Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)

Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)
Berkilah


__ADS_3

"Tasya, kau seperti itu sangat mirip dengan...." Bia sengaja tidak melanjutkan ucapannya.


"Seperti apa?" Tasya menautkan kedua alisnya.


"Seperti hewan yang bertugas mencari keberadaan babi hutan!" cetus Bia kemudian tertawa puas.


"Sialan kau!" ketus Tasya. Tiba-tiba dia teringat dan menanyakan sesuatu.


"Bi, semalam kau ke mana? Setelah Paman Brandon mengantarmu ke kamar, kalian berdua tidak terlihat lagi?" tanya Tasya menyelidik.


Bia terkejut, dirinya mendadak panik kala mendapat pertanyaan yang jawabannya sama sekali belum ia siapkan.


Oh ... jadi Uncle semalam bernama Brandon?


"Tadi pagi saat aku terbangun, aku berada di dalam sebuah kamar," jawabnya cepat agar lawan bicaranya tidak curiga.


"Sendirian?" tanya Tasya memastikan.


"I-iya pasti sendirian. Kenapa kau bertanya seperti itu?" Bia bertanya balik dengan gugup.


"Aku hanya penasaran. Jadi, di mana Paman Brandon semalam? Sehabis mengantarkanmu ke kamar, dia tidak terlihat lagi. Gavin juga mengatakan, Paman Brandon tidak pulang," ucap Tasya membuat wajah Bia semakin pias.


Namun sayangnya Tasya tak dapat melihat itu.


"Mana aku tahu. Mungkin saja dia menginap di kamar sebelah. Iya, kan?" sahut Bia sekenanya.


"Mungkin juga. Semalam aku menunggumu sampai larut malam. Aku ingin menyusulmu tapi Gavin tidak mengizinkan. Dia memaksaku untuk pulang," jelas Tasya.


"Oh? Hahaha!" Bia hanya membalas ucapan sahabatnya dengan kekehan tak bermakna.


"Jadi, kenapa tiba-tiba aku bisa bersamanya?" tanya Bia. Itulah yang selalu terpikir dan berulang-ulang terngiang-ngiang di kepalanya. Pertanyaan yang sampai sekarang belum ia temui jawabannya.


"Kau sama sekali tak ingat, Bi?" tanya Tasya menyelidik.


Bia hanya menggeleng.


Tasya menghela nafas panjang. Berlagak seperti orang yang akan menceritakan masalah besar.


"Kau benar-benar tidak ingat sama sekali?" tanya Tasya sekali lagi.


"Mana mungkin aku ingat, aku mabuk!" tukas Bia mulai kesal.


Tiba-tiba pemikiran Bia mulai melanglang buana entah ke mana.


"Apa mungkin dia mengambil kesempatan saat aku sedang mabuk? Karena dia pamannya Gavin, jadi dia mendekatiku dan bermaksud jahat? Kenapa kau tak melarangnya, Tasya? Aku, kan jadi...."


"Dasar tidak tahu malu!" sela Tasya seketika membuat Bia langsung bungkam. Dia bosan mendengar ocehan Bia yang sama sekali tak ada benarnya.


"Kau yang langsung naik ke atas pangkuannya!" tukas Tasya membuat Bia membulatkan matanya sembari menggelengkan kepalanya berkali-kali.

__ADS_1


"Memeluknya, menciumnya bahkan tidak mau lepas dari pelukannya!" imbuh Tasya yang menjatuhkan pukulan telak pada Bia.


"A-apa? Bagaimana mungkin aku melakukan hal memalukan itu. Jangan mengada-ada!" sungut Bia seraya menggelengkan kepalanya berkali-kali. Merasa tak terima dengan ucapan sahabatnya yang diklaim sebagai tuduhan tanpa bukti.


"Lalu, apa menurutmu Paman Brandon lah yang tergoda dengan kecantikanmu yang seperti Dewi ini?" ejek Tasya sambil terkekeh pelan.


Bia tahu, Tasya tak pernah berbohong tentang apapun padanya. Namun, bantahan yang dia ucapkan hanya untuk menyelamatkan harga dirinya saja. Meskipun dia tak cukup sadar untuk mengingat semua yang terjadi, tapi samar-samar dia sedikit ingat tingkah laku memalukannya semalam.


"Ta-tapi, tetap tidak mungkin kalau aku yang duluan menggodanya." Bia kembali membantah.


"Kenapa, apakah ada yang terjadi setelah kalian menghilang bersama?" tanya Tasya menyelidik.


"Bagaimana mungkin? Apa yang sedang kau pikirkan dalam otak mesummu itu, Tasya?" Bia menyentil kening Tasya sampai wanita itu mengaduh-aduh.


"Kau?"


"Kembali ke tempat duduk kalian masing-masing!" ucap seorang dosen yang baru saja masuk.


Seketika, para mahasiswa dan mahasiswi yang tadinya sibuk bercanda ria dan mengobrol dengan seksama, langsung terdiam dibuatnya.


"Itu Pak Skakmat! Jangan ribut!" ucap teman-teman Bia yang mulai kocar-kacir mencari tempat duduk.


Tak ada satupun dari mereka yang berani main-main dan sampai mengeluarkan suara kegaduhan.


