
Brandon melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda. Dia memegangi wajahnya yang ditumbuhi bulu-bulu, yang membuat ketampanannya menjadi berlipat-lipat ganda.
Apakah aku setua itu? Usia kami memang berbeda jauh, tapi kurasa aku belum cocok jika dipanggil Uncle tua!
Brandon berjalan cepat menuju mobilnya, Bia memperhatikan gelagat pria itu dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Kenapa dia? Apakah aku ada salah berucap dan menyinggungnya? Tapi ... apa peduliku? biarkan saja...." gumam Bia yang mengenyahkan semua rasa bersalahnya.
Tanpa disadari, ada seseorang yang sedari tadi terus memperhatikan gerak-gerik mereka dari kejauhan, wanita itu memperhatikan sambil mengepalkan tangan dan menggemeretakkan giginya.
"Tidak dekat? Cih, bahkan mulut anak ingusan sepertimu bisa berbohong dengan begitu manis. Setelah menemuiku, kau masih menemui Pak Brandon secara diam-diam? Dia itu milikku, dan hanya akan menjadi milikku" gumam seorang wanita yang masih menatap Bia nyalang.
Bia memegangi lehernya yang terasa merinding, "kenapa tiba-tiba bulu kudukku berdiri semua? Apakah ada hantu siang-siang begini?" gerutu Bia. dia langsung berlalu dari sana.
...******...
"Hoammmm...!" Bia menguap lebar, menggeliatkan tubuhnya kesana-sini karena malas.
"Ahhhh...." pekiknya senang.
"Akhirnya hari pekan datang lagi, ini adalah hari yang selalu kutunggu-tunggu!" ucapnya mengoceh sendiri.
Jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh, matahari juga sudah mulai terik, tapi Bia masih bergelung dalam selimutnya, tak ada niatan untuk untuk keluar dari kamar sama sekali. Entah, kenapa hari ini dia begitu malas untuk menginjakkan kakinya di lantai yang dingin.
Bia mencoba memejamkan matanya lagi, namun tak bisa. Perasaannya menjadi gundah karena perutnya sudah membunyikan alarm pertanda kelaparan.
"Perutku yang manis, bisakah kamu bersabar dan membiarkan aku tidur sebentar lagi?" bujuk Bia sembari mengelus-elus perutnya yang datar.
Namun, perut Bia sudah keroncongan, dia sendiri merasa perutnya seperti sudah bolong saking laparnya yang dia rasakan. Dengan sangat terpaksa dan berat hati Bia meninggalkan ranjang nyamannya dan menuju dapur untuk mencari beberapa jenis makanan yang bisa mengisi perutnya.
"Bibi Wila pasti sudah pergi sedari tadi. Tapi, kenapa tidak membangunkanku, ya?" gumamnya heran, Bia memakai sendal karakter beruang berwarna cokelat dan melangkah ke arah dapur.
CEKLEK!
Baru saja dia membuka pintu kamarnya, aroma berbagai macam makanan langsung menusuk indra penciumannya.
"Ahhh, lezat sekali...." ucapnya yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Bia! Kenapa kamu masih berdiri di sini dengan penampilan acak-acakan seperti ini?" sembur Wila yang kesal melihat Bia.
"Loh, Bibi masih di rumah? Tidak ke butik?" tanya Bia dengan ekspresi tak kalah terkejut melihat Wila masih berkeliaran di rumah.
Wila mengernyit heran, "apa maksud kamu, Bia? Bukankah hari ini calon suamimu akan datang?"
"Apa? Calon suami? Hari ini?" pekik Bia, matanya melotot tajam.
"Ada apa denganmu? Kenapa begitu terkejut? Bukankah Brandon juga sudah mengatakannya padamu?" tanya Wila mendesak, sedangkan Bia hanya diam mematung.
"Bia?" Wila menjentikkan jarinya di depan wajah Bia, membuat wanita itu terjingkat kaget.
__ADS_1
"I-iya, Uncle, eh maksudku Brandon su-dah mengatakannya padaku. Mungkin aku terlalu banyak mengonsumsi baking soda, jadi sering kelupaan," jelas Bia sambil tercengir kuda menunjukan sederet giginya.
"Aneh!" gerutu Wila. "Kalau begitu, kamu langsung bersiap-siap. Bibi sudah menyiapkan sebuah dress yang cocok untuk kamu kenakan. Ambil di almari Bibi, ya!" pungkas Wila.
"Tapi, Bi, Bia lapar sekali. Makan dulu boleh, ya?" pintanya sambil mengatupkan kedua tangannya.
Wila melirik ke arah jam dinding, kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, kamu harus bersiap sekarang! Sebentar lagi keluarga calon suamimu akan datang," tukas Wila.
"Tapi, Bi, Bia benar-benar sangat lapar sekali. Masak Bia tidak boleh ma--"
"Sssstttt!" Wila meletakkan jari telunjuknya di bibir Bia. "Kita akan makan bersama mereka nanti. Sekarang bersiaplah, sebentar lagi penata rias akan datang!"
Wila mendorong pelan tubuh Bia masuk ke kamarnya, "kamu mandilah dulu, nanti pakaiannya akan Bibi antarkan ke dalam kamarmu!"
Bia menurut, dia masuk ke dalam kamarnya. Memijat pelan pangkal hidungnya, sambil bekalan mondar mandir seperti setrikaan rusak.
