Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)

Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)
Pura-pura


__ADS_3

Sambil menggenggam tangan pria itu, Bia menceritakan apa maksudnya dan apa yang ingin dimintai tolong olehnya. Tak disangka, pria itu mengangguk setuju.


"Kau setuju?" tanya Bia memastikan dengan senyuman yang kian melebar.


Pria itu hanya mengangguk.


"Yes!" Bia tersenyum semakin lebar sampai memperlihatkan sederet giginya.


Bia memperhatikan gelagat si pria dari atas hingga ke bawah.


Penampilan oke, wajahnya tampan. Tapi Sayangnya dia bisu.


"Kalau kamu bisu, cukup angguk-anggukkan kepala saja nanti jika Bibiku bertanya," ujar Bia dengan senyuman menawan.


Pria itu menaikkan sebelah alisnya.


"Sudahlah. Ayo kita masuk sekarang!" Bia menggenggam jemari pria itu dan menyeretnya masuk.


Setibanya di dalam, matanya langsung melihat Bibinya yang sedang menyesap jus jeruk sambil membaca buku.


"Itu Bibiku, ayo kita ke sana!" ucapnya lagi.


Bia kembali menyeret Pria yang baru ditemuinya itu ke samping tempat duduk sang Bibi.


"Hem!" Bia sengaja berdehem kencang agar sang Bibi menoleh padanya.


"Bia?" mata sang Bibi langsung beralih menatap ke arah pria yang jemarinya masih saling terpaut dengan Bia. Wila pun tersenyum.


"Silahkan duduk!" titahnya mempersilahkan.


Bia menarik kursi di samping dan mempersilahkan pria itu duduk, kemudian barulah ia duduk di sampingnya.


Wila mengulurkan tangannya dan memperkenalkan dirinya. "Saya Wilasari, Bibinya Haninbia," ucapnya dengan senyuman tulus.


"Bibi, pacarku ini tidak bisa bi--"


"Hem!" sang pria mengeluarkan suara, membuat Bia diam tak melanjutkan ucapannya.


Pria itu membuka masker dan topinya, sedikit menyugar rambutnya untuk merapikan. Sama sekali tidak memperdulikan wanita di sampingnya yang tengah menatapnya dengan bola mata yang hampir lepas.

__ADS_1


"Saya Brandon Wirastama," balas pria itu yang ternyata adalah Brandon sambil menjabat tangan Wila.


"Ka-kau?" Bia menunjuk Brandon, dengan suara yang tercekat.


"Kenapa kau di sini?" pekik Bia kesal.


Brandon terlihat tenang, namun tangannya merayap di bawah meja dan mencubit paha Bia hingga wanita itu membeliakkan matanya.


"Hey, apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gi--"


"Hem! Sayang, Bibimu sedang melihat kita," sela Brandon dengan nada memberi peringatan, namun bibirnya menyunggingkan senyuman ke arah Wila yang menatap mereka heran.


Sial! Kenapa harus dia yang terpilih? Sudahlah, berakting dulu saja!


"Kalian tidak saling mengenal?" tanya Wila sembari menatap Brandon dan Bia bergantian.


"Ah? Mana mungkin aku tidak mengenal pacarku." Bia langsung mengandeng lengan Brandon. "Bibi ada-ada saja, Iya, kan, Sayang?" Bia balik mencubit lengan Brandon.


Wila masih menatap lekat ke arah Bia dan Brandon. Dia bisa merasakan, sikap Brandon pada Bia terkesan dingin.


"Maaf, Bibi. Di jam-jam tertentu gaya kami berkomunikasi terkadang memang sedikit membingungkan," tukas Bia menjelaskan dan tak melupakan senyum kikuknya.


Berkat aktingnya dan Brandon yang terbilang sempurna, akhirnya Wila percaya.


"Jadi, kapan kamu berniat melamar Bia?" tanya Wila kembali memecah keheningan.


"Bibi Wila, apakah ini tidak terlalu cepat? Benar, kan, Sayang?" Bia kembali meminta pendapat Brandon, namun tanggapan Brandon tak sesuai keinginannya.


