Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)

Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)
Erotika


__ADS_3

"Seingatku, kau memang menginginkannya, kan? Aku sedang memberikanmu kesempatan, Jonathan. Di pentas, kau bisa menciuminya semaumu dan disaksikan oleh banyak orang. Apakah kau masih belum puas dengan rencanaku ini?"


"Tapi, aku tetap tidak berani. Saat itu ada seorang pria yang memperingatkanku untuk tidak main-main dengan Bia, karena dia adalah calon suaminya. Jadi, aku tidak la--"


"Cukup, Jo! Aku tidak mau lagi mendengar alasan klise ini. Kau selalu saja mengulang cerita itu padaku," potong Clara terasa begitu muak.


"Jika dia memang benar-benar memiliki calon suami, pasti akan sering tampil di publik. Aku yakin itu hanya ancaman mereka untuk menakut-nakutimu saja. Memangnya siapa yang berani menyentuhmu, Jo? Kenapa kau bisa setakut itu?" ledek Clara.


"Malam itu pria itu sudah menghajarku, Cla!" kekeuh Jo.


"Itu karena mereka berdiri di tempat yang gelap. Makanya mereka berani melakukan hal seperti itu. Sudahlah, Jo, jangan terlalu banyak berpikir. Aku sudah memberikan kesempatan ini padamu. Terlepas kau mau mengambilnya atau tidak, itu semua urusanmu!" ucap Clara kemudian pergi meninggalkan Jonathan yang masih terpaku di tempatnya.


Benar apa yang dia katakan. Kesempatan bagus selalu datang sekali. Jika datangnya dua kali, maka yang kedua itu kebetulan. Aku harus memanfaatkan kesempatan yang sudah diberikan Clara dengan sebaik mungkin.


Bia, aku akan membalas perilaku teman-temanmu malam itu.


Jonathan masuk kembali dan mencari Bia. Wanita itu sedang duduk di sebuah kursi sedang menghafalkan script naskahnya sambil menyandarkan punggungnya.


"Bia, ayo kita berlatih!" ajak Jo.


"Kau duluan saja. Aku masih menghafal naskah," jawab Bia tanpa melihat pada Jo.


"Baiklah, aku akan menemanimu di sini," ucapnya, tanpa basa-basi langsung duduk di kursi yang berada di sebelah Bia.


"Jo, banyak tempat lain yang bisa kau duduki. Kenapa kau malah duduk di sini sih?" omel Bia.


"Apa aku mengganggumu?" tanya Jo, raut wajah sedihnya tidak merubah kekeuhnya Bia menolak Jonathan dekat-dekat dengannya.


"Sangat! Kau sangat menganggu. Jadi, tolong menyingkirlah!" sentak Bia sangat kesal.


"Kau masih marah karena kejadian terakhir kali?" entah sengaja atau tidak, Jo malah mengingatkan Bia pada kejadian yang tak mau diingat Bia lagi.


"Jo, tutup mulutmu. Jika kau diam, tidak ada yang menganggapmu bisu, kan?" sentak Bia.


"Bia, aku tau salah. Tolong maafkan aku. Meskipun kita tidak bisa menjadi sepasang kekasih, kita tetap bisa menjadi teman, kan?" Jo berusaha menenangkan hati Bia.


"Menyingkirkan, Jonathan!" pekik Bia.


"Kau tidak ingat, Pak Nugraha menyuruh kita menciptakan Chemistry. Menurutku, beginilah caranya," ujarnya.


"Mari kita berlatih sekarang. Semakin cepat semakin baik. Rasanya aku sudah enek melihat wajahmu itu," umpat Bia.

__ADS_1


"Yakin? Bukankah wajah ini yang membuatmu jatuh cinta padaku?" goda Jonathan tersenyum nakal.


"Sudahlah, mulai saja!" Bia mendengus tak suka.


Mereka mulai berlatih, meskipun baru pertama kali, tapi Bia bisa menguasai emosi yang harus didapat saat melafalkan dialog-dialog itu.


"Kau cukup pintar, Bia. Aku bangga padamu," puji Jonathan.


"Terima kasih."


"Bagaimana kalau kita lanjut latihan saat sang wanita mulai merubah rencananya?" usul Jonathan.


"Tidak. Aku tidak akan mendapat feel bagus jika melakukannya dengan pria bajingan sepertimu. Melihat wajahmu saja aku sudah muak, apalagi jika sampai berciuman denganmu. Mungkin aku harus terus menyikat gigi selama setahun!" cetus Bia.


"Kenapa ucapanmu sangat pedas? Kau yakin sudah tidak mencintai aku lagi?" tanya Jo memelas.


"Sangat yakin! Jam latihan sudah selesai, aku harus pulang sekarang!"


Tanpa menunggu persetujuan Jonathan, Bia pamit pada rekan-rekannya yang lain dan langsung berlari ke luar. Setelah menjadi seorang istri, tanggung jawabnya mulai bertambah. Sebelum suaminya pulang, dia harus sudah selesai memasak makan malam untuk Suaminya.


