
"Kenapa tidak kamu jawab?" tanya Brandon lagi.
"Perasaanku tidak enak. A-apa aku harus menjawabnya?" tanya Bia gamang.
"Jawab saja, mungkin saja itu kabar penting!" saran Brandon.
Saat Bia hendak menjawabnya, tiba-tiba telepon itu terputus. Namun, layar ponselnya kembali hidup karena Dokter Handy kembali menelpon Bia.
"Dokter Handy menghubungiku lagi!" seru Bia memperlihatkan layar ponselnya yang tertera nama Dokter Handy. Bia semakin gelisah, hatinya menjadi resah. Takut, ada sesuatu yang buruk terjadi pada
"Bi, jawab saja!" seru Brandon lagi agar Bia segera menjawab panggilan itu. Namun, wanita itu masih terdiam cukup lama.
Brandon langsung merebut ponselnya dari tangan Bia. Menekan icon hijau dan menloudspeaker agar apa yang dikatakan Dokternya Handy juga terdengar oleh Bia.
"Bia, kenapa lama sekali kamu menjawabnya? Bibimu berada dalam masa kritis, cepat kembali dan lihatlah Bibimu!" Pinta Handy, suaranya terdengar panik di seberang sana.
"Bi? Kamu mendengar perkataanku tidak?" tanya Dokter Handy tak sabaran.
"A-aku mendengarnya. A-aku a-akan segera kembali ke sana sekarang juga!" jawab Bia tergugu, sebab dia sedang menekan rasa sesak di dadanya.
Tut.. Tut..
sambungan telepon mereka terputus. Bia dan Brandon langsung masuk ke dalam mobil dan kembali ke rumah sakit. Padahal, mereka baru saja tiba. Dan lagi, ada suasana bahagia yang menyelimuti mereka. Tetapi, tiba-tiba seperti ada guntur yang menyambar, awan hitam pun dengan cepat menguasai hati mereka yang sedang gelisah.
Sepanjang perjalanan Bia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya *******-***** jemarinya, menandakan bahwa ia benar-benar sedang khawatir dengan keadaan sang Bibi.
__ADS_1
Brandon pun mengerti hal itu, jadi dia tidak mau terlalu banyak bicara.
Setibanya di rumah sakit, Bia langsung berlari ke ruangan tempat di mana Bibinya berada. Air matanya langsung menetes, tubuhnya terasa lemah tapi dia tetap berusaha berdiri sekuat mungkin. menggenggam tangan Wila, menciumi tangan orang yang selama ini telah membesarkannya dengan baik, dan selalu memberikan ajaran-ajaran yang baik pula. Bisa dikatakan, Wila lah yang selama ini menjadi Ibunya.
"Ibu, Ibu harus kuat...!" ucap Bia disela Isak tangisnya. Dia sungguh menyesal, kenapa baru sekarang berpikir untuk memanggil Bibinya itu Ibu. Sungguh-sungguh menyesal.
Wila terbaring lemah. Bahkan, ketika Bia mengucapkan sesuatu yang membuatnya senang, dia tidak menunjukan reaksi apapun. Dia hanya terdiam dengan mata tertutup. Namun, air matanya mengalir di sudut matanya.
Bia menghapus air mata Bibinya, benarkah ini akan menjadi yang terakhir untuknya? Haruskah, Bibinya pergi secepat itu? Sungguh, dia tidak bisa merasa ikhlas atas kepergian wanita itu.
Namun, apa yang diperbuat, sangat berbalik dengan hatinya. "Bu, jangan menangis, jika kamu masih sanggup maka bertahanlah. Aku menunggu kesembuhanmu. Namun, jika kamu sudah terlalu lelah menahan semua kesakitan yang terus menyiksamu, apapun yang terjadi aku mengikhlaskannya." mengucapkan kata-kata yang berbanding terbalik dengan hatinya membutuhkan kesabaran yang kuat. Bia terisak, dalam dia dia menangis sampai tubuhnya bergetar. Dokter Handy pun bukannya hanya diam saja. Mereka terus memantau perkembangan Wila yang terus menurun.
