
Brandon beralih, wajah sendu Clara membuatnya ingin tertawa. Dengan entengnya, dia memberikan satu jawaban yang membuat semua orang di ruangan itu terkejut.
"Karena dia istriku!"
"Is-istrimu?" Clara tercekik dengan kenyataan yang ada. Pantas saja, mereka berdua terlihat sangat dekat. Bahkan, saat di panggung tadi sangat mesra. Ternyata, itulah alasannya?
Clara melirik ke arah Nugraha yang terlihat tenang. Bahkan, pria itu tersenyum pada Bia yang tak sengaja bersitatap dengannya. Clara tersenyum miring, ternyata Nugraha sudah tahu tentang pergantian pemeran tadi namun tidak mengatakan apapun pada yang lain? Itu semua karena dia juga sudah tau kalau ternyata Brandon dan Bia adalah sepasang suami istri, kan?
"Pak Nugraha, sepertinya Anda perlu menjelaskan sesuatu padaku dan Pak Rektor. Anda sudah tahu tentang pergantian adegan tadi, kan? Tapi, kenapa tidak mengatakannya padaku atau membuat sebuah warta agar para penonton pun tidak terkejut saat pemerannya sudah berganti?!" sentak Clara menuntut penjelasan. Sebenernya, hatinya sedang cemburu, perasaan kecewa karena tidak bisa menggapai cinta yang selama ini selalu ia ingini, terus saja mendesaknya.
"Maaf, Clara, aku hanya menuruti permintaan Brandon saja, tidak ada bermaksud menipumu ataupun para penonton," sahutnya membela diri.
"Mentang-mentang orang kaya, bisa melakukan apapun sesukanya? Bisa mempermainkan harapan orang lain sesukanya?" cibir Clara, matanya semakin memanas kala melihat Brandon dan Bia malah asik berbincang dibandingkan melihat ke arahnya yang sedang menuangkan rasa kecewanya.
"Sudahlah, Clara, mungkin saja Brandon memang ada maksudnya tersendiri," timpal Pak Rektor, dia berusaha menerangkan Clara. Dia juga tahu, perasaan Clara terhadap Brandon. Tapi, apa yang bisa dikatakan? Kini pria itu telah beristri. Tidak bisa lagi dijadikan sebuah pion pengharapan.
Air mata Clara mulai menetes. Tatapan tajam yang awalnya berpaku ke Brandon dan Bia kini beralih menatap sang Rektor. Dia menggeleng, merasa tak percaya, orang yang biasa dia jadikan tempat berkisah, kini membela seseorang yang dianggapnya sebagai musuh cinta?
"Entahlah. Kurasa, tugasku di sini telah selesai. Mewakili penonton, aku mau mengutarakan rasa kekecewaan kami pada kalian semua yang telah mempermainkan kami," ucap Clara, dia membungkukkan tubuhnya sebagai rasa menghormati Rektor kemudian berjalan ke arah pintu.
"Tunggu!" seru Bia.
Clara menoleh, dia melihat Bia bagaikan musuh bebuyutan yang baru bertemu. "Ada apa lagi?" tanya Clara jengah menatap wajah Bia.
__ADS_1
"Ternyata, wanita yang sedang patah hati memang pintar menyembunyikan sakit hatinya, ya. Di mana kamu menyembunyikan air matamu itu?" tanya Bia sedikit mengejek.
"Hentikan omong kosongmu!" kecam Clara. Dia membalikan tubuhnya, baru satu langkah dia berjalan, seruan Bia kembali terdengar.
"Kenapa kau buru-buru sekali mau melarikan diri? Apa karena kau takut kebusukanmu akan terbongkar?" ledek Bia.
"Apa maksudmu? Jangan mengatai orang tanpa bukti!" decaknya.
"Lalu, jika aku memiliki buktinya, apa aku bisa sesuka hati bicara padamu?" tanya Bia sinis. "Aku tahu, kau menyukai suamiku. Tapi, memaksa dan mengancam, itu adalah cara yang salah!" cecar Bia.