"Sudah jam setengah lima, semoga saja masih sempat," gumam Bia.


"Pak, kalau antar saya ke jalan sangkar Nuri bisa tidak? Saya kasih tips lebih deh. Soalnya saya buru-buru, Pak!" pinta Bia memelas.


"Baik, Nona."


"Untung Bapak ini baik, mau ngantarin sampai sana," gumam Bia.


*****


"Terima kasih, Pak!" ucap Bia kemudian buru-buru berlari ke dalam rumah. Dia menghela nafas lega karena tidak melihat mobil Brandon terparkir.


Bia mengirimi Brandon pesan agar pria itu tidak menjemputnya ke kampus. Padahal, belum tentu Brandon mau menjemputnya. Tingkat kepercayaan diri Bia terlalu tinggi.


[Aku sudah pulang ke rumah!]


Bia langsung meletakkan ponselnya dan mulai memasak. Bia hanya memasak beberapa menu makanan sederhana karena memang waktunya sangat mepet.


"Ahh, selesai! Aku harus mandi dulu."


"Tapi, kalau aku mandi di kamarku, terus Uncle pulang, aku tidak bisa latihan seperti rencanaku. Meskipun sempat latihan, tapi feel-nya juga tidak dapat. Sebagai jalan ninja, aku memang harus mandi di kamar Uncle," putusnya setelah banyak menimbang.

__ADS_1


Setelah mengambil beberapa pakaiannya, Bia masuk ke kamar Brandon dan mulai membersihkan tubuhnya. Baru saja dia selesai mandi, dia mendengar suara derap langkah kaki berkeliaran di dalam kamar itu.


"Itu pasti Uncle!" serunya, buru-buru dia mengambil Bathrobe dan handuk, cepat-cepat mengenakannya. Sebelum keluar, dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Bia membuka pintu kamar, dan benar saja, terlihat Brandon sedang melonggarkan dasinya. Brandon sangat terkejut melihat Bia keluar dari kamar mandinya dengan balutan Bathrobe pendek berjalan ke arahnya.


"Haninbia, kenapa kamu mandi di sini? Apakah kamar mandi di kamarmu rusak? Kamar mandi di dapur juga rusak?" tanya Brandon.


Dia heran kenapa Bia tidak menjawab apapun. Saat Bia mendekat, lagi-lagi dia dibuat terkejut saat melihat wajah Bia yang telah dipenuhi air mata.


"Beginikah hubungan yang kamu inginkan?" tanya Bia, suaranya terdengar pelan dan mengandung rasa sakit yang mendalam.


"A-apa maksudmu?" tanya Brandon tergagap.


"Aku tau, pernikahan ini memang tidak didasari cinta. Namun, kau juga sangat tahu, aku mencintaimu!" suaranya semakin meninggi dengan air mata yang mengalir semakin deras.


"Aku sangat mencintaimu, aku tidak rela kau disentuh oleh wanita lain! Semakin aku diam, kau semakin keterlaluan. Kau sudah merasa puas setelah bertubi-tubi menumpahkan kekecewaan padaku?" Bia meringis.


"Haninbia, apa yang kau bicarakan! Tenanglah dulu. Aku sama sekali tidak pernah disen--"


"Diam!" teriak Bia, dia menghapus air matanya dengan kasar dan menatap Brandon nyalang.


"Berapa kali kukatakan padamu, jangan pernah bersilat lidah di hadapanku?! Aku tau apa yang kau lakukan di luar sana! Selama ini aku cukup menghormatimu sebagai suamiku, aku menerima semua perlakuan kasarmu, caci makimu, dan penghinaanmu. Itu semua kulakukan karena apa? Karena aku mencintaimu!" teriaknya lagi.


Mencaci maki, menghina, dan mengasari? Kapan aku pernah melakukanya?


"Saat kau bersenang-senang di luar dengan wanita lain, meninggalkan aku sendiri di dalam kamar sunyi ini, aku masih tetap diam. Namun, sekarang aku sudah tidak bisa mendiamkan perbuatanmu lagi. Dadaku sudah sesak, keluhku sudah tidak tertampung, keinginanku sudah tidak tertahan."


"Aku merasa, cinta memang membutuhkan perjuangan. Berulang kali aku menyatakannya padamu, dan kau hanya diam. Jadi, aku memutuskan untuk merebut hatimu dan menjadikanmu milikku," imbuhnya.


Bia mulai meraba tali Bathrobe yang melekat di tubuhnya. Brandon mulai gusar, dia ingin menghentikan Bia namun gerakannya masih kalah cepat.


Bia membuka Bathrobe yang ia kenakan dan menanggalkannya hingga benda itu teronggok di lantai.


"Suamiku, malam ini aku menginginkanmu!" bisik Bia dengan suara parau yang sensual.


-Bersambung-


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, hadiah dan vote sebanyak-banyaknya ya guys..


Berikan juga rate 5 nya🙏🙏🙏


Terima kasih❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2