"Bu, aku sangat menyayangimu. Maaf karena sekarang aku baru memanggilmu dengan sebutan itu. Terima kasih karena telah menerimaku di dalam hidupmu, terima kasih karena telah membesarkanku layaknya putri kandungmu sendiri. Aku sangat-sangat menyayangimu," bisik Bia lagi sambil menahan segala kepiluan dalam hatinya.
Bia menggenggam erat-erat tangan Wila, biasanya wanita itu aka menggenggam balik tangan Bia, mengusap lembut punggung tangan Bia sambil bertukar cerita. Namun, sekarang hanya Bia yang melakukannya, tidak ada timbal balik seperti biasanya.
Mengetahui isyarat Dokter Handy, barulah tangis Bia pecah. Dia memeluk erat-erat tubuh Bibinya yang telah menjadi jasad.
"Bibi, Bibi, Bibi!" panggilan itu terus menggema dari bibir Bia. Dia harus merelakannya, meskipun berat dia harus memaksakan diri untuk ikhlas melepaskan Bibinya yang tidak akan mungkin bisa kembali dan memeluknya seperti dulu.
"Bia?" panggil Brandon perlahan, "Relakan Bibimu, ya. Jangan peluk dia terlalu erat." Brandon berusaha menarik istrinya itu ke dalam pelukannya.
Bia menurut, kini dia berpindah ke pelukan Suaminya, menangis sejadi-jadinya sebab hatinya masih terluka atas kepergian orang terdekatnya.
Setitik air mata jatuh tanpa diminta dari sudut mata Brandon. Dia ikut merasakan sakit, sebab dia juga pernah kehilangan sosok Ibu yang selalu memanjakannya. Dia sangat mengerti, arti dari sebuah kehilangan seperti yang Bia rasakan.
__ADS_1
"Ikhlaskan, Bi. Bibi sudah tenang dan tidak merasakan sakit lagi," ujar Brandon, mengelus kepala istrinya. Membiarkan pundaknya basah dengan air mata.
Dokter Handy pun turut bersedih, sudah memendam rasa begitu lama tetapi orang itu malah meninggalkannya tepat di hadapannya.
"Aku ikhlas. Tetapi, rasanya sangat sakit. Kehilangan Bibiku, rasanya sangat sakit...." ucapnya sambil terisak.
*****
Kini semua orang telah berkumpul, keluarga Brandon pun berdatangan. Tidak satupun dari mereka yang tidak datang. Rita, Ibu kandungnya Bia juga berada di sana, melihat sang adik pergi meninggalkannya, tidak ada setitik air mata yang menetes. Bahkan, raut penyesalan karena menyia-nyiakan Bia dan Wila pun tidak terlihat dari wajahnya. Dia duduk di samping Bia, tetapi tidak memeluk Bia, tidak pula berusaha menenangkan Bia seperti yang dilakukan Brandon dan kerabatnya yang lain.
Ketika dia tau siapa yang menikah dengan Anaknya, dalam hatinya dia terus membuat konspirasi agar bisa mengambil keuntungan dari Brandon.
Kenapa Wila dan Bia tidak mengatakan kalau dia menikah ke dalam keluarga kaya? Aku harus bisa membuat Bia tinggal bersamaku. Pasti, nanti aku akan kebagian harta. Aku bisa berbelanja sepuasku!
"Bia, yang tabah, ya!" ujar Embun, memeluk Bia cukup lama, dia juga mengerti bagaimana sakitnya ditinggalkan seseorang.
Hansel melirik ke arah Valerie yang menghapus sisa air matanya, dia menyenggol wanita itu dan berbisik, "Jangan sok sedih. Kamu tidak tau bagaimana perasaan Bibi Bia!" celetuk Hansel, jika berbicara dengan Valerie, mulutnya memang selalu kejam.
"Pergi sana!" sentak Valerie menyikut lengan Hansel yang memegangnya.
Bia memegangi kepalanya, sakit sekali. Rasanya, apa yang dilihatnya berputar-putar.
"Bia, kamu kenapa?" tanya Brandon khawatir.
-Bersambung-
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, gift, dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga rate 5 ya guys 🙏😁
Terima kasih ❤️🥰🥰