
"Ada sesuatu yang harus aku tuntaskan. Kalau tidak bisa membahayakan tubuh," celetuk Brandon dan langsung masuk ke dalam kamar mandi tanpa menunggu lagi.
"Sesuatu yang harus dituntaskan?" Bia bergumam sambil bertanya-tanya.
Setelah beberapa saat, Brandon keluar dengan balutan handuk. Dia berjalan dengan santainya menuju ke arah almari untuk mengambil pakaiannya.
"Stop!" teriakan Bia mengejutkan Brandon.
"Apa?" tanya Brandon santai.
"Uncle, ke-kenapa kau hanya memakai handuk kecil itu. Bahkan handuknya hanya bisa menutupi burung camarmu saja!" cetus Bia sambil menutupi matanya dengan tangan, tapi ada sedikit celah untuknya mengintip dan menilai penampilan Brandon dengan handuk pendek itu.
"Aku lupa, kukira aku masih lajang. Maaf!" ucapnya santai tanpa peduli apapun.
"Cepat pakai bajumu!" titahnya.
Brandon mengambil pakaiannya dan kembali masuk ke dalam kamar mandi. Saat Brandon keluar dari kamar mandi, Bia melihat pria itu sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Uncle, sini!" panggil Bia sambil menepuk-nepuk tempat duduk di sampingnya.
"Ada apa?"
"Berikan handuk itu, biar aku yang keringkan rambutmu," pinta Bia.
"Kamu yang akan mengeringkan rambutku? Kau yakin, Haninbia?" Brandon menyelidik dari sorot mata Bia. Mungkin saja dia menyimpan rencana jahilnya di sana.
"Aku yakin. Cepat duduk!" Bia merampas handuk dari tangan Brandon, menarik tangan lelaki itu dan mendudukkannya secara paksakan. Brandon hanya terdiam dan menuruti apa yang dilakukan oleh Bia.
Bia berdiri menggunkan lututnya dan mulai mengeringkan rambut suaminya.
"Kenapa mencuci rambut malam-malam begini? Tidak baik, bisa membuat rambut dan kulit kepala menjadi kering," ucapnya.
"Mandi di malam hari juga dapat menyebabkan banyak penyakit serius, Uncle. Memperburuk gejala rematik salah satunya. Kau kan sudah tua, lebih baik menghindari hal-hal yang semacam ini, daripada rematikmu kambuh, kan?" ujar Bia, dengan senang hati memberikan perhatian pada Suaminya.
"Menyebabkan paru-paru basah, menyebabkan otot kaku, bisa menyebabkan flu, berisiko terkena bronkitis akut, asma berisiko kambuh, memicu kejang pada penderita epilepsi, dan berisiko mengalami hipotermia. Sangat banyak, kan? Hindarilah agar kau menjadi orang tua yang sehat nantinya," celetuk Bia nyelekit.
"Kau sedang membicarakan apa, Bia?" tanya Brandon memotong ucapan Bia.
"Membicarakan rematikmu!" timpal Bia.
"Itu hanya Hoax. Dokter Spesialis Penyakit dalam dan Konsultan Reumatologi, Handono Kalim menegaskan bahwa mandi malam tidak masalah, itu hanya mitos. Menurut Handono hingga saat ini belum ada penelitian yang membuktikan bahwa sering mandi malam hari dapat menyebabkan rematik di kemudian hari. Hanya saja terkadang mandi malam hari dan menggunakan air dingin dapat membuat otot kaku. Hal ini pun lumrah dialami seorang jika tidak kuat dingin," terangnya lugas.
__ADS_1
"Begitukah?" Bia bertanya dengan wajah bingungnya.
"Tapi, bukankah lebih baik kalau aku cepat tua dan mati? Kau bisa secepatnya lepas dari pernikahan pura-pura ini?"
Bia meletakkan handuk yang tadi dia gunakan untuk mengeringkan rambut di atas tangan Brandon.
"Aku memang ingin ini semua cepat berkahir. Tapi, aku tidak mau jadi janda muda yang suaminya meninggal karena suaminya penyakitan!" sahut Bia.
"Kalau begitu kau harus menjagaku untuk tetap hidup sehat," ujar Brandon.
"Aku juga tidak mau jadi babysitter. Tapi, sebagai istrimu, aku akan melakukan yang terbaik. Aku akan mengatur pola hidupmu sebisaku agar kita bisa bersama lebih lama," tangkas Bia tersenyum simpul.
