Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)

Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)
Siapa dia?


__ADS_3

Kamu ini, selalu menganggap Brandon anak kecil yang sering kau marahi dulu. Sekarang, dia sudah berbeda. Bahkan, kita akan memiliki tambahan anggota keluarga darinya," pungkas Embun.


"Hahah, sepertinya iya, Kak. Aku tidak bisa melupakan ketika perdebatan selalu terjadi antara kami," sahut Belle sambil tertawa.


"Sudahlah, Kak, jangan ingat masa kecil yang penuh kekonyolan itu lagi. Aku malu," timpal Brandon, tangannya menggenggam jemari Bia yang sedang berusaha menahan tawa.


"Kalian mau kembali ke apartemen, kan?" tanya Embun, menyudahi pembahasan itu karena sadar, Brandon malu dengan istrinya.


"Iya, Kak, untuk kami mau pulang ke apartemen sekarang. Agar kenanganku dan Bibi di sini terjaga," sahut Bia.


"Ya sudah, kami akan membantumu berbenah, dan akan mengantarkanmu ke apartemen bersama-sama."


"Brandon, kamu tidak mau menginap di rumah utama? Hanya malam ini saja. Bia pasti butuh suasana ramai untuk meredamkan hatinya yang sedang bersedih," saran Rena. Dia mengamati wajah Bia, meskipun sejak tadi wanita itu terus menyuguhkannya senyum termanisnya, tetapi masih ada kesenduan dan rasa kesepian yang menyelimuti hatinya.


Brandon menoleh pada Bia, "Bagaimana, kamu mau?" tanya Brandon.


Bia menganggukkan kepalanya, "Mau, sepertinya suasana ramai bisa membuatku melupakan sejenak kesedihan yang sedang kurasakan ini," jawab Bia.


Mereka mulai bersiap, mereka akan menuju ke rumah utama Wirastama. Kemudian, besok baru akan berangkat berlibur, melepaskan kepenatan selama ini. Melepaskan kesedihan yang gencar melanda hati.


Brandon melajukan mobilnya, dia dan Bia berada dalam satu mobil yang sama. Sepanjang perjalanan, Brandon terus menggenggam tangan istrinya itu, mencecar punggung tangan Bia dengan banyak ciuman. Dia masih sangat bahagia, atas kehadiran sang buah hati di tengah-tengah mereka. Bahkan, Brandon membawa mobil dengan sangat hati-hati, takut janin di dalam perut Bia akan terluka jika Brandon mengebut.


"Sayang, kenapa bawa mobilnya pelan sekali? Rumahmu masih jauh, kapan kita mau sampai kalau kamu melajukan mobilnya sepelan ini?" keluh Bia mulai jengah.


"Aku takut calon anak kita kenapa-napa. Tidak apa-apa pelan, yang penting kan nanti sampai juga!" celetuk Brandon sambil melirik Bia.


"Huft! Sayang, kamu memang harus hati-hati. Tapi, bukan berarti harus sepelan ini, loh! Aku lelah, ingin istirahat. Aku tidak nyaman istirahat di mobil!" ucap Bia.


"Kamu mau kita liburan ke mana? Katakan saja, luar negeri? Dalam negeri? Pantai? Mendaki gunung? Menikmati spot-spot bagus?" tanya Daniel memberikan banyak pilihan untuk Bia.

__ADS_1


"Ke mana, ya? Aku juga bingung mau ke mana. Terserah kalian saja, yang penting aku bisa menikmati pemandangan dan melepaskan semua yang sedang mengganggu hati ini, itu saja," tukas Bia, matanya menatap lurus ke depan, menikmati pemandangan langit berwarna senja, di matanya, warna ini sangatlah indah. Menenangkan hati dan jiwanya yang sedang getir.


"Bagaimana kalau kita ke luar negeri saja?" usul Brandon dengan semangat.


"Jika pergi terlalu jauh, aku takut kelelahan," Bia mendesah pelan.


"Mendaki gunung?"


"Sayang, itu terlalu melelahkan. Bagaimana mungkin kita mendaki gunung? Kamu mau menggendongku sampai kita berada di puncaknya? Lalu, saat kita turun lagi, kamu mau menggendongku lagi?" Bia jelas tak setuju.


"Ke pantai?"


"Terserahlah!" jawab Bia, memejamkan matanya, merilekskan tubuhnya yang terasa letih.


Tiba-tiba Bia membuka matanya, dirinya dan Brandon tersentak kaget ketika ada yang dengan segaja menggeber mobilnya di dekat mobil Brandon dan Bia.


Brum!


Brum!


Brum!


"Sialan! Siapa itu?" umpat Brandon, dia hendak menekan pedal gasnya, ingin mengejar dan menanyakan dengan jelas kenapa orang itu menggeber mereka seperti itu. Namun, Bia langsung memegang tangan Brandon, menghalangi pria itu untuk mencari masalah.


"Kenapa, Bi? Aku kesal jika ada orang yang sok jagoan seperti itu!" kesalnya sambil menggemeretakkan giginya.


"Sayang, aku sedang hamil. Kalau ternyata mereka ramai dan mencelakai kita, bagaimana?" ucap Bia, memang itulah yang sangat dia khawatirkan.


"Baiklah," Brandon terpaksa menurut.

__ADS_1


"Siapa itu?" tanya Bia, "Kenapa bisa kurang ajar seperti itu, ya? Apa mereka mengenal kita?" Bia bertanya-tanya karena dia merasa aneh dengan mobil yang menggeber mereka padahal tidak saling mengenal.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Sepertinya, aku juga tidak mengenal mereka. Tetapi, kenapa mereka mencari masalah dengan kita, ya?" Brandon masih sangat kesal.


"Sudahlah, tidak perlu kita pedulikan orang-orang jahil yang tidak penting seperti itu," ujar Bia.


Brandon melajukan mobilnya, menambah sedikit kecepatannya karena sadar mereka sudah terlalu lama. Setelah beberapa saat, akhirnya mereka tiba di rumah utama keluarga Wirastama.


Mata Bia dan Brandon langsung tertuju pada sebuah mobil yang terparkir di halaman rumah. Mereka saling bertukar pandang sambil mengerutkan kening dalam.


"Itu... bukankah itu mobil yang menggeber kita tadi? Pemiliknya anggota keluarga kamu juga?" tanya Bia sambil menunjuk mobil tersebut.


"Aku tidak merasa memiliki kerabat kurang ajar seperti itu. Aku juga tidak mengenali siapa pemilik mobil jelek itu!" cetus Brandon masih menyimpan kesal pada sang pemilik mobil.


"Hahaha, pendendam sekali!" ledek Bia sambil tertawa.


"Lebih baik kita masuk dulu, kita lihat siapa pemilik mobil butut itu!" sungut Brandon.


"Ayo!"


Mereka melangkah masuk. Saat tiba di ruang tamu, Rena langsung menunjuk ke arahnya.


"Nah, itu Brandon sudah datang!" seru Rena.


Brandon terdiam, dia memperhatikan seorang pria yang berdiri membelakanginya.


"Brandon, katanya dia temanmu. Sudah lama kalian tidak berbincang. Jadi, dia mampir ke sini untuk melihatmu. Sekalian ajak makan malam saja!" ucap Embun.


"Siapa?" tanya Bia setengah berbisik.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2