Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)

Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)
Melayang


__ADS_3

"Maaf, aku tidak bisa melepaskanmu. Makanan yang sudah berada di mulutku, harus segera aku telan atau aku akan tersiksa karena kelaparan," tolak Brandon.


"Tapi aku bukan makananmu, Uncle!" keluh Bia merasa kesal sekaligus takut.


"Kau memang bukan makanan untuk mengisi perutku. Tapi, kamu makanan untuk memuaskan hasratku. Maaf, aku mengingkari janjiku," ucap Brandon, sebenarnya dia juga merasa bersalah karena tidak bisa menepati janjinya. Namun, hasrat yang telah menggebu-gebu, membuatnya mengenyampingkan rasa bersalah itu. Sebab rasa inginnya lebih besar dibandingkan dengan rasa bersalahnya.


"Baiklah, aku memaafkanmu. Ambil lah hakmu, aku mengizinkannya," ucap Bia.


"Kamu yakin?" tanya Brandon kembali memastikan.


"Memangnya, jika aku tidak yakin, kamu akan melepaskanku?" tanya Bia dan mendapatkan gelengan dari Brandon.


"Maka lakukanlah!" imbuhnya sembari memejamkan matanya.


"Terima kasih!" tanpa sadar Brandon mengecup dahi Bia. Kemudian ******* bibir Istrinya sebagai bentuk pemanasan.


Bia benar-benar terbuai dengan sentuhan-sentuhan yang membuatnya melayang. Sentuhan-sentuhan yang tidak pernah dirasakannya, seakan-akan memanjakannya hingga dia tidak bisa berkata-kata.


Brandon mengangkat pinggul Bia, kemudian dia memasukkan burung camarnya ke dalam lembah yang telah basah milik Bia.


"Ahh, ssssttt!" Bia meringis sambil menggigit bibir bawahnya. Wajahnya yang mengerut menandakan rasa perih sedang menjalar disekitar miliknya.


"Uncle, perih...." rengek Bia sambil mencengkram erat bahu Suaminya.


"Tahan sedikit. Mungkin karena kita sudah tidak pernah melakukannya lagi. Makanya, setelah ini kita harus sering-sering melakukannya agar milikmu tidak kembali sempit," ucap Brandon. Dia menghentikan gerakannya agar rasa perih itu sedikit berkurang.


"Muncungmu, apakah tidak merasa berdosa sedikit pun?" omel Bia mencebikkan bibirnya.


"Sudah kukatakan, jangan pernah mencebikkan bibirmu!" tanpa meminta izin dari sang empu, Brandon kembali menyesap bibir istrinya.


"Bagaimana? Apakah masih terasa perih? Jika tidak, kita mulai sekarang, ya?" seru Brandon.


Bia menggelengkan kepalanya berulang. "Sudah tidak terasa perih. Mulailah, tapi pelan-pelan, ya," ucapnya memperingatkan. Dia benar-benar takut kalau rasanya akan lebih perih.

__ADS_1


Kenapa rasanya tadi sangat perih? Tapi, sekarang rasanya ahhh.... aku tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata. Mungkin karena saat itu aku sedang mabuk, jadi rasanya tidak terlalu jelas.


Seperti yang diperintahkan Bia, Brandon mulai menggoyangkan pinggulnya. Menciptakan rasa nikmat tiada tara, yang baru dua kali ini mereka rasakan.


"Milikmu sempit, Bia," ucap Brandon dengan suara parau.


"Jangan katakan apapun, Uncle. Lanjutkan saja permainanmu!" sanggah Bia yang terlalu malu untuk menyahut atau pun menyela.


"Uncle, hentikan permainanmu!" pekik Bia saat merasakan ada sesuatu yang hendak keluar darinya.


"Kenapa?" Brandon tak mengindahkan permintaan Bia.


"Aku mau pipis," rengeknya.


"Keluarkan saja di sini," ucap Brandon, dia ******* bibir Bia, tangannya menggerayangi bukit kembar Bia yang sejak tadi terus bergoyang seiring dengan hentakan pinggul Brandon. Permainannya semakin menggila tapi Bia menyukai itu.


Permainannya semakin kasar. Tapi, kenapa semakin membuatku melayang?


"Uncle, aku tidak tahan lagi."


"Ahhh...." lenguhan panjang mereka berdua menggema seisi ruangan.


Brandon merebahkan tubuhnya di samping Bia. Dia menatap langit-langit kamar sembari menerawang kembali permainan mereka yang baru saja usai.


"Uncle, bo-bolehkah aku meminta se-suatu?" tanya Bia terbata-bata, dia menggenggam selimut erat-erat seperti sedang menahan gejolak groginya.


"Apa? Katakan saja."


"Ka-kata teman-temanku, woman on top bisa membuat wanita melayang. A-aku penasaran dan ingin mencobanya. Ma-maukah kamu mene-maniku berma-in?" tanya Bia gugup bercampur malu.


Mendengar permintaan Bia yang tak biasa. Brandon langsung berpaling menatap Bia lekat. Dia mencari kejanggalan yang tersirat dari wajah Bia namun tidak menemukannya.


Aduh Bia. Kenapa kau bisa sangat tidak tahu malu seperti ini sih? Pasti dia berpikir aku ini wanita murahan yang sedang merayunya.

__ADS_1


"Kau ... serius?" tanya Brandon, dia tidak mau senang dulu. Takutnya, dia sudah senang duluan, taunya Bia hanya bercanda.


"Hah? Lu-lupakan saja. Hahaha! Aku juga heran, kenapa aku bisa meminta sesuatu yang tidak tau malu begitu. Permintaanku barusan itu jangan ditanggapi, Uncle, hehehe!" Bia terkekeh pelan menutupi kecanggungannya.


"Kalau kamu mau, aku bersedia menemanimu bermain lagi," ujar Brandon.


"Benar?" tanya Bia terlihat antusias.


"Hum!" Brandon mengangguk.


Apanya yang kulupakan? Wajah antusiasmu itu tidak bisa menipuku, Haninbia! Tapi, aku senang, setidaknya dia hanya mendengar cerita dari teman-temannya. Dan sekarang, barulah meminta padaku, Suaminya.


"Baiklah, aku tidak akan sungkan, ya." Bia langsung merangkak naik ke atas tubuh Brandon dan memasukan burung camar Brandon yang masih membengkak ke dalam sangkarnya yang masih licin.


Kening Brandon mengernyit heran saat Bia hanya berdiam diri tidak melakukan gerakan apapun. Bahkan, dia hendak beranjak turun.


"Mau ke mana?" tanya Brandon.


"Mau turun," jawab Bia.


"Kenapa tidak jadi? Tadi, katamu kamu penasaran dengan rasanya dan ingin ikut melayang seperti yang dikatakan teman-temanmu? Tapi, kamu belum melakukan apapun, kenapa mau turun?" tanya Brandon. Jika Bia tidak jadi melakukannya, dia juga kecewa.


"Aku berubah pikiran," jawabnya cepat.


"Berubah pikiran?"


"Aku takut, jika aku sedang bermain dan tiba-tiba leher burung camarmu patah, bagaimana? Aku kan tidak bisa menikmatinya lagi sampai kapan pun. Lebih baik tidak merasakannya, tapi sampai kapan pun aku masih bisa dibuat melayang dengan gaya yang lain," tutur Bia.


-Bersambung-


Selamat malam Jum'at buat emak-emak!🤭


Seperti biasanya, jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan rating 5 juga ya guys🙏🙏🙏

__ADS_1


Terima kasih❤️❤️❤️


__ADS_2