
Sejenak Bia terkesima dengan jalan pikiran Brandon. "Aku pikir kau hanya menuruti egomu saja tanpa memikirkan konsekuensi ke depannya nanti. Karena banyak lelaki yang hanya mau kenikmatan sesaat tapi tidak berpikir sebab akibat yang terjadi ke depannya," ujar Bia, perasaannya menjadi lebih tenang.
"Terima kasih," ucap Bia, tiba-tiba dia memeluk Brandon. Rasa harunya akan pemikiran matang Brandon membuat rasa beraninya muncul untuk memeluk Brandon begitu saja.
Awalnya Brandon kaget dengan pelukan tiba-tiba Bia. Namun, dia langsung tersenyum dan menerima pelukan Bia. Brandon juga ingin membalas pelukan itu, namun diurungkan karena takut Bia akan salah paham nantinya.
"Maaf, aku hanya kesenangan saja," ucapnya setelah melepaskan pelukannya dari Brandon.
"Tidak ada masalahnya memeluk calon suami sendiri," jawaban Brandon malah membuat wajah Bia memerah.
"Hum? Jadi, aku bisa selalu memelukmu seperti itu?" tanya Bia dengan wajah polosnya.
"Kalau kau mau silahkan saja!" Brandon merentangkan tangannya seolah-olah sedang bersiap menerima pelukan Bia lagi.
"Nanti sore kak Embun memintamu untuk datang ke butik Bibi Wila. Dia akan melakukan fitting baju pengantin untuk kita."
"Baiklah, aku akan bergegas ke sana setelah kelas selesai," jawab Bia.
"Nanti telepon aku, aku akan menjemputmu!"
"Tidak perlu, aku akan memesan taxi online saja nanti," tolak Bia halus.
"Nanti aku senggang. Lagi pula kita juga harus menciptakan Chemistry di depan keluarga kita, kan?" ucap Brandon dan diangguki oleh Bia.
Benar juga apa yang dia katakan. Kami kan sepasang calon suami istri jadi harus terlihat dekat di mata keluarga. Jangan sampai mencurigakan.
"Baiklah," jawab Bia akhirnya menyetujui ajakan Brandon.
__ADS_1
******
Tiga hari telah berlalu, seperti janji yang sudah terikat antara dua keluarga, akhirnya hari itu terlaksana juga. Hari pernikahan Brandon Wirastama dan Haninbia Asfara tiba, meskipun hanya pernikahan kepura-puraan, namun semuanya penuh perencanaan.
"Bia, jangan gugup!" ucap Tasya sambil mengelus-elus punggung Bia yang sedari tadi hanya diam menatap kaca yang memantulkan wajah sedihnya.
"Haruskah aku melanjutkan pernikahan ini?" gumamnya, dia tidak peduli dengan ucapan-ucapan semangat yang dikatakan Tasya padanya.
Gaun putih yang membalut tubuh ramping Bia, terlihat sangat sempurna, tubuhnya terlihat seksi dan sintal. Membuat pikiran-pikiran negatif pria melayang jauh.
"Bia, kenapa termenung?" suara Tasya mengagetkan calon pengantin itu.
"Ti-tidak ada. Aku hanya sedang memandangi wajahku yang terlihat berbeda, hehe." Bia tersenyum kecut.
"Hari ini kamu memang sangat cantik, Bia. Aku iri padamu, kamu bisa menikah dengan orang paling sempurna, Bia!" ucap Tasya dengan senyuman merekah.
"Iri padaku?" tanya Bia menatap Tasya dari pantulan cermin.
"Jangan cemberut, Bia. Kamu pengantin paking cantik yang pernah kutemui," bujuk Tasya.
"Hahaha, terima kasih!" ucap Bia.
"Bia, ayo kita keluar. Calon suamimu sudah menunggu di luar," ucap Wila.
"Baik, Bibi Wila," Bia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Tasya dan Wila menuntun Bia keluar dari kamarnya. Bia begitu takjub dengan dekorasi mewah yang menghiasi hari bahagianya. Nuansa putih dan pastel berpadu memberikan keindahan yang memanjakan mata.
Diujung sana terdapat Brandon yang menatap lekat pada calon istrinya yang berjalan perlahan ke arahnya.
"Paman, kali ini calon istrimu cantik, kan?x puji Hansel sambil menyikut Brandon.
__ADS_1
Brandon terdiam, bahkan apa yang dikatakan Hansel pun dia tidak tahu. Dia sedang menstabilkan perasaan gugup yang menderanya, jantungnya yang berdebar-debar sungguh sangat mengganggu. Tapi, dia sendiri tidak tahu, jantungnya berdebar kencang karena melihat kecantikan Bia hari itu atau karena sebentar lagi dia akan menghalalkan Bia menjadi istrinya.
"Jangan terus dipandangi, nanti malam waktu kalian untuk saling memandang sepuasnya!" bisik Rey bercanda.
"Kak Rey, saat kau menikah dengan Kak Rena, apakah kau merasa gugup?" tanya Brandon dengan suara berbisik.
"Tentu saja aku gugup, aku menikah dengan orang yang kucintai. Jika aku menikah dengan orang yang tidak kusukai, perasaan gugup dan jantung berdebar itu tidak akan ada!" jawaban Rey tentu membingungkan Brandon.
"Orang yang kita suka?"
Lalu, perasaan berdebar ini apakah bisa kuartikan sebagai perasan suka? Mungkin saja, perasaan ini hadir karena sebentar lagi aku akan menikah, itu pasti hal yang wajar, bukan karena aku mencintainya.
"Brandon Wirastama, sudah siap?" tanya seorang penghulu yang akan menikahkan mereka.
"Aku siap!" jawab Brandon mantap.
"Haninbia Asfara, apakah kamu bersedia menikah dengannya? Tanpa adanyanpaksaan dari pihak manapun?"
"Saya siap menikah dengannya dan tidak ada keterpaksaan dari siapapun!" jawab Bia mantap.
Penghulu mengulurkan tangannya, Brandon ikut menjabat tangan sang penghulu yang bertugas sebagai jembatan penyambung hubungan sakral antara dirinya dan Bia.
Akad nikah pun terucap dengan sempurna tanpa cela, dan akhirnya kini Bia sah menjadi istri seorang Brandon si wajah batu.
Semua tanggung jawab akan berpindah tugas pada Brandon, dan dia harus menyanggupi itu selama satu tahun ini.
-Bersambung-
Jangan lupa untuk tinggalkan like, komentar, gift, dan vote sebanyak-banyaknya
berikan juga rate 5 ya guys 🙏🙏
__ADS_1