
Tak terasa satu jam telah berlalu, kegiatan mereka hari itu juga usai.
Para dosen dan Brandon sudah beranjak hendak pergi. Namun, tepat di depan pintu, Brandon tiba-tiba menghentikan langkahnya dan mengatakan sesuatu yang membuat Bia menjadi pusat perhatian semua orang.
"Haninbia, aku menunggumu di taman. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan!" ucap Brandon dengan wajah datar kemudian pergi begitu saja.
Sontak, semua orang melihat ke arah Bia yang masih menutup wajahnya dengan buku tebal. Clara juga mengikuti pandangan orang-orang yang menatap Bia. Tatapannya tajam mengintimidasi, seperti gorila yang siap menyantap pisangnya.
Apa-apaan Uncle sialan ini, kenapa dia harus menyebut namaku di tengah keramaian seperti ini? Sialan!
Bia habis-habisan mengumpat Brandon dalam hati, semua caci dan makian ia keluarkan hanya untuk Brandon seorang.
Brandon seolah tak peduli, setelah mengatakan itu yang membuat Bia menjadi pusat perhatian dan bahan gosipan seantero kampus, dia kembali melanjutkan langkahnya cuek.
"Bia, kau mengenal Pak Brandon? Ada hubungan apa kalian? Cepat ceritakan padaku!" desak teman-temannya yang mulai menunjukkan sisi kepo mereka.
"Duh, kalian ini kenapa berisik sekali?" dengusnya sambil membereskan buku-buku miliknya yang berserakan di atas meja. "Awas, aku mau pergi! Kalian membuat suasana semakin panas!" ucapnya, Bia tak mempedulikan tatapan orang-orang padanya, dia langsung menerobos kerumunan dan berlalu pergi.
Saat Bia baru saja melangkahkan kakinya keluar dari pintu, ada suara yang begitu dikenalinya memanggil namanya.
"Hanin ... Bia!" panggil seorang wanita.
Bia menoleh ke arah suara, terlihat seorang wanita berpakaian minim sedang berkacak pinggang dan menatapnya tajam.
"Ada apa, Bu Clara?" tanya Bia sopan.
"Ke sini!" panggilnya, tak merubah posisinya sedikitpun.
Bia dan Tasya berjalan ke arah Clara.
"Aku hanya memanggil Haninbia, kenapa kamu juga datang?" ketus Clara dengan lagak sombongnya.
Tasya terdiam, dia menyenggol lengan Bia dan berbisik, "Bia, aku menunggumu disekitar sini,"
"Hum!" Bia hanya menjawab dengan deheman halus.
Setelah itu, Tasya langsung pergi meninggalkan Bisa berdua bersama Clara.
"Kamu ada hubungan apa dengan Tuan Brandon Wirastama?" tuding Clara tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Jangan seperti ini, Bu. Apa tidak berniat mengajakku berbicara di kantin sambil makan mie ayam?" balas Bia membuat Clara jengah.
"Dasar tidak tahu malu!" gerutunya kesal. "Memangnya kapan kamu pernah melihat saya duduk di kantin?" tanyanya balik dengan wajah sombong yang tiada habisnya.
"Belum pernah, maka dari itu saya mengajak Ibu duduk di sana. Ibu mengajak saya bicara sudah membuang-buang waktu saya. Waktu adalah uang, kan? Jadi, sebagai kompensasi traktir saya makan!" cetus Bia.
"Kamu! Berani sekali bicara selancang itu! Tidak takut saya akan mempersulit kamu?" cibir Clara.
"Tidak!" jawabnya datar.
"Setahu saya Tuan Brandon tidak memiliki saudara perempuan seperti kamu. Jadi, saya hanya mau memperingatkan saja, jangan terlalu berharap padanya, karena dia tipe laki-laki yang cepat sekali merasa bosan. Lebih baik kamu merenggangkan jarak dengannya sebelum menyesal," ujarnya seperti seseorang yang sedang memberikan nasihat.
"Saya merenggangkan jarak agar Anda bisa mengambil kesempatan untuk mendekat? Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Uncle jelek itu, kalau mau ambil saja. Saya permisi!" pungkas Bia dan langsung pergi.
Hari ini aku benar-benar sial! Semua ini gara-gara Uncle itu!
