
"Kalau memang kamu takut dia akan seperti itu kedepannya, kenapa dia yang kamu pilih untuk dibawa pada Bibi?" sanggah Wila.
Aku hanya memilih pria secara acak, mana kutahu kalau dia yang kupilih.
"Karena dia pacarku, Bi Wila," jawab Bia.
"Nah itu, lagi pula Bibi sudah tahu keluarga mereka itu orang-orang baik semuanya," tukasnya.
"Kamu ingat, saat kamu masih kecil Bibi pernah membawamu ke sebuah rumah mewah?"
"Rumah yang mengadakan pesta pernikahan itu?" tanya Bia memastikan.
Wila mengangguk membenarkan, "Itu adalah rumah keluarga Tuan Bara, saat itu pernikahan Nona Belle, dia memesan baju pengantin di butik Bibi," ujarnya.
Tiba-tiba pikiran Bia melayang saat dia tidak sengaja menabrak seorang anak laki-laki menyebalkan di tangga, mereka sempat bertengkar dengan sengit.
Apakah itu Brandon? Benarkah itu dia? Jika memang benar, sepertinya sikap dingin dan menyebarkannya itu sudah ada sejak kecil! Sejak kecil aku sudah memanggilnya Paman? Hahaha!
Bia tertawa sendiri mengingat kenangan lamanya bersama pria itu. Wila mengerutkan keningnya saat melihat Bia yang tertawa sendiri.
"Bia, apa yang kamu tertawakan?" tanya Wila membuat Bia tersadar dari lamunannya.
"Jadi, kita saling mengenal dengan mereka?"
"Bibi tidak tahu. Mungkin mereka sudah lupa karena sudah lama sekali. Tapi, Bibi masih ingat, mereka orang yang baik," ujar Wila.
"Bi Wila, Bia sudah mengantuk, Bia masuk dulu, ya?"
"Tidurlah, karena mulai esok hari lelahmu akan dimulai," ucap Wila.
Bia hanya tersenyum dan berlalu masuk ke kamarnya. Di dalam kamarnya, dia kembali memikirkan tentang keputusan yang sudah diambilnya saat ini, apakah dia harus menikah dengan Brandon? Tak ada cinta sedikitpun di hatinya untuk pria itu.
Bia mengeluarkan sebuah foto berukuran kecil dari dalam laci nakasnya. Dipandanginya foto seorang wanita muda itu, tak terasa air matanya luruh. Ada perasaan rindu yang mendera, rasa sakit, kecewa, marah, dan kehilangan.
"Ma, bagaimana kabar Mama di sana? Sepertinya kehidupanmu sangat baik sekarang hingga kau benar-benar lupa denganku," ujar Bia dengan bibir bergetar.
"Apakah suami barumu membahagiakanmu, Ma? Semoga saja begitu," imbuhnya.
"Ma, aku sudah hampir menikah. Aku sangat ingin kau datang dan mengucapkan selamat padaku. Tapi, apakah semuanya akan terwujud jika aku hanya berbisik pada keheningan malam? Meskipun aku membencimu karena kau telah menelantarkanku, tapi kerinduan di relung hatiku tak bisa aku sangkal," ucapnya dalam isakan, tatapannya nanar, rasa sakit yang kian bertumbuh di hatinya menyulap Bia menjadi sosok periang yang menyimpan berjuta kepedihan tersendiri.
Bia memeluk foto kecil itu, wajah saat Ibunya tersenyum sinis padanya masih terpatri jelas di ingatannya. Dan itulah terakhir kali dirinya bertemu dengan Ibunya.
"Rela meninggalkanku demi pria yang baru kau kenal, apakah semenyenangkan itu? Padahal, aku tak pernah berniat mengusik kebahagiaanmu. Lalu, kenapa kau meninggalkanku dalam lantar begini? Hatiku kerap bertikai karena bimbang ingin merindukanmu atau membencimu, Ma!" ucapnya lirih.
Bia tertidur dengan keadaan duduk sambil memeluk foto kecil yang telah buram.
*****
__ADS_1
Karena badannya terasa sakit, tanpa dibangunkan seperti biasanya, Bia bangun dan langsung bersiap.
"Mataku bengkak karena menangis," celotehnya sendiri sambil memutar-mutar Eye Roll.
"Masih terlihat bengkak," gumamnya.
Jadi, dia mengambil jalan pintas dengan memakai kacamata.
Bia keluar dari kamarnya, di meja makan sudah terhidang beberapa jenis makanan dengan sepucuk surat di sampingnya.