"Jika Bibi Wila mengizinkan, Minggu ini Saya akan membawa keluarga saya menemui Anda," jawabnya dengan penuh percaya diri.


"Minggu?" tanya Wila memastikan.


"Ya, karena cuma hari itu keluarga saya bisa berkumpul semua," jawab Brandon. "Maaf...." ujarnya kemudian merasa tak enak hati.


"Tidak apa-apa. Kamu bisa serius dengan keponakan saya juga sudah sangat bagus. Saya hanya berharap kamu bisa menjaganya dengan baik," ujar Wila penuh harap.


"Terima kasih, Bi. Telah mempercayakan saya menjaga ... Ha-ninbi-a" ujar Brandon yang kesusahan saat menyebutkan nama lengkap Bia.


Bia membekap mulutnya sendiri menahan tawa, kemudian dia membisikkan sesuatu pada Brandon, "kenapa harus sok-sokan menyebutkan namaku?" bisiknya dengan nada mengejek.

__ADS_1


Brandon hanya memicingkan matanya, tak memperdulikan Bia yang sedari tadi terus mengejeknya.


"Kalau begitu, apakah boleh saya meminta nomor ponsel Anda?" pinta Brandon, dia terdiam sejenak dan kembali melanjutkan. "Agar nanti memudahkan jika keluarga besar saya ingin datang ke rumah meminang Haninbia," ujar Brandon melanjutkan.


"Tentu saja boleh." Wila langsung menyebutkan beberapa digit nomor ponsel pribadinya.


"Setelah bertukar nomor telepon dan berbincang-bincang sebentar, Wila pun pamit.


"Saya sudah harus kembali ke butik, kalian lanjutkan saja. Nanti jika ada waktu lain kali, berkunjunglah ke rumah kami," ujar Wila.


"Baik, Bi," jawab Brandon sembari mengangguk.


Wila memberikan senyuman sekali lagi kemudian beranjak meninggalkan mereka Brandon dan Bia di sana.


Setelah memastikan Wila benar-benar sudah menghilang dari pandangan mata, Bia segera menggeser duduknya menjauh dari Brandon.


"Kenapa bisa kau? Sungguh, aku sangat sial bisa bertemu denganmu lagi!" cetus Bia.


"Memangnya siapa yang menarik-narik tanganku di depan orang banyak tadi?" balas Brandon, seketika wajah Bia berubah pias.


"Lalu, kenapa kau tidak membuka maskermu? Malah sengaja mau ikut denganku! Lalu, apa maksudmu bertukar nomor ponsel dengan Bibiku? Kau ingin memaksimalkan peranmu, Uncle?" cibir Bia dengan senyum meremehkan.


"Uncle? Bukankah barusan kau memanggilku Sayang?" tukas Brandon dengan wajah datar.


"Oh? Kau ingin aku kembali memanggilmu Sayang? Kau ketagihan? Hahaha!" cecar Bia dan tertawa sampai menyita perhatian para pengunjung cafe.


Saat Bia masih tertawa dengan mulut yang terbuka lebar, Brandon menyumpal mulutnya dengan sepotong cake coklat.


"Berisik!" protes Brandon dia mengambil kunci mobil dan topinya kemudian meninggal Bia yang menatapnya jengkel dengan pipi mengembang.


Meski kesal Bia tetap mengunyah cake yang ada di mulutnya.


"Cih, dasar Uncle aneh. Wajahnya memerah seperti tomat matang!"


Bia meneguk air dan ikut pergi meninggalkan restaurant itu dengan perasaan senang karena rencana hari ini berhasil seperti harapannya. Bibinya tak kecewa, walupun mungkin lain hari akan kembali dituding dengan beribu pertanyaan lain. Namun, hari ini bisa menunda terlebih dahulu, itu adalah langkah baik yang diambil, menurutnya.


Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.


Jangan lupa berikan rate 5 juga ya

__ADS_1


Terima kasih ❤️❤️❤️


__ADS_2