Brandon tercenung beberapa saat. Melihat Brandon seperti itu, Bia tertawa.
"Jangan baper dong, Uncle! Masa iya, aku cuma mengatakan itu kamu langsung jatuh cinta padaku?" ledek Bia.
"Jatuh cinta padamu? Tidak akan pernah!" sinis Brandon kesal karena merasa dipermainkan.
Lagi, Bia mengerucutkan bibirnya. Dan...
Cup!
Brandon mengecup bibir Bia yang sedang mengerucut.
"Jangan mengerucutkan bibirmu di depan pria lain!" ucap Brandon lirih.
"Kenapa? Tidak mungkin karena kau cemburu, kan?" selidik Bia.
"Tidurlah!" titah Brandon.
"Haha, malu untuk mengakui!"
*****
"Selamat pagi semuanya!" sapa Bia pada seluruh keluarga Wirastama yang sudah duduk rapi di meja makan. Keluarga Rey dan Daniel kompak menginap beberapa hari di rumah itu agar suasana rumah menjadi semakin ramai.
"Pagi!" hanya Embun, Rena, Belle, dan Hilsa yang menjawab dengan senyuman.
Sedangkan yang lain hanya diam dan menunduk. Dalam bayangan Gavin, Arga, dan Hansel, suara erotis Bia masih terus terngiang-ngiang.
"Sial! Bahkan aku sampai terbawa mimpi!" umpat Hansel.
__ADS_1
"Kapan kalian berangkat bulan madu?" tanya Bara agar suasana tidak terlalu mencekam.
"Be-besok!" jawab Bia gugup.
"Rencananya kalian akan bulan madu ke mana?" tanya Embun.
"Kami sudah menyusun rencana bulan madu. Tapi masih belum tahu akan bulan madu ke mana," timpal Brandon.
"Kalian tidak ada tempat bagus untuk direkomendasikan?" tanya Bia sambil melihat ke arah Hansel, Gavin, dan Arga. Dia pikir, karena mereka laki-laki pasti sering berpergian bersama pacar mereka, jadi lebih tau tempat yang bagus.
"Mereka mah boro-boro liburan. Lihat odong-odong lewat depan rumah aja sudah berasa di Dufan!" timpal Brandon sambil menahan tawa.
"Daddy, kami juga mau ikut dengan Paman Brandon. Selama ini kamu tidak pernah diizinkan bepergian seperti itu. Nanti kan ada Paman, jadi kami pasti aman," usul Hansel dan diangguki oleh yang lainnya.
"Kau memang paling pintar membuat huru-hara, Hans!" sergah Bara.
"Kami tidak pernah pergi kemanapun, Dad, mengertilah! Kami juga butuh healing!" seru Hansel.
"Lalu, kenapa kau tidak langsung pergi healing saja bersama Arga dan Gavin?"
"Bagaimana aku bisa pergi, uang tabunganku tidak sebanyak itu sampai bisa kugunakan pergi jalan-jalan melepas penat, Dad!" cetus Hansel. "Aku tidak ada miripnya dengan anak-anak orang kaya yang lain, sangat menyedihkan!" keluhnya berharap Bara dan Embun akan mengasihaninya.
"Belajarlah dari tuyul, Hans. Masih kecil tapi sudah pintar cari uang," ucap Bara sambil meneruskan makannya.
"Baiklah, aku akan menjadi tuyul dan mencuri uangmu!" sentak Hansel mulai kesal.
"Pa, kami serius, kami juga mau ikut dengan Paman nanti," seru Gavin meminta pada Daniel.
"Lebih baik kalian pergi sendiri saja. Jangan mengganggu Paman dan Bibi!" cegah Daniel.
"Entah berapa kali kita disuruh liburan. Tapi saat ditagih 'Kami masih sibuk, nanti saja kalian liburan, tidak aja yang menjaga Ibu kalian!' begitu, kan?" timpal Arga dengan gaya mengejek.
"Lama-lama kita duluan yang diabetes karena selalu dikasih janji manis!" sahut Hansel menimpali lagi.
"Kak Daniel, Kak Rey, Kak Bara, mereka ikut denganku juga tidak masalah, hitung-hitung untuk meramaikan suasana. Jika mereka nakal bisa memudahkanku mengikat mereka dan melemparkannya ke laut!" seloroh Brandon.
-Bersambung-
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya. Maaf kalau lama update. kadang author udah update tapi review-nya lama banget 🙏
Jangan lupa kasih bintang 5 ya
__ADS_1
terima kasih ❤️🙏🙏