
Tidak berselang lama setelah Brandon pergi, Dokter yang dihubungi Hilsa pun tiba. Hilsa langsung membawanya ke kamar agar segera bisa memeriksa kondisi Bia.
Melihat Dokter masuk ke kamar anak yang pingsan Lita masih saja sungguh memainkan ponselnya. Tidak ada terbesit rasa khawatir sedikitpun dalam benaknya. Dia akan memainkan perannya jika Brandon sudah datang nanti. Karena, jika memulai aktingnya terlalu cepat tanpa dilihat Brandon, maka semuanya akan sia-sia saja.
"Bagaimana, Dok, sebenarnya dia kenapa? Apakah hanya kelelahan atau ada faktor lain yang membuatnya pingsan?" tanya Embun yang begitu khawatir dengan keadaan adik iparnya.
"Kak, lebih baik kita tunggu Brandon kembali dulu. Baru minta Dokter untuk menjelaskan, agar Brandon mendengar semuanya. Jika nanti kita yang sampaikan padanya, takutnya ada yang kurang karena kita lupa," saran Rena. Karena ini menyangkut kondisi seseorang. Apalagi Bia masih pingsan, jadi Bia tidak bisa turut mendengarkan penjelasan sabf Dokter juga.
"Bagaimana menurut Anda, Dok?" tanya Embun minta penilaian sang Dokter.
"Kita bisa menunggu Brandon untuk menyampaikan kabar ini," ujar Dokter itu.
"Baiklah kami menuruti apa yang Anda minta," akhirnya Embun juga ikut setuju.
Setelah menunggu sekitar dua puluh menit lamanya, akhirnya Brandon pun tiba dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Sejak tadi, dia terus memikirkan kondisi Bia, istrinya.
"Kak, apa kata Dokter? Istriku kenapa?" tanya
Brandon yang langsung mencecar Embun dengan beberapa pertanyaan.
"Dokter belum menjelaskan apapun. Kami sengaja menunggumu, agar kamu bisa mendengarnya dengan jelas," jawab Embun.
Seketika, tatapan Brandon langsung beralih pada sang Dokter. Seolah-olah dia sedang menuntut penjelasan akan kondisi istrinya.
"Selamat, Pak!" ucap sang Dokter.
mendengar ucapan selamat dari dokter itu Brandon mengurutkan keningnya wajah khawatirnya berubah masam, dia belum mengerti maksud dari ucapan selamat tersebut. Namun, tidak seperti Brandon. Embun, Belle, dan juga Rena justru langsung senyum mendengar kabar bahagia dari mereka berdua.
"Selamat? Maksud Anda?" tanya Brandon yang masih membutuhkan penjelasan akan hal-hal seperti itu.
"Selamat, istri anda sedang hamil!" ucap Dokter itu buru-buru menjelaskan.
"A-apa? Ha-hamil?" Brandon terkesiap, dia tidak menduga, akan mendapatkan kabar bahagia dalam selimut duka seperti ini.
"Ya, untuk memastikan lebih lanjut, kalian bisa melakukan USG atau mengetahuinya lewat testpack," ujar sang Dokter.
__ADS_1
"Baik, terima kasih, Dok!" Brandon tersenyum puas. Ternyata, Bia sedang mengandung buah cinta mereka.
"Kalau begitu, saya pamit undur diri."
"Sekali lagi terima kasih, Dok. Hati-hati," ucap Brandon.
Setelah dokter itu pergi, Bia siuman. Dia langsung melihat kanan kiri.
"Sayang, aku mau mengantarkan Bibi," rengeknya pada sang suami.
"Bia, Bibi sudah berada di peristirahatan terakhirnya, tempat ternyaman dan dia sudah tenang di sana," ucap Brandon, mengelus rambut panjang istrinya itu.
"Berarti, Bibi pergi tanpa aku?" matanya kembali berkaca-kaca, untuk terakhir kalinya, dia tidak bisa mengantarkan Bibinya.
"Tidak apa-apa. Nanti kita Sering-sering mengunjungi Bibi, ya!" Brandon berusaha menenangkan Bia agar suasana hati wanita itu tetap terjaga.