Clara mendengus kesal, dia menggemeretakkan giginya. "Kalau kau berkata seperti itu, kali ini aku akan percaya. Tapi, jika kalian ada hubungan lain, aku pasti akan membuatmu hancur, anak ingusan! Tuan Brandon hanyalah milikku seorang!" gerutu Clara.
Sambil berjalan, Bia menghentak-hentakkan kakinya, dia menghampiri Tasya yang sedang sibuk memainkan gadgetnya.
"Ada apa? Kenapa wajahmu kusut seperti itu?" tanya Tasya heran.
"Ulat bulu itu juga suka dengan Paman Brandon?" tanya Tasya yang menaikkan sebelah alisnya.
Bia mengangguk membenarkan.
"Memang tidak ada yang bisa menahan pancaran pesonanya. Cuma kau!" Tasya menunjuk kening Bia.
"Apa?"
"Kau yang terlalu bodoh!" lanjut Tasya.
"Hey, tidak tertarik dengan seorang pria itu belum tentu bodoh, kan? Aneh! Jadi maksudmu, aku harus tertarik dengan semua pria yang ada di sini, begitu?" cecar Bia kesal.
"Sudahlah, aku hanya bercanda saja," ucap Tasya sambil menepuk-nepuk pelan pundak Bia. "Oh iya, bukannya Paman Brandon ingin bertemu denganmu di taman? Cepat temui dia!"
"Tidak!" pekik Bia menolak.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku tidak mau bertemu dengan Uncle mesum itu! Aku mau pulang saja."
"Mesum? Bia, siapa yang mesum?" tanya Tasya yang tingkat kekepoannya semakin menjadi-jadi.
Bia masih bungkam, sampai namanya dipanggil oleh seseorang yang membuatnya merasa jengah dan kesal.
"Haninbia!" panggil orang itu.
"Bia, Gavin sudah menjemputku. Aku pulang duluan, ya?!"
Tanpa menunggu jawaban apapun Tasya langsung berlari ke arah sebuah mobil yang sejak tadi memang sudah terparkir di dekat mereka.
"Aku sudah menunggumu sedari tadi, kenapa tidak menemuiku?" tanya Brandon.
Bia memutar bola matanya, "kenapa aku harus menemuimu? Memangnya siapa dirimu?"
"Aku hanya ingin memberitahumu kalau hari Minggu nanti aku dan keluargaku akan datang ke rumahmu!" ujar Brandon tanpa mempedulikan rajut wajah Bia yang terlihat sangat menolak kehadirannya.
"Untuk apa?"
"Kupikir kau seorang wanita yang cerdas, ternyata otakmu sangat kecil, ya? Masih belum sampai ke pembicaraan dewasa seperti ini!" ejek Brandon.
"Memang! Tidak seperti Anda yang sudah terlihat tua tapi sama sekali tidak mengerti bahasa manusia. Aku kan sudah berulang kali mengatakan padamu, setelah kejadian malam itu anggap saja kita tidak saling mengenal! Tapi, kau malah memanggilku di depan orang banyak seperti tadi!" Bia terus saja mengoceh tapi sepertinya laki-laki di hadapannya itu tak memperdulikannya sama sekali.
"Berisik!" sela Brandon membuat Bia langsung terdiam. "Aku hanya mau mengatakan itu!"
Brandon baru mau mengambil langkah beranjak pergi. Namun, ucapan Bia yang mengatainya membuatnya tertegun.
"Dasar Uncle tua pembual! Pembohong belaka!" ejek Bia.
Brandon sempat berdiri di tempatnya, kemudian baru membalas. "Terserah kau mau menganggap apa ucapanku barusan. Hari Minggu kau bisa menunggu dan lihat saja!" balas Brandon.
Brandon melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda. Dia memegangi wajahnya yang ditumbuhi bulu-bulu, yang membuat ketampanannya menjadi berlipat-lipat ganda.
Apakah aku setua itu? Usia kami memang berbeda jauh, tapi kurasa aku belum cocok jika dipanggil Uncle tua!
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.
Berikan juga rate 5 ya guys ❤️❤️❤️
__ADS_1
Terima kasih karena sudah bersedia untuk mampir dan memberikan dukungan ❤️❤️❤️