"Makan yang banyak, Bia. Hari ini Bibi buru-buru ke butik, maaf tidak sempat menemanimu sarapan bersama."
*****
Langkah gontainya membawa Bia ke kampus, tepat di depan kampus ada seorang pria berpakaian rapi yang menabraknya hingga Bia terduduk di tengah jalan.
"Aww...." pekik Bia.
"Kau sudah menabrakku! Berhati-hatilah lain kali!" bentak orang itu dengan wajah tak bersahabat.
"Aku? Seharusnya Anda yang lebih berhati-hati. Walaupun Anda buru-buru, tapi ini jalan umum. Orang lain juga menggunakan jalan ini!" balas Bia ketus.
"Aku sibuk, jadi wajar jika aku buru-buru dan tak sengaja menyenggolmu," ucap pria paruh baya sombong itu.
"Apa kau pikir orang lain tak lebih sibuk darimu, Kakek? Jika kau terlalu sibuk, maka bangunlah jalanmu sendiri agar tak bersenggolan dengan orang lain!"
"Kau! Beraninya kau memanggilku Kakek? Da--"
Bia tercenung, suara itu sangat dikenalinya, teramat dirindukannya, dan begitu dibencinya.
"Ma?" panggil Bia, dia masih terduduk, bokongnya sangat sakit hingga dia kesulitan bergerak.
Wanita itu menoleh, sesaat tatapan mata mereka beradu. Sejurus kemudian dia melihat kekanan-kiri seperti berusaha mencari seseorang.
"Kau memanggilku? Maaf, Nona, mungkin kau salah orang!" tandas wanita itu.
"Salah orang?" Bia tersenyum getir. "Bagaimana mungkin aku tidak mengenali Ibuku sendiri? Tapi, mungkin sepertinya dialah yang sengaja tidak mengenaliku," ucap Bia lirih.
"Rita, siapa gadis itu? Kenapa dia memanggilmu seperti itu?" selidik pria paruh baya berperut buncit itu.
"Aku tidak tahu. Aku sama sekali tidak mengenalinya, mungkin dia salah mengenali orang!" terang Rita.
"Awas saja jika kau berbohong padaku!" ancam pria itu.
Mereka melengos pergi begitu saja, tanpa berniat membantu Bia yang masih kesulitan berdiri.
"Kau tidak apa-apa?" tanya teman Bia.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, terima kasih untuk bantuanmu," ucap Bia.
Bia menyeret kakinya masuk ke area kampusnya.
"Bia, aku menunggumu sejak tadi, kenapa bajumu kotor?" tanya Tasya yang terlihat keheranan.
"Aku jatuh tadi," jawabnya singkat seperti orang tak bernyawa.
Kring
kring
kring
Ponsel Bia berbunyi, tertera nomor asing yang menghubunginya. Bia tak menjawabnya, dia memasukkan ponselnya ke dalam tas jinjingnya.
"Siapa Bi? Kenapa tidak dijawab?" tanya Tasya.
"Tidak tahu," jawabnya asal.
"Jawab saja, mungkin dari orang penting, kan?"
Benar juga!
Tidak sekali nomor tak dikenal itu mencoba menghubunginya, yang ketiga kali akhirnya Bia menjawab panggilan itu.
"Bia, ini Mama!" seru seseorang dari balik telepon.
Bia terdiam, bibirnya terkatup rapat. Baru saja mereka bertemu dan dia tidak diakui di depan orang banyak. Bukan perihal malu, tapi kecewanya masih terasa sampai sekarang.
"Mama? Siapa? Anda salah mengenali orang?" balas Bia, wajahnya sangat datar, tidak mencerminkan emosinya yang tengah naik turun saat ini.
"Bia, Mama mohon maaf atas kejadian tadi. Mama tidak bermaksud demikian. Bi, maukah kamu bertemu Mama? Mama merindukan kamu," ujar Rita.
"Oh? Kalau begitu, nikmatilah rindumu, rinduku sudah pupus!" ujar Bia.
"Bi, Mama mohon... ayo temui Mama, Nak!" Rita memohon dan memelas, berharap Bia mau menemuinya.
Apakah aku harus menemuinya? Rinduku menjadi semakin menggebu-gebu.
"Baiklah, kirimkan alamatnya!" jawab Bia akhirnya.
-Bersambung-
Hai-hai, terima kasih yang sudah mau membaca karyaku. Jangan lupa tinggalkan like, komen, gift dan vote ya agar author tambah semangat...
Berikan juga bintang 5 untuk novel ini
__ADS_1
Terima kasih❤️❤️❤️
Salam hangat untuk semuanya 🤗