Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)

Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)
Membalikkan keadaan


__ADS_3

"Suamiku, malam ini aku menginginkanmu!" bisik Bia dengan suara parau yang sensual.


Brandon tercengang melihat handuk yang masih melilit di tubuh istrinya itu. Dia menatap wajah Bia yang masih menyuguhkan senyuman menggoda khas wanita nakal.


Ternyata dia berani melepaskan Bathrobe itu karena di dalamnya masih ada handuk? Tapi, tubuhnya sangat ... menggoda.


Meski terhalang sebuah handuk, handuk pendek itu tetap tidak bisa menutupi bagian tubuh Bia. Pahanya yang mulus, belahan dadanya yang sintal, dan lengannya yang halus, membuat otak Brandon mulai kotor dan menginginkan sesuatu.


"Haninbia, apa yang sedang kau lakukan?" sentak Brandon, berulang kali dia mengusir hawa jahat yang menggerogotinya namun nafsunya kembali berdatangan tanpa diundang.


"Apakah semuanya masih kurang jelas? Suamiku, aku sedang menggodamu. Bersediakah kamu meniduriku malam ini?" tanya Bia mulai mendekatkan dirinya pada Brandon.


"Haninbia, jangan gila! Jagalah kewarasanmu! Kau tau apa yang kau lakukan ini sangat berbahaya?!" sentak Brandon lagi.


"Aku sedang menggoda suamiku sendiri, kenapa aku dibilang gila?" lanjutnya. Bia mencondongkan tubuhnya hingga dadanya mengenai dada Brandon, dia menggigit bibir bawahnya dan beberapa kali menjilati bibirnya sendiri. Membuat sesuatu yang sedang tertidur damai langsung bangun dan membengkak.


"Bia, menyingkirlah sebelum kau menyesal!" Brandon berusaha menghindar, namun Bia malah menarik lengan pria itu hingga gerakan Brandon terpaksa terhenti.


Bia semakin gila, dengan tindakan berani dia melu-mat bibir Brandon dan menyesapnya.


Anggap saja aku sedang mencium pantat bayi.


gumam Bia dalam hatinya sambil memejamkan mata.


"Suamiku, apakah aku tidak cukup seksi? Lihatlah pahaku, apa tidak semulus wanita di luaran sana? Lihatlah dadaku yang sintal ini, apakah masih kalah dengan wanita jal-lang yang selama ini menemanimu tidur?" ucapan tak senonoh itu berangsur-angsur keluar dari mulut Bia, dia seperti sudah terbiasa mengatakannya.


"Ya." hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Brandon.


Bia mengerutkan keningnya.


"Aku tidak suka jawabanmu!" Bia menarik kerah kemeja Brandon dan mulai mendekatkan wajahnya. "Kau pikir, aku masih mudah tertipu seperti sebelumnya? Tentu tidak. Sekasar apapun kau malam ini, aku akan melayanimu sampai kau puas!" bisik Bia.


"Benarkah?" tanya Brandon.

__ADS_1


"Tentu saja. Pertempuran hangat kita malam ini pasti lebih menyenangkan dibandingkan saat kau bersama para jal-lang di luar sana!" bisik Bia.


Bia melepaskan kerah kemeja Brandon. Dia menghela nafas panjang karena gerah dengan ucapannya sendiri yang terdengar sangat erotis. Namun, yang tidak dia duga, karena semua sikapnya itu, Brandon mulai terselimuti badai gairah.


Sepertinya cukup sampai di sini saja. Lagi pula aku sudah mendapatkan feel sesuai yang aku inginkan. Jadi, semuanya sudah cukup.


"Bagaimana? Aktingku bagus, kan?" tanya Bia sembari tersenyum sumringah memamerkan gigi putihnya.


"Kau bilang apa? Akting? Jadi, itu semua hanya ... akting belaka? Sebenarnya, apa tujuanmu, Haninbia?!" sentak Brandon menatap Bia nyalang.


