
"Bibi tahu, pernikahan kalian hanya pura-pura untuk menyenangkan Bibi, kan? Setelah Bibi tiada nanti, ubahlah pernikahan pura-pura ini menjadi pernikahan yang serius, Bia!" penuturan Wila membuat Bia tercengang, tentunya dia sangat-sangat tidak menduga kalau ternyata Bibinya tau tentang ini semua. Lalu, kenapa selama ini Bibinya itu memilih diam saja? Apa maksudnya?
"Bibi, tahu semuanya?" tanya Bia tergugu.
Wila menganggukkan kepalanya, "Ya, sejak awal, Bibi tahu kamu dan dia hanya berpura-pura menikah untuk menyenangkan Bibi," jawabnya, walaupun lemah dan kesusahan, Wila tetap kau menyampaikan pesan untuk keponakannya itu.
"Setelah Bibi tidak ada nanti, binalah rumah tanggamu sampai akhir hayat, Bia. Meskipun Bibi tidak ada di sampingmu, tapi Bibi selalu ada di hatimu. Melihat dan akan selalu mengawasimu dari kejauhan. Jangan permainkan pernikahan seperti halnya yang dilakukan Ibumu dulu. Itu tidak baik. Brandon orang yang baik, dia menyayangimu dengan tulus, bukan karena berpura-pura di depan Bibi. Bibi bisa melihat itu dari sikapnya saat memperlakukamu," ujar Wila sembari menggenggam tangan Bia.
"Bibi, apa yang Bibi bicarakan? Jangan asal bicara, Bi. Bibi pasti sembuh, jangan bicara seperti itu lagi!" Bia mencium tangan Wila, tangan yang sejak kecil selalu menyambutnya dengan hangat, tangan yang telah merawatnya sejak kecil sampai sekarang dia telah menjadi istri orang lain.
Wila hanya tersenyum, seakan pasrah dengan nasibnya, dia juga ingin terlepas dari rasa sakit yang terus menerus menggerogoti tubuhnya. Rasa sakit itu, selalu membuatnya tak nyaman. Mungkin, ketika nyawa terlepas dari raga, barulah kesakitan akan benar-benar lirih.
"Bia, jangan alihkan pembicaraan. Dengarkan dan ikuti saran Bibi. Bibi yakin, di hatimu juga ada cinta untuknya, kan? Jangan menyiksa diri sendiri dengan tidak mengakui dan mengubur perasaan itu, Bia. Kamu harus berani memperjuangkan sesuatu untuk dirimu sendiri. Apalagi, itu suamimu!" Wila terus-terusan mendorong Bia agar mempertahankan rumah tangganya.
"Bibi, mungkin Bia memang sudah menyukainya, jatuh cinta dengan kelembutannya. Tetapi, bagaimana dengan dia? Dia ... orang yang terlalu sempurna. Kurasa, aku tidak bisa memilikinya seperti yang aku harapkan. Makanya Bia menguburkan semua harapan dan cinta itu sekalian," akunya dengan wajah tertunduk.
"Kamu juga orang yang sempurna di mata orang yang mencintaimu, Bia. Perjuangkan dia, baru bisa mengatakan hal ini. Jika kau telah lelah berjuang namun dia tidak membalas perasaanmu, maka jalan terbaik adalah meninggalkan. Tapi, apakah kamu sudah mulai berjuang?"
"Tanyakan pada hatimu, bagaimana perasaanmu untuknya," imbuh Wila.
Bia hendak menyahuti lagi, tetapi suara seseorang menghentikannya.
"Bia?" panggil Embun dari arah belakang, entah sejak kapan wanita itu berdiri di belakang Bia.
"Kak Embun, Kak Rena, Kak Belle?" Bia terkejut, "Kapan kalian datang?" Bia langsung berdiri dan mempersilahkan mereka untuk duduk.
Duh, apa mereka juga mendengarkan pembicaraanku dan Bibi Wila ya?
__ADS_1
Embun, Rena, dan Belle hanya datang bertiga. Mereka melihat dan berbicara dengan Wila sebentar kemudian duduk di sofa ruangan itu.
"Bia, maaf kami baru datang. Tadi saat Argha mengatakan Bibimu masuk rumah sakit, kami langsung datang kesini. Yang lainnya masih belum pulang dari kantor," ujar Embun menjelaskan.
"Tidak apa-apa, Kak. Terima kasih sudah menjenguk Bibiku," ucap Bia.
"Bibi Wila sakit apa?" tanya Rena yang ikut meniru panggilan Bia.
"Kanker paru-paru, Kak," jawab Bia, "Sudah stadium akhir," lanjutnya lagi.
Mereka semua menutup mulutnya, merasa sedih untuk Bia.