"Siapa yang memaksamu? Kau yang menerima tawaranku untuk bermain di drama itu!" bantah Clara, dia tidak mau namanya semakin jelek di hati Brandon.
"Aku menolaknya. Karena ku tidak bisa. Tapi, kau menggunakan kekuasaanmu untuk memaksaku dan mengancamku. Kau tahu aku tidak memiliki bakat akting, kau memang berharap aku tidak bisa makanya kau memintaku saat-saat pertunjukan sudah dekat. Aku menolak karena ada adegan ciuman yang tidak bisa aku lakukan. Tapi, kau memaksa, beraharap aku berciuman dengan pria lain dan dilihat oleh Brandon, kan?" cerca Bia, inilah saatnya dia meluapkan segala kekesalan dalam hati yang selama ini hanya bisa dipendam. Namun, kekesalan itu sewaktu-waktu bisa menggerogoti dirinya. Jadi, utarakan saja agar perasaanmu menjadi lebih baik. Tidak perlu takut hubunganmu dengannya akan merenggang, tidak perlu menjaga silaturahmi dengan orang toxic.
"Kau memfitnahku, Bia! Beginikah caramu berterima kasih setelah aku merekomendasikanmu untuk bermain di drama yang akan membuatmu terkenal seluruh kampus?" Clara membalikkan fakta.
"Ya, kau menuduhku tanpa bukti. Kau telah mencemari nama baikku!" kecam Clara.
"Kalau begitu, aku akan mengedarkan bukti yang ku punya. Agar semua orang tau, kau memanfaatkan kekuasaanmu untuk bertindak mencelakai orang lain. Kau yakin, mau melihat bukti itu?"
"Clara, kau memang melakukan kesalahan besar!" ucap Pak Rektor.
"Pak, Anda memihak padanya?" wajah Clara mulai pias.
__ADS_1
"Clara, aku tidak memihak kepada siapapun. Aku hanya mengatakan apa yang menurutku benar," dalihnya, padahal dia memang takut dengan tatapan Brandon yang sejak tadi terus mengawasinya.
"Lalu, bagaimana caramu mengurus ini, Pak Rektor?" Brandon mulai membuka suaranya.
"Maaf, Clara, kamu bisa beristirahat di rumah selama tiga Minggu," ucap sang Rektor penuh penyesalan.
"Kau jangan salah paham. Aku tidak membela siapapun di sini. Aku hanya memberimu peringatan, kalau yang salah memanglah harus dihukum."
"Kupikir, kau memintaku datang ke sini untuk meminta maaf padaku. Ternyata, malah inilah yang aku dapatkan?"
"Maaf? Memangnya apa yang telah dilakukan suamiku padamu sehingga dia harus mendapatkan maaf?" tanya Bia.
Clara tersenyum kecut, dia merasa kecewa. Namun, dia segera keluar dari ruangan itu tanpa berkata apapun lagi.
"Terima kasih. Meskipun aku tidak puas dengan hukuman itu. Tetapi, itu sudah menunjukkan sedikit ketegasanmu," ucap Brandon, dia merangkul pinggang Bia dan menggenggam jemari istrinya itu.
"Aku lupa memberitahumu satu hal. Hubungan kami ini, jangan sampai bocor keluar. Cukup orang yang berada di dalam ruangan ini saja yang tahu. Aku tidak mau aktifitas sehari-hari istriku terganggu, mengerti?" terang Brandon sambil mencium punggung tangan Bia.
Huh, perlakuanmu itu seperti orang yang benar-benar mencintai istrinya. Aku hampir saja salah paham.
Di luar, Clara langsung menjadi pusat perhatian saat dia membawa barang-barangnya. Dia berjalan dengan kepala tertunduk.
"Brandon, meskipun kau sudah menikah dengan wanita ****** itu, aku tetap tidak akan menyerah padamu. Kau milikku, selamanya akan tetap seperti itu. Dan kau, Bia, aku akan membalas semua kekecewaanku ini suatu hari nanti," tekadnya, hatinya mulai menyimpan dendam kesumat.
__ADS_1
-Bersambung-
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga rate 5 🙏🙏🙏 Terima kasih ❤️❤️❤️