"Aku tidak bermaksud me--"


"Hum!" Brandon mellumat bibir Bia dengan kasar, semakin lama ci*umannya semakin menuntut. Bia terkejut bukan main, dia berusaha menolak tubuh Brandon agar menjauh darinya. Namun, semakin Bia menolak tubuh Suaminya itu, Brandon semakin menghimpit tubuh istrinya ke dinding.


Brandon memeluk erat pinggang Bia, tangannya mulai menjelajahi tempat yang tak seharusnya ia kunjungi.


Ada apa ini? Kenapa dia menjadi gila dan melupakan janjinya seperti ini? A-aku hampir ti-tidak bisa bernafas!


"Apa-apaan ini, Uncle? Kau mengingkari janjimu!" sentak Bia.


"Kau yang menggodaku, Haninbia!" balas Brandon.


"Aku bukan sedang menggodamu, Uncle. Tapi, aku sedang melatih kemampuan aktingku!" pekik Bia, dia segera mengambil naskah yang terletak di atas nakas dan mencampakkannya ke dada Brandon.


"Lihat! Aku sama sekali tidak ada niatan untuk menggodamu! Kau sudah salah paham, Uncle," terang Bia.


"Kau yang membuatku salah paham, Bia. Jangan salahkan aku karena bersikap seperti itu padamu." Brandon tetap membela diri.


"Ya, ya, sekarang kau sudah tau. Jadi, tolong jangan salah paham lagi," ketus Bia, merampas naskah yang dipegang Brandon dan hendak berjalan keluar.


"Mau ke mana?" langkahnya terhenti saat tangan Brandon mencekal lengannya.


"Aku mau kembali ke kamarku."

__ADS_1


"Aku tidak mengizinkannya. Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu." Brandon menarik Bia ke dalam pelukannya dan menuntun Bia menuju ranjang.


Bia mulai ketakutan. Apalagi saat tangannya tidak sengaja menyentuh senjata laras panjang milik Suaminya yang sepertinya sudah membengkak besar.


"Uncle, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" Bia menghentak-hentakkan kakinya agar terlepas dari pelukan Brandon.


"Sejak tadi aku sudah memintamu untuk menjaga Perkataanmu agar kau tidak menyesal! Seperti inilah yang terjadi jika kau tidak menurutiku. Sekarang menyesal sudah tidak gunanya," ucap Brandon.


"Uncle, kau kan sudah tahu kenapa aku mengatakan hal-hal tidak tahu malu itu. Tolong lepaskan aku," Bia memelas sambil menangis.


"Maaf, Bia, hasrat yang sudah kau bakar tidak bisa kau padamkan dengan air biasa. Kau harus memadamkannya dengan dirimu sendiri. Jika kau tidak melakukannya, maka akulah yang tersiksa. Jangan takut, rasanya tidak semenakutkan saat pertama kali," bujuk Brandon.


"Aku tidak mau!" kekeuh Bia.


"Maaf jika aku kasar padamu," bisik Brandon.


Brandon menanggalkan pakaiannya, dia mengikat ke atas tangan Bia dengan dasinya. Setelah melepaskan handuk yang menutupi tubuh istrinya, dia mulai merayap dan memandangi tubuh polos yang membuatnya semakin tidak terkendali.


Tubuhnya sangat menggoda. Bukit kembar itu, aku sangat ingin mengulumnya.


"Tidak, Uncle, jangan lakukan itu!" Bia masih saja meronta.


"Jangan meronta-ronta, Bia. Gerakan lincahmu membuat hawaku semakin naik," bisik Brandon.


"Uncle, kumohon lepaskan aku. Setelah ini, aku berjanji tidak akan mengulangi kebodohan ini lagi!"


"Maaf, aku tidak bisa melepaskanmu. Makanan yang sudah berada di mulutku, harus segera aku telan atau aku akan tersiksa karena kelaparan," tolak Brandon.


-Bersambung-


Jangan lupa berikan like, komentar, gift, dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga rate 5 ya guys 🙏🙏🙏


Terima kasih❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2