Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)

Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)
Bersepeda berdua


__ADS_3

"Kau sedang mengirim telepati padaku, Uncle? Aku bukan peramal yang bisa mengerti maksudmu dengan hanya melihat tatapanmu!" sungut Bia.


"Bisakah kau diam sesaat saja?" tandas Brandon pada akhirnya.


"Diam? Bahasa apa itu?" jawaban Joana membuat Brandon semakin kesal.


Brandon memejamkan matanya sesaat, dan mengusap wajahnya kasar.


Entah kesalahan apa yang aku perbuat di masa lalu hingga bisa mendapatkan karma seperti ini. Bertemu dengan wanita ini benar-benar sebuah kesialan untukku! Dan aku harus melihat tingkahnya ini selama satu tahun? Fiuh!


"Uncle, apa kau merasakannya juga?" seru Bia, wanita itu seperti Beo, tidak henti-hentinya mengoceh.


"Apa?" tanyanya dingin.


"Sepasang kekasih berada di tengah jalan karena mobil mogok, bukankah itu terlalu mengandung drama? Haruskah kita menyanyi seperti film-film Bollywood?" cetus Bia, wanita itu paling bisa membuat Brandon jengkel.


"Terserah kau saja! Aku lelah menghadapimu!" pungkas Brandon.


"Aku juga lelah. Sejak tadi kita menunggu tetap tidak ada taxi yang lewat. Bagaimana kalau kita menyewa sepeda itu saja?" usul Bia sembari menunjuk ke arah toko bunga, di depan toko tersebut terdapat sebuah sepeda yang biasanya digunakan untuk mengantar bunga.


Brandon mengikuti arah Bia menunjuk, wajahnya semakin datar, dia merasa usulan wanita itu hanya mau mengerjainya.


"Kau naik sendiri saja, aku akan minta Hansel atau Arga untuk menjemputku!" ketus Brandon.


"It's oke!" Bia meninggalkan. Branson sendirian. Dia berjalan ke toko bunga, dan benar-benar menyewa sepeda itu agar bisa cepat sampai di rumah.


"Terima kasih. Aku akan mengembalikannya secepat mungkin," ucap Bia seraya tersenyum ramah. Dia beruntung sebab sang pemilik toko mengizinkannya untuk meminjam sepeda itu.


Dengan senyuman sumringah dan sesekali bersenandung ria, Bia berjalan ke arah sepeda yang akan membawanya pulang. Namun, seketika langkahnya terhenti saat melihat Brandon yang sudah duduk di sepeda itu seperti sedang menunggunya.


"Uncle, turun sana! Aku mau pulang!" serunya menolak tubuh Brandon.


"Naiklah!" titah Brandon.


Bia mengerutkan keningnya, "naik? Apa maksudmu?" tanyanya bingung.


"Kita pulang bersama ke rumahku!"


"Tidak mau!" sungut Bia. "Tadi kau menolak. Setelah aku meminjamnya, kau malah mengajukan diri tanpa tahu malu? Turun, Uncle! Aku bisa mengayuh sepeda ini sendiri!" protesnya.


"Aku lupa membawa ponselku!" ucap Brandon datar.


"Itu urusanmu!"


"Naiklah, Haninbia!" titah Brandon tanpa mempedulikan ocehan-ocehan wanita itu. "Jika kau tidak mau, aku akan membayar sepeda ini dua kali lipat. Jadi, kau tahu kan siapa yang akan jalan kaki pada akhirnya?" ancam pria itu.


"Cih, dasar picik!" umpat Bia, terpaksa dia duduk di bangku belakang.


"Pegangan!" seru Brandon.


"Hum!" deheman Bia, deheman itu mengungkap ketidaksukaannya.


Bia berpegangan pada besi-besi sepeda yang bisa diraihnya agar tidak terjatuh. Enggan sekali dia memeluk Brandon seperti yang dilakukan pasangan lain pada umumnya. Brandon juga tampaknya sangat fokus mengayuh sepeda itu. Keringatnya bercucuran membasahi tubuhnya, berulang kali dia menyeka keringatnya, teriknya panas matahari seolah semakin membangkitkan semangatnya untuk terus berpacu agar lebih cepat sampai di rumah agar bisa menyegarkan diri dengan minuman dingin.


"Hahhhh!" Brandon menarik nafas panjang, lelahnya sudah mulai terasa. "Kenapa lama sekali tiba di rumah? Biasanya hanya membutuhkan waktu sepuluh menit saja!" gerutunya kesal, sepertinya rasa capek membuat otaknya menjadi lambat.


"Biasanya kau menggunakan mobil, sekarang naik sepeda. Frekuensi waktunya pasti berbeda!" celetuk Bia.


"Haus sekali... setibanya di rumah jus jeruk dingin pasti enak," gumam Brandon.


"Kalau aku, setibanya di rumahmu nanti akan langsung masuk ke dalam kulkas! Pasti lebih menyegarkan!" sambar Bia lagi, sedari tadi dia terus menyahuti ucapan Brandon.