Bia menganggukkan kepalanya, namun dia tidak kuasa menahan air matanya yang berjatuhan tanpa diminta.
"Bia, selamat, ya!" ucap Belle ikut duduk di samping Asin iparnya.
"Selamat atas kehamilanmu!" tangkas Embun cepat, agar Bia tidak salah paham. Takutnya, Bia malah mengira kalau mereka senang dengan meninggalnya Wila.
"A-aku hamil?" tanya Bia tergagap, dia menatap wajah Brandon, meminta penjelasan yang pasti pada Suaminya itu.
"Iya, Sayang, kamu hamil anak kita!" Brandon melakukan kepalanya membenarkan ucapan embun. Brandon mengusap-nguasa perut Bia yang masih datar.
Bia ikut memegangi perutnya yang masih datar. Dirinya sungguh bingung, harus merasa senang atau sedih. Kini hatinya menjadi campur aduk, kabar bahagia ini hadir sebagai ketenangan hati yang kacau.
Mungkinkah dia hadir sebagai pengganti Bibiku? Membuatku mengerti, aku tidak akan sendirian seperti dulu lagi. Ada suami, keluarga yang baik, dan kini kau menitipkan seorang bayi kecil yang akan menggantikan Bibiku yang telah tiada? Terima kasih, Tuhan. Kau tetap memberikan kebahagiaan meskipun hatiku sedang berduka.
"Terima kasih," ucap Brandon sembari mengecup singkat kening istrinya. Air mata kebahagiaan tidak kuasa ia tahan. Dia benar-benar bahagia akan kehadiran buah hati mereka dalam perut Bia sekarang. Buah cinta yang akan menjadi perekat dirinya dan Bia untuk selamanya. Janjinya dalam hati, akan menjaga Bia dan anak-anaknya kelak sampai akhir hayatnya.
"Sama-sama," jawab Bia.
"Ehem!" Embun berdehem, "Kalian ini, ya. Tidak lihat ada kami di sini?"
__ADS_1
"Kakak kan juga bisa minta anu-anu dengan Kak Bara!" celetuk Brandon, mulutnya masih pedas seperti biasanya.
"Kami sedang berbahagia, mana bisa ingat ada orang yang sedang iri seperti kalian!" imbuhnya.
"Bia?" panggil Rita, sejak tadi dia sudah menunggu momen ini. Akhirnya, kondisinya sangat pas untuk dia memulai rencananya.
Brandon dan yang lainnya saling pandang. Wajah wanita itu mirip sekali dengan Bia. Mereka sudah bisa menduga kalau Rita adalah Ibu kandung Bia.
"Mama?"
Mendengar panggilan via mereka semakin yakin kalau Rita Ibu kandung Bia.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya Rita dengan berurai air mata. Langsung memeluk Bia dan menangis tersedu-sedu.
"Aku tidak apa-apa, hanya gejala awal kehamilan saja kok, Ma!" jawab dia tetap menunjukkan senyum bahagianya meski hatinya kini sedang bercampur aduk.
"Kamu hamil?" tanya Rita.
Bia menganggukan kepalanya membenarkan. "Iya, aku hamil, Ma!" jawabnya.
"Syukurlah, ternyata kamu hanya hamil. Mama pikir, kamu akan meninggalkan Mama seperti Wila!" ujarnya sambil pura-pura terisak.
Hanya hamil? Dan, dia sudah melihat Bia pingsan tadi. Tapi, kenapa dia tidak masuk dan menunggu di luar Apa maksudnya ini?
Batin Embun bertanya-tanya. Bahkan, tangisannya juga terlihat hanya akting belaka. Tetapi, mereka tidak mengatakan apapun takut Bia akan tersinggung. Sebab mereka tidak tahu hubungan Bia dan Rita yang sebenarnya.
Cih, kalau mau pura-pura sedih juga akting yang benar dong!
sungut Belle dalam hatinya ikut kesal.
"Bia, karena Wila sudah tidak ada, biarkan Mama yang tinggal di sini mengurusi kamu yang sedang hamil, ya?"
-Bersambung-
Jangan lupa untuk tinggalkan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga rate 5 ya guys 🙏😁
__ADS_1
Terima kasih ❤️🥰😍