Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)

Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)
Berganti


__ADS_3

Semua pemain tampak riang, hanya Bia dan Jonathan yang berwajah kusut. Bia juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba wajah pria itu berubah masam. Bukannya tadi masih sangat sombong.


"Bia, kau benar-benar keterlaluan!" ucap Jonathan sedikit berbisik, dia merapatkan giginya, pertanda kalau dia memang sedang marah pada Bia.


"Keterlaluan? Apa maksudmu? Memangnya apa yang sudah kulakukan sampai kau mengataiku seperti itu, ha?" sentak Bia, jelas dia tidak terima. Pasalnya, dia memang tidak tahu apapun tiba-tiba Jonathan malah berkata seperti itu.


"Jangan berpura-pura tidak tau apapun, Bia. Kau wanita paling licik. Aku tau kau tidak mau berciuman denganku. Tapi, bukan begitu caramu," tukas Jo.


"Caraku? Memang apa yang kulakukan? Coba katakan!" hardik Bia, mulai kesal, Jonathan selalu menudingnya tapi tidak mau mengatakan alasan mengapa dia menuduh Bia.


Pak Nugraha melarangku mengatakannya. Aku disarankan untuk diam saja. Anggap ini adalah kejutan untuk Bia. Tapi, aku tidak bisa terima ini. Hal seperti ini sudah sangat lama aku nantikan. Tapi, pada akhirnya aku malah dihalangi oleh orang lain? Bahkan, karir Ayahku diancam? Sialan! Rasanya, aku sudah tidak bisa menahan diri lagi. Jika aku tau orang siapa orang sok berkuasa yang berperan di balik itu siapa, aku pasti akan langsung membunuhnya!


Melihat Jo terdiam, Bia melambaikan tangannya di depan wajah pria itu. Dia sudah sangat penasaran, orang yang hendak memberikan penjelasan malah diam saja.


"Kenapa kau diam? Pasti karena kau sedang memikirkan alasan yang tepat, kan? Kau berbohong dan menuduhku sembarangan, kan? Dasar laki-laki pengecut!" sembur Bia, kemudian dia memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Aku bukan sedang memikirkan alasan yang tepat. Tapi, aku sedang menimbang-nimbang, benar-benar mau mengatakannya padamu atau tidak. Karena orang itu tid--"


"Jonathan, bagaimana persiapanmu untuk memulai drama ini?" potong Nugraha, membuat Jo tidak melanjutkan pembicaraannya.


"Persiapanku? Tentu saja aku sudah mempersiapkan diri dengan sangat matang. Karena, setelah sukses memerankan Protagonis pria di sini, aku akan mencoba merambah industri tanah air. Karena cita-citaku sejak dulu memang menjadi seorang aktris yang sukses," terangnya sambil memamerkan senyuman manisnya. Tapi, dalam hati dia terus mengetuk diri dan merasa takut kalau Nugraha tau niat busuknya yang akan mengatakan alasan terlarang itu pada Bia.


"Tidak ada salahnya kita belajar dari hal kecil dulu. Seperti manusia, tidak ada yang setelah dilahirkan bisa langsung berjalan. Pasti membutuhkan usaha dengan merangkak dan berjalan tertatih-tatih sampai akhirnya bisa berlari. Begitulah usaha yang kita lakukanlah, kalau pernah terjatuh beberapa kali itu biasa." Jo malah berbicara panjang lebar berusaha mendapatkan image baik dari para wanita yang turut datang dan menyaksikan pertunjukan mereka.

__ADS_1


"Ah, baiklah." Nugraha menyudahi ocehan Jonathan.


Bia mempersiapkan diri. Dia ikut tersenyum pada para tamu dan penonton yang hadir. Namun, mic yang dipegang Nugraha malah melewatinya begitu saja.


Dugaanku benar. Pak Nugraha mengetahui apa yang sedang aku bincangkan dengan Bia. Barusan, Pak Nugraha pasti sedang memperingatiku. Matilah aku.


"Kalian bisa mulai sekarang!" ucap Nugraha memberi clue.


Semua orang mengangguk, mereka semua kembali ke belakang panggung untuk bersiap-siap. Setelah itu, sebuah tirai pun terbuka. Menampilkan Bia yang siap beradu akting dengan pemeran yang lainnya.


Dari sebuah sudut, seorang pria terus saja mengawasi Bia. Sesekali dia tersenyum dan memuji istrinya dalam hati, bakat akting sang istri yang begitu bagus hanya dalam dua malam dan sekali latihan ... dengannya.


"Jadi, bagaimana dengan kejelasan hubungan kita? Apa hubungan kita akan terus seperti ini sampai maut memisahkan? Atau, sampai ... kita yang memutuskan untuk berpisah?" Bia mulai berperan menjadi Kanaya, seorang istri yang terabaikan.


Bia membelalakkan matanya, mata yang mulai berkaca kini telah mengalir airnya. Harapan cinta untuk menyatu, kini malah terhalang sebuah perasaan yang harusnya membuat mereka menjadi satu.


"Aku memuakkan di matamu? Kau lebih senang melihat wanita lain di luaran sana dibandingkan aku?" sentak Bia memegangi kerah baju Jonathan. Bia mulai berkeringat dingin. Sempat ragu untuk melanjutkan, dan ingin menghentikan semuanya. Tapi, dia tidak mau mengecewakan orang-orang yang begitu mempercayainya, terutama Pak Nugraha.


Tiba-tiba lampu pencahayaan panggung meremang, tangan Bia di tepis Jonathan.


"Lepaskan aku! Pergilah sebelum kemurkaanku membuatku kita terpisah!" kecamnya.


"Aku istrimu, aku berhak atasmu terutama tubuhmu, Suamiku. Kau belum menyentuhku, jadi biarkan aku yang mengubah persepsimu terhadapku. Aku yang akan memeriahkan malam pertama kita."

__ADS_1


"Kau tidak mencintaiku, tapi aku mencintaimu. Jika setelah ini kau tetap ingin pergi, maka aku tidak akan melarangmu lagi." Bia menggenggam tangan pria di depannya. Namun, keningnya mengernyit saat merasakan perbedaan yang begitu kentara. Aroma parfum yang berbeda, ukuran telapak tangan yang berbeda, terasa lebih familiar.


Siapa dia? Kenapa parfumnya seperti milik Uncle Brandon? Tapi tidak mungkin. Datang saja tidak, bagaimana mungkin saat ini dia berdiri di depanku menggantikan Jonathan. Akulah yang terlalu banyak berpikir.


Bia memeluk pinggang pria di depannya.


Ukuran pinggangnya juga berbeda, batin Bia.


Meskipun tidak pernah berhubungan dengan Jonathan, tapi dia tahu jelas bagaimana perbedaan proporsi tubuh Jonathan dan Brandon.


"Uncle?" panggil Bia memberanikan diri.


Namun, bukan jawaban yang dia terima. Melainkan sebuah ciuman yang mendarat di bibirnya. Ciuman yang sangat manis, mesra, dan hangat. Seketika, lampu yang awalnya meremang, kembali terang dan mengekspos mereka yang sedang beradegan mesra.


Mata semua orang langsung menyoroti mereka, karena pria yang sedang mencium Bia di atas panggung bukanlah Jonathan, melainkan Brandon.


"Ke-kenapa bisa Brandon yang berada di sana?" gumam Clara tercekat, matanya hendak lepas dari tempatnya. Senyuman yang mulanya tercetak jelas, berganti dengan kemuraman.


-Bersambung-


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, gift, dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga rating 5 ya guys 🙏😁


Terima kasih ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2