__ADS_1


Brandon kembali diam, Bia mencebikkan bibirnya karena kesal suasana kembali hening.


"Lebih baik aku bernyanyi saja, daripada hanya diam? Lama-lama lidahku beku karena tak pernah bergerak untuk bicara," gumam Bia.


Siapa sih malam Minggu ketuk-ketuk pintu?


Hatiku bertanya-tanya


Sungguh aneh tapi nyata, memang dia, dia, dia, dia, oh


Siang tadi jumpa di depan rumah


Senyum-senyum padaku


Aku pun jadi malu


Akhirnya ada tamu malam Minggu


Siapa sih malam minggu ketuk-ketuk pintu?


Hatiku bertanya-tanya


Ha-ah


Ha-ah


Banyak lelaki datang menggoda


Tapi yang satu ini, dia nekat juga


Ulurkan tangan, sebut namanya


Malam Minggu


Kini ku tak sendiri


Ada si dia di sampingku


"Haninbia?" panggil Brandon dengan suara pelan.


"Hum? Kau mau memujiku? Tidak perlu, aku sudah mengetahuinya sejak dulu. Suaraku memang sangat bagus," ujarnya percaya diri.


"Suaramu memang bagus," ucap Brandon, seketika senyum Bia melengkung sempurna, "Tapi, menurutku lebih bagus kau diam!" imbuhnya, lengkungan senyuman Bia langsung berubah menjadi garis lurus.


"Aku susah payah bernyanyi, kau tinggal dengar saja susah!" cibir Bia tak senang.


"Telingaku sakit."


Bia mencubit kulit perut Brandon sangat kuat.


"Sakit! Hentikan!" pekik Brandon.


"Huh! Awas saja kau!" Bia bersedekap sembari mengerucutkan bibirnya.


Brandon membelokkan laju sepedanya ke arah sebuah rumah besar dan megah.


"Sampai!" seru Bia sambil tersenyum lebar.


Setelah memarkirkan sepeda itu di halaman rumahnya, Brandon langsung masuk ke dalam tanpa mengajak Bia.


Langkahnya terhenti saat tangannya dicekal oleh Bia.

__ADS_1


Brandon menoleh pada gadis itu, terlihat Bia sedang menunduk sambil meremas jari jemarinya.


"Brandon, a-aku malu," ucap Haninbia.


"Malu? Sama siapa?" tanya Brandon, lipatann di keningnya terlihat jelas.


"Sama kakak-kakakmu. A-aku datang dengan penampilan acak-acakan seperti ini, dan juga tidak membawa buah tangan," terangnya masih dengan wajah tertunduk.


"Aku pikir urat malumu sudah putus," ledek Brandon.


Bia mengangkat kepalanya, menatap serius pada laki-laki datar tanpa ekspresi bermulut tajam.


"Aku serius!" pekiknya.


"Lalu, aku harus bagaimana? Harus memasukkanmu ke dalam saku celanaku? Lagi pula, Kak Bara di kantor, sedangkan Kak Embun di toko kuenya, kau tidak akan bertemu dengan merek!" jelas Brandon.


Mendengar penjelasan Brandon, Bia langsung tersenyum senang.


"Kalau begitu, Ayo kita masuk. Cepatlah, jangan sungkan!"


"Brandon, aku gerah...." keluh Bia sambil mengibaskan bajunya.


"Sebentar," ujar Brandon.


"Valerie!" teriakan Brandon menggema seisi rumah.


"Ya, Paman?" terdengar sahutan dari lantai atas.


"Ke sini!" Brandon melambaikan tangannya memanggil wanita yang belum memperlihatkan dirinya itu.


Tidak lama, terlihat seorang wanita berlari tergopoh-gopoh ke arah mereka.


"Ada apa, Paman?" tanya gadis berkacamata tebal, rambut kepang dua, wajahnya yang tanpa riasan tetap memperlihatkan cantiknya.


Bia mengerutkan kening melihat wanita di depannya.


Siapa dia? Saat acara lamaran kemarin dia tidak ada?


"Bawa gadis ini ke kamarmu! Dia mau menumpang mandi!"


"Baiklah. Ayo, Tante!" ajak Valerie.


"Tante?" Bia tertawa canggung, panggilan setua itu belum cocok disematkan padanya.


Meskipun begitu, dia tetap mengikuti kemana Valerie membawanya.


"Kamu juga tinggal di sini?" tanya Bia mencoba akrab.


"Tidak. Aku tinggal hanya sesekali tinggal di sini, saat kedua orang tuaku keluar negeri, barulah aku di sini, Tante," jawabnya.


"Oh, begitu...." Bia manggut-manggut.


"Kata Pamanmu Hansel meminjam mobilnya, memangnya ke mana dia pergi?" tanya Bia. Sebenarnya itu tidaklah penting, dia hanya mau mengakrabkan diri dengan gadis yang terlihat tertutup itu.


"Hansel? A-aku tidak tau!" tangkasnya cepat, seketika wajahnya memerah.


-Bersambung-


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga rate 5 ya guys ❤️🙏


Terima kasih ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2