Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)

Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)
Berencana Healing


__ADS_3

"Dasar wanita berhenti batu!" sungut Belle yang sudah memendam kekesalannya sejak tadi, dan baru bisa melampiaskannya sekarang. "Bia itu anakmu, kenapa kamu terus-terusan menyusahkannya sejak dia kecil? Barkan dia bahagia. Pergi sana! Jangan menampakkan wajahmu lagi wajahmu di depan adik iparku!" imbuh Belle.


"Hey, Bia itu anakku. Aku mau memperlakukan dia seperti apa, itu bukan urusan kalian! Dasar wanita-wanita tua!" celetuk Rita berlagak sombong.


Belle semakin kesal dibuatnya. Bisa-bisanya Rita mengatainya wanita tua?


"Hey, wanita tidak tahu diri. Aku tidak mau menghilangkan imageku karena bertengkar dengan orang tidak penting seperti dirimu, ya! Lebih baik kau pergi sekarang juga sebelum kesabaranku habis!" sentak Belle.


"Baiklah, aku akan pergi! Awas saja kalian. Aku akan membalaskan dendam ini!" ancam Rita, dia tidak menduga mereka bertiga tidak termakan umpan yang sudah susah payah dia lemparkan.


"Sana pergi! Kami tidak takut dengan ancaman murahanmu itu!" balas Rena sambil mengejek.


Setelah memastikan Rita benar-benar sudah pergi barulah mereka bertiga kembali masuk ke dalam. Mamastikan keadaan Bia.


"Bia, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Embun, dia sangat mengkhawatirkan kondisi Bia. Jangan sampai Bia drop karena terlalu kepikiran soalnya Bia sedang hamil muda.


"Aku tidak apa-apa, Kak. Mengenai yang dikatakan Mamaku tadi, itu semua tidaklah benar. Kalian jangan mempercayainya, ya?" Bia sangat berharap kalau mereka tidak akan percaya dengan kata-kata hasutan Rita.


"Tenang saja, kami masih bisa membedakan yang mana baik dan buruk, Bia. Kami tahu kamu anak yang baik, tidak mungkin kami percaya dengan kata-katanya," ucap Belle, menenangkan hati Bia. Karena memang inilah yang dia mau.

__ADS_1


"Terima kasih, Kak!" ucapnya sambil menatap mereka bertiga secara bergantian.


"Brandon, bawa saja istrimu jalan-jalan. Setelah mengalami hal berat seperti ini, dia membutuhkan suasana baru. Ibu yang sedang hamil, suasana hatinya harus terjaga dengan baik. Jangan sampai dia merasa stress, hal itu akan berimbas pada kandungannya," saran Embun, turut prihatin pada Bia yang masih terkulai lemah.


"Benarkah begitu? Kalau begitu, bulan madu yang sempat tertunda, bisa kita lanjutkan sekarang saja. Hitung-hitung sambil jalan-jalan," seru Brandon sangat bersemangat.


"Eh? Brandon, jika kamu terlalu sering mengintip calon anakmu, itu juga tidak baik. Sebaiknya, jarangi berhubungan intim selagi masih trimester pertama," ucap Rena.


"Oh, begitu? Tidak apa-apa, kami jalan-jalan, anggap saja sekalian bulan madu," cetus Brandon dan ditanggapi dengan senyuman oleh yang lainnya.


"Ahhh, kedatangan kami benar-benar mendatangkan keberkahan. Kami ikut, ya, Uncle!" timpal Hansel, yang tiba-tiba datang dengan pasukan yang lainnya.


"Sial! Kenapa mereka datang disaat kami sedang mendiskusikan tentang jalan-jalan, sih?" gerutu Brandon begitu kesal. Padahal rencananya, dia tidak mau membawa para pengganggu itu. Tetapi, mereka malah mendengarnya langsung.


"Hey, cupu! Kenapa kamu juga ikut? Lebih baik kamu di rumah saja, tidak perlu ikut pergi dengan kami!" bisik Hansel, memang tak suka dengan keberadaan Valerie yang selalu menguntitnya.


"Untuk mengawasimu!" jawab Valerie sekenanya saja.


"Hah... pupus sudah rencana kita untuk pergi berdua," Brandon memutar kedua bola matanya. "Memang begini ya nasib punya banyak Keponakan menyebalkan?!" sungutnya sambil mencebikkan bibir.

__ADS_1


"Uncle, kenapa kamu terlihat keberatan? Dari awal kamu sudah janji mau membawa kita juga, kan? Kami sudah menunggu lama sekali, kalau bukan karena kami tidak sengaja mendengarnya, mungkin kami tidak akan tahu apapun!" tukas Arga merajuk.


"Kalian ini, lihatlah kondisinya. Biarkan Brandon membawa Bia saja. Kalian kan bisa pergi dilain waktu!" tegur Belle, karena kecerewetan mereka, dia jadi merasa tak enak hati dengan Bia.


"Tante, Uncle sudah berjanji. Masak tidak ditepati, sih?" sungut Hansel, "Lagipula, jika tidak ada Paman, memangnya kami boleh pergi berlibur sesuka hati seperti anak orang kaya lainnya? Setelah ini, Paman akan memiliki anaknya sendiri, sibuk mengurusi keluarga kecilnya sendiri. Sudah tidak sempat menemani kami jalan-jalan," imbuh Hansel, sudah menerawang jauh ke depan tentang apa yang terjadi.


"Tidak apa-apa, Kak. Biarkan mereka ikut. Jika suasana ramai, malah lebih seru, kan? Suasana hatiku juga lebih cepat membaik," ujar Bia sambil tersenyum. Melihat para keponakannya yang merengek, ada rasa lucu tersendiri baginya.


"Nah! Bibi Bia saja mengizinkan. Paman, kamu sudah tidak bisa berbuat apa-apa!" Ledek Gavin yang ikut menimpali.


Brandon memijat pelipisnya, jika mereka ikut, bukan hanya Bia yang harus dijaganya. Tetapi, beberapa orang keponakan nakal juga turut menjadi anak itiknya.


"Paman, tidak perlu mengkhawatirkan kami. Kami tidak akan menyusahkanmu kok," celetuk Valerie sambil membenarkan kacamatanya.


"Kalian memang sangat pintar merayu!" dengus Brandon.


"Sayang, kita pulang ke apartemen, ya? Aku akan bersiap," pinta Bia.


"Iya, kita pulang ke apartemen sekarang. Tapi, kamu tidak perlu melakukan apapun. Nanti, aku yang akan mengemasi barang-barang kita untuk dibawa ke sana," sahut Brandon, mengelus puncak kepala istrinya.

__ADS_1


"Wah, Brandon kita sudah besar, ya, Kak?" ucap Belle tanpa sadar. Dia tidak menyangka, akan memiliki keponakan dari Adik laki-laki yang dulunya selalu berperang mulut dengannya.


"Kamu ini, selalu menganggap Brandon anak kecil yang sering kau marahi dulu. Sekarang, dia sudah berbeda. Bahkan, kita akan memiliki tambahan anggota keluarga darinya," pungkas Embun.


__ADS_2