
"Kalau kau tidak datang sekarang juga, kau akan menyesal, Bi. Aku jamin itu!" kecamnya lagi.
"Sebenarnya ada apa, Dok? Kenapa kau begitu memaksaku untuk segera datang?" tanya Bia mendesak.
"Sebaiknya, datang saja ke rumah sakit segera. Aku tidak bisa menjelaskan kondisinya melalui sambungan telepon seperti ini. Datang dan lihatlah sendiri," saran Dokter Handy yang terkesan memaksa.
Bia semakin penasaran, biasanya Dokter Handy tidak pernah seperti itu. Tapi, kali ini pria itu tampak mendesak Bia untuk datang ke rumah sakit tanpa alasan yang jelas.
"Harus sekarang?" Bia kembali memastikan.
"Ya, sekarang!" Dokter Handy mengiyakan.
"Cukup, biarkan dia tau yang sebenarnya. Jangan sembunyikan apapun darinya lagi!" terdengar Dokter Hansel berbicara dengan seseorang, tapi Bia tidak tau siapa orang itu sebab dia tidak mendengar jelas suara orang yang sedang berbicara dengan Dokter Handy.
Mungkin pasiennya yang lain. Tapi, aku merasa itu tertuju untukku.
"Baiklah, aku akan kesana sekarang juga," ucap Bia.
"Aku menunggumu, Bia. Cepatlah datang!" ucap Dokter Handy lagi.
Setelah memasukkan tasnya ke dalam tas jinjingnya, Bia menatap orang-orang di sekelilingnya satu persatu. Dia ingin undur diri tapi merasa tidak enak hati. Bahkan, minumannya juga belum datang.
Brandon memperhatikan gelagat istrinya yang terlihat gelisah, alis tebalnya bersatu, heran melihat tingkah istrinya itu.
"Bia, kamu kenapa?" tanya Brandon.
"Uncle, barusan Dokter Handy menghubungiku, dia memintaku ke rumah sakit sekarang juga," bisik Bia pada Suaminya itu, dia pikir Brandon bisa membantunya menjelaskan agar dia bisa pergi dengan hati yang damai.
"Dokter Handy? Siapa dia? Kamu cek kehamilan sama dia? Dan tesnya sudah keluar makanya dia minta kamu ke rumah sakit sekarang juga untuk menerima hasil testnya?" cetus Brandon tanpa memperkecil volume suaranya.
Sontak, semua mata tertuju pada Brandon dan Bia. Terutama Tasya, dia langsung percaya kalau Bia melakukan tes kehamilan pada Dokter Handy karena dia tau siapa itu Dokter Handy.
"Bi, apa yang dikatakan Paman Brandon itu benar?" desak Tasya sambil menggoyangkan lengan Bia.
__ADS_1
"Ha? Ti-tidak benar!" bantahnya, menoleh pada Brandon yang memasang wajah polosnya.
"Uncle, kau ini bicara apa?" sentak Bia mencubit pinggang Brandon.
"Jadi, siapa Dokter Handy itu?"
"Dia adalah Dokter pribadi keluargaku. Aku juga tidak tau kenapa dia mendesakku datang ke rumah sakit. Dia tidak memberikan alasan apapun tapi terus mendesakku," ungkapnya pada Brandon.
"Bia, pergilah. Mungkin memang ada sesuatu yang ingin dia katakan," saran Tasya yang mendapat anggukan dari Bia.
"Iya, ini aku juga mau pergi. Maaf ya semuanya, lain kali kita bisa nongkrong bareng lagi," ucap Bia pada semuanya.
Bia berdiri hendak pergi, tapi tangannya dicekal oleh Brandon, "Mau ke mana?"
"Ke rumah sakit, Sayang!" jawab Bia cepat, memanggil pria itu dengan sebutan itu, bibirnya terasa Kelu dan geli.