****


Akhirnya, jam Dosen yang dikenal dengan sebutan Bapak Skakmat itu pun berakhir. Di akhir kata, dia menginterupsi mahasiswanya. Kemudian mengumumkan informasi penting pada mahasiswa dan mahasiswi.


"Wah, kira-kira motivator itu pria tampan atau hanya seseorang yang membosankan, ya?" ucap para mahasiswa yang mulai ribut.


"Dia adalah seorang laki-laki. Jika ingin melihat rupanya, kalian bisa langsung datang!" pungkas Bapak Skakmat dan berlalu pergi.


"Dia tidak pernah keluar dari jalur nama panggilannya. Selalu memotong ucapan orang lain dengan ucapan nyelekitnya," ejek Bia dengan senyuman miring tercetak di bibirnya.


"Hati-hati. Nanti kalau jodohmu seperti dia, bagaimana?" timpal Tasya menyadarkan sahabatnya.


"Mana mungkin jodohku tua Bangka seperti itu," bantah Bia tegas.


"Mungkin bukan tua Bangka. Tapi, setiap ucapan yang keluar dari mulutnya sama pedasnya dengan Bapak Skakmat!" tukas Tasya kembali mengejek.


Bia hanya memutar bola matanya jengah.


"Ayo, kita harus segera pergi dari sini sebelum pria kadal itu menemuimu di sini," ucap Bia.


"Ya, ya, kau benar. Haiss ... kenapa ketenanganku pun sampai terganggu seperti ini," keluh Tasya.


Tasya dan Bia segera melarikan diri. Dengan menggunakan taxi online, mereka pergi ke sebuah cafe yang sedang banyak digandrungi oleh para remaja.


Mereka berdua mengambil tempat paling ujung, agar mereka bisa lebih leluasa untuk bercakap-cakap dan menyusun rencana tanpa ada gangguan apapun.

__ADS_1


"Bi, apakah kamu punya cara jitu?" tanya Tasya.


"Ada. Tapi, keberhasilan rencana ini juga harus tergantung dengan bakat aktingmu nantinya," jawab Bia sembari memasang senyum cengir kuda.


"Kalau bersangkutan dengan bakat aktingku, tentu tidak perlu khawatir. Memangnya apa rencanamu?" tanya Tasya penasaran.


Bia mulai mendekatkan dirinya dan membisikan sesuatu di telinga Tasya.


Senyum keduanya pun terbit, selanjutnya mereka bertos ria kegirangan karena merasa telah menemukan rencana sempurna.


*****


"Paman, ayo mengakulah padaku. Di mana kamu semalam menginap?" tanya Hansel memaksa Brandon untuk buka suara. Sedari tadi dia terus saja menjadi bayang-bayang dan mengganggu konsentrasi Brandon.


"Hansel, tidak semua urusan pribadiku kamu harus tahu, kan?" tukas Brandon tanpa mengalihkan matanya dari sebuah map yang masih di pegangnya.


"Aku penasaran, Paman!" ucap Hansel memelas.


"Aku tidak peduli dengan rasa penasaranmu itu!" sahut Brandon acuh.


Hansel berdecak kesal. Padahal, dia ingin mengorek sedikit informasi dari Pamannya ini. Dia memang sangat penasaran, apakah Pamannya yang phobia akan hubungan percintaan ini sudah menyentuh gadis muda yang seumuran dengannya itu semalam?


Tampaknya, Hansel hanya bisa gigit jari. Karena Brandon memang tipe orang yang sangat mengunci masalah pribadinya pada siapapun.


"Paman, menikahlah! Jangan membuat Ibuku khawatir disetiap harinya," seru Hansel lagi membuat Brandon hanya mengerutkan alisnya tanpa menjawab apapun.


Dasar pria minum ekspresi! irit bicara!


"Sudahlah. Tidak perlu menyumpahiku dalam hati. Katakan saja langsung," sambar Brandon membuat Hansel menelan saliva-nya.


"Paman, apakah sekarang kau sudah menjadi peramal?" tanya Hansel lagi yang merasa lucu karena Brandon dapat mengetahui isi hatinya.


"Hans, jika kau masih berniat mengacau di sini, lebih baik sekarang kau keluar!" usirnya yang mulai jengah dengan sikap tengil keponakannya.


"Kalau aku tidak mau bagaimana?" goda Hansel berhasil memicu rasa jengkel Brandon.


"Kalau kau tidak mau, aku akan menendangmu keluar sekarang juga!" ancam Brandon dengan wajah serius.


Hansel menelisik raut wajah dan manik cokelat Brandon. Berusaha mencari sebuah candaan yang mungkin tersirat di sana. Namun, tak ada guratan candaan sedikitpun yang tertangkap oleh mata Hansel.


"Paman, kenapa kau tak pernah bisa diajak bercanda, sih?"


"Hans, jika kau masih saja banyak omong di sini, aku akan langsung menendangmu keluar tanpa ampun!" Brandon kembali mengeluarkan ancamannya yang selalu menjadi kenyataan jika dia terus dipermainkan.


"Coba saja. Aku akan mengadu pada Mommy kalau kau semalam tidak pulang karena menginap di Rex Club bersama seorang wanita!" balas Hansel mengancam Brandon.


Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.


Jangan lupa berikan rating 5 ya guys ❤️❤️❤️

__ADS_1


Terima kasih karena sudah bersedia mampir ke karya Author ❤️❤️❤️


__ADS_2