"Duh, bagaimana ini? Apakah yang diucapkan Uncle Brandon tempo hari itu sebenarnya serius? Hanya aku si bodoh ini yang menganggap sebagai lelucon?" gumam Bia.
"Aku harus menghubungi Tasya dan menanyakan solusi untuk masalah ini padanya, aku tidak bisa berpikir...."
Bia mengambil ponselnya dan menghubungi Tasya. Tapi, sudah entah berapa kali dia menghubungi sahabatnya itu, tidak ada jawaban dari Tasya.
Bia melemparkan ponselnya ke atas ranjang.
Tok
Tok
Tok
"Bia, buka pintunya. Penata riasnya sudah datang, cepat buka pintunya!" ucap Wila dari luar.
Kenapa cepat sekali? Bahkan aku belum memikirkan cara untuk mengatasi masalah ini. Apa aku kabur saja, ya? Tapi, nanti Bibi Wila pasti akan malu.
Dengan langkah lunglai Bia berjalan ke arah pintu dan membukanya. Wila begitu terkejut saat melihat Bia yang masih berantakan dan kucel.
"Astaga Haninbia... kamu belum mandi? Waktunya sudah mepet, kamu ini bagaimana sih?"
"Maaf, Bi. Bia akan mandi sekarang," ujarnya dan langsung berlari ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Bia juga tak langsung mandi. Dia hanya berdiri sambil terus berpikir bagaimana cara dia menjelaskan semuanya pada sang Bibi.
"Jika Uncle Brandon sudah mengatakannya langsung pada Bi Wila, tidak mungkin dia hanya bercanda! Apa yang harus aku lakukan sekarang, Tuhan? Jika aku lari, juga tidak mungkin akan menyelesaikan masalah."
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
"Bia, kamu sudah berada di dalam selama tiga puluh menit, tapi kenapa belum juga keluar?" tanya sang penata rias yang terus menerus mengetuk pintu.
"Sebentar lagi selesai. Tunggu sebentar, Madam!" teriak Bia dari dalam.
Bia hanya mencuci mukanya dan menyikat gigi, setelah itu dia hanya memercikan sedikit air ke lengan dan kakinya agar terlihat basah.
"Di mana gaunnya? Berikan padaku!"
"Itu!" jawab Madam sambil menunjuk ke atas ranjang, tempat di mana sebuah gaun tergelatak.
Bia Menggunakan sebuah dress yang anggun, dengan look yang flowly. sangat cocok digunakan untuk sebuah acara yang manis seperti pertemuan keluarga ataupun sekedar makan siang. Dan untuk gaya rambutnya Bia memilih twist and pin, terkesan sederhana namun terlihat anggun.
"Selesai!" seru Madam sambil mengangkat tangannya.
Bia melihat ke cermin, dia juga begitu takjub dengan hasil goresan tangan sang penata rias. Dengan makeup natural, wajah Bia yang biasa terlihat kucel kini terlihat sangat menarik mata.
"Kau bisa membuat calon suamimu tambah mencintaimu, Bia! Aku yakin dia akan takjub dan terpesona saat melihatmu nanti!" ujar Madam dengan sangat yakin.
"Kau yakin itu?" tanya Bia tanpa mengalihkan perhatiannya, matanya terus menatap pantulan dirinya di cermin.
"Tentu saja! Hasil tanganku tidak pernah gagal," sahut Madam yakin dengan senyuman berbangga diri.
Ya, aku memang terlihat berbeda kali ini. Aku ingin lihat wajah bodoh Uncle tua itu yang terpaku saat melihat kecantikanku ini. Wajah datar itu pasti akan langsung memerah karena tersipu malu.
"Bia, mereka sudah datang. Ayo, sambut mereka!" seru Wila di ambang pintu kamar Bia, terlihat Wila juga sudah rapi, siap menyambut Keluarga Brandon.
"Ba-baik, Bi!" jawab Bia.
Bia tak langsung beranjak, dia memegangi dadanya yang berdegup kencang. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.
"Aku tahu kau sangat gugup. Tapi, berusahalah untuk bersikap pendiam dan elegant di depan keluarga calon suamimu nanti," bisik Madam memberikan nasihat.
Bia hanya mengangguk, tanpa berkata apapun lagi dia langsung menyusul Wila ke depan.
Di depan semua tamu yang datang sudah duduk di tempat yang telah disediakan. Bia tak memperhatikan sekelilingnya, dia terus memperhatikan Brandon yang belum melihat ke arahnya sekalipun.
Hansel memperhatikan interaksi kedua orang itu, dia menyenggol lengan Brandon.
"Paman, calon istrimu terus memperhatikanmu sedari tadi. Lihat dan pujilah dia, dia pasti akan senang," bisik Hansel.
Brandon melihat ke arah Bia, Bia menyunggingkan senyuman manisnya seperti wasiat dari Madam tadi. Namun, semua tak seindah harapannya. Brandon hanya melirik sedikit padanya lalu langsung melihat ke arah lain. Bahkan tidak ada tanda-tanda tersipu sedikitpun dari wajah yang tetap memasang ekspresi batu itu.
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya agar author tambah semangat untuk update ❤️❤️❤️🙏🙏🙏
Berikan juga rate 5 ya guys ❤️❤️❤️
Terima kasih karena sudah bersedia untuk mampir dan memberikan dukungan ❤️❤️❤️
__ADS_1