Brandon tidak bisa menyembunyikan senyumannya ketika mendengar Bia memanggilnya dengan sebutan itu. Hatinya berbunga-bunga, ingin sekali dia minta Bia mengulang sebutan itu, tapi dia sadar sedang berada di lingkungan keponakan bertelinga besar.
"Tidak perlu Uncle. Aku pergi sendiri saja," tolak Bia. Dia merasa sungkan, sudah dia tidak bisa ikut bergabung dengan mereka, Brandon juga pergi mengantarnya.
"Tidak apa-apa, ayo!" tidak perduli dengan jawaban Bia, Brandon langsung menarik tangan istrinya ke arah parkiran.
"Uncle, aku tidak enak dengan mereka," protesnya.
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa bergabung dengan mereka, masak kamu juga pergi?" ucapnya.
"Tidak apa-apa. Lagipula, kita akan pergi ke rumah sakit, mereka pasti mengerti," terang Brandon agar rasa tidak enak di hati Bia menghilang.
Bia tidak membantah lagi, dia menurut apa yang dikatakan Brandon. Sepanjang perjalanan, mereka saling diam. Bia berpikir keras, siapa yang sedang dirawat hingga dia harus buru-buru datang dan Dokter Handy tidak mau menjelaskan apapun.
Tiba-tiba Bia mengingat satu orang, seseorang yang selalu dia curigai, ingin dicari tau tapi belum ada waktu yang pas.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan? ... semoga saja pradugaku salah," gumam Bia sembari memejamkan matanya.
*****
Setibanya di rumah sakit, Bia dan Brandon bergegas ke ruangan Mawar nomor lima, seperti yang dikatakan Dokter Handy tadi. Ruangan yang terlihat ngeri untuk Bia. Dari luar saja Bia bisa mencium bau obat-obatan yang begitu kentara menusuk Indra penciumannya.
"Kenapa tidak langsung masuk?" tanya Brandon yang sejak tadi masih setia berdiri di belakang Bia.
"A-aku takut," jawab Bia, dia merasa ngeri sendiri jika harus berkunjung ke rumah sakit. Makanya Wila menyediakan Dokter pribadi untuk Bia dan dirinya yang sering terserang demam tiba-tiba.
"Takut? Kenapa? Ada aku di sini, tidak perlu takut, Bia. Masuklah, dan lihat apa yang terjadi di dalam," saran Brandon menyentuh punggung Bia.
"Kamu menunggu atau ikut masuk?" tanya Bia, khawatir pria itu akan meninggalkannya sendirian.
"Kalau kamu mau aku--"
"Ikut aku masuk. Temani aku masuk ke dalam!" potong Bia.
Brandon mengulas senyum, dia menganggukkan kepalanya mengiyakan permintaan istrinya. Dia juga tidak tenang jika meninggalkan Bia bersama Dokter pria di dalam. Apalagi mereka juga belum tau siapa yang menjadi pasien di dalam sana.
Perlahan-lahan Bia mendorong pintu ruang rawat inap di depannya. Aroma khas rumah sakit langsung menusuk indra penciumannya. Bia menatap lurus ke depan, terdapat dua orang yang sangat dikenalinya.
Bia tidak mempedulikan pria yang duduk di sisi kiri sang Bibi. Tatapan matanya terkunci pada sang Bibi yang terbaring lemah di atas ranjang. Hatinya semakin hancur ketika melihat banyak selang-selang yang saling tersambung terpasang di tubuh Bibinya.
Tubuh Wila yang dulu terlihat selalu kuat, kini tampak lemah. Wajah cantiknya yang selalu berseri-seri, kini terlihat pucat. Bia benar-benar hancur. Tidak ada yang bisa dia katakan. Bibirnya bergetar terlalu hebat hingga dia tidak bisa mengatakan sepatah katapun. Sehancur itu dirinya kala melihat orang yang benar-benar disayanginya terbaring lemah bagai tak bernyawa.
"Bibi Wila? Kamu ... kenapa?"
-Bersambung-
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, gift, dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga rate 5 ya guys 🙏🙏❤️❤️
Terima kasih ❤️
__ADS_1