"Brandon, kamu kenapa tidak memberitahukan kami sejak awal?" Belle menepuk paha adiknya, geram karena mengira Brandon tidak mengabari mereka dari awal.
"Bukan salahnya, Kak. Aku pun baru tau tadi tentang penyakit Bibi. Bibi menyimpan semuanya dalam hatinya sendiri," ucap Bia membela Brandon.
Brandon menatap Belle, wanita itu hanya membalas dengan cengiran kuda.
Setelah berbincang-bincang sesaat, mereka bertiga memutuskan untuk pulang. Dokter Handy juga masuk, memeriksa kondisi pasien kemudian menghampiri Bia.
"Bia, pulanglah dulu. Aku akan menjaganya," ucap Dokter Handy.
"Tidak apa-apa, aku di sini saja, Dok!" tolaknya tanpa mengalihkan perhatiannya dari Wila yang sedang tertidur.
"Bia, kamu pasti butuh istirahat. Biar aku yang menjaga Wila, lagipula dia sedang tidur, dia tidak akan tahu kamu pergi sebentar. Nanti, kembalilah lagi," bujuk Dokter Handy. Dia tau, Bia sedang kelelahan.
"Bi, yang dikatakan Dokter itu benar. Pulanglah dulu, istirahatkan tubuhmu, isi perut dulu agar kamu bisa menjaganya dengan tenang." Brandon ikut membujuk.
__ADS_1
Akhirnya, Bia mengangguk, dia setuju untuk pulang. Tubuhnya memang terasa sangat letih.
Dalam perjalanan, Bia diam membisu, tidak ada percakapan yang menarik baginya untuk dibicarakan. Namun, tidak dengan Brandon. Melihat wanita yang biasanya cerewet itu terdiam seperti itu, menjadi ketakutan tersendiri baginya. Dia menjadi menerka-nerka, apakah dia memiliki kesalahan sampai Bia mendiamkannya seperti itu?
"Bia... jangan dipikirkan lagi. Bibi Wila pasti akan sembuh secepatnya." Brandon memilih untuk memulai pembicaraan, agar suasana tidak terlalu hening.
Bia menghela nafas panjang. Pikirannya benar-benar bercabang. Yang dia pikirkan bukan hanya itu. Tetapi... ah sudahlah!
"Uncle, ada sesuatu yang masih mengganjal di hatiku. Aku benar-benar bingung," keluhnya sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Apa yang membuatmu sebingung itu?" tanya Brandon.
"Bibiku sudah tau tentang pernikahan kita yang hanya pura-pura ini. Dia tau, kita menikah hanya untuk menyenangkan saja. A-aku jadi semakin takut, aku telah mengecewakannya, kan?" Bia mulai terisak.
Brandon tidak bereaksi, sekilas dia hanya melirik-lirik Bia yang mulai menangis.
"Aku harus bagaimana, Uncle? A-apa sudah waktunya untuk kita mengakhiri semua ini? Aku tidak mau membuat semuanya semakin runyam. Dan Kak Embun, dia juga pasti akan sangat kecewa kalau mengetahui yang sebenarnya, kan?" celotehnya, isakannya terdengar makin kencang. "Uncle, apa kita harus mengakhiri semuanya sekarang?" akhirnya pertanyaan ini tercetus dari bibir Bia, membuat Brandon mengalihkan perhatiannya pada gadis yang telah bersimbah air mata di sampingnya.
"Apa Bibi Wila menyarankan itu?" tanpa sadar Brandon juga mempertanyakan hal konyol itu.
Bia menggelengkan kepalanya, "Tidak, Bibiku tidak menyarankan hal itu. Aku bingung, makanya terpikirkan hal itu. Mungkin, jika kita berpisah, semuanya akan kembali seperti semula!" tandasnya, menghapus sisa air matanya dengan kasar.
"Itu menurutmu, Bia!" sentak Brandon. Dia tidak habis pikir, kenapa wanita itu bisa memikirkan hal yang mengarah pada perpisahan.
"Kau tau, perpisahan bukanlah akhir ataupun awal untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang kita hadapi. Setiap permasalahan memiliki cara penyelesaian terbaiknya sendiri. Kita bisa memikirkan jalan keluar yang lain. Tapi, yang pastinya bukanlah perpisahan seperti yang ada dipikiranmu!" pungkas Brandon, mempercepat laju kemudinya agar bisa cepat sampai di apartemen. Jika disana, mereka bisa lebih leluasa membicarakan semuanya.
-Bersambung-
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like komentar, gift, dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga rate 5 ya kak 🙏🙏❤️
Terima kasih karena selalu mendukung karya gaje author 🥰🥰❤️