Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)

Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)
Kenalkan Pacarmu!


__ADS_3

"Coba saja. Aku akan mengadu pada Mommy kalau kau semalam tidak pulang karena menginap di Rex Club bersama seorang wanita!" balas Hansel mengancam Brandon.


Brandon tak lagi bicara. Bahkan dia tak melihat keberadaan keponakan durjana itu barang sekalipun.


Dari mana bocah ini tahu tentang kejadian semalam?


Dalam diam Brandon mulai gelisah, sampai ucapan Hansel yang berikutnya membuatnya kembali tenang.


"Apakah tebakanku barusan itu benar, Paman?" tanya Hansel sembari menaikan sebelah alisnya.


"Diam!" bentak Brandon yang masih terpaku pada sebuah map di tangannya.


*****


Setelah bersantai sejenak bersama Tasya, Bia pulang ke rumahnya. Bia melihat Bibinya duduk di teras depan dengan tangan memangku wajahnya.


Mataya memandang ke sembarang arah, seperti sedang memikirkan sesuatu yang tak biasa.


"Bi Wila?" panggil Bia membuyarkan lamunan Bibinya.


"Bia? Kamu sudah pulang?"


Bia mengangguk, dia menyalami Bibinya dan duduk di samping wanita yang masih menatapnya lekat itu.


"Ada apa, Bi? Kenapa Bibi menatapku seperti itu?" tanya Bia heran. Tak pernah-pernah Wila menatapnya seperti itu.


"Tidak apa-apa, Bi. Semalam kamu tidur di mana? Kenapa tidak pulang? Bibi menghubungimu sampai beberapa kali tapi tak ada jawaban," tutur Wila.


"Maaf sudah membuat Bibi khawatir. Bia menginap di rumah Tasya semalam. Mungkin sudah ketiduran jadi tidak bisa menjawab panggilan Bibi," jawabnya berbohong.


"Lain kali beri kabar kalau mau menginap di rumah teman. Jadi Bibi tidak merasa cemas, takut kamu kenapa-napa," ujar Wila.


"Iya, Bi. Bia tidak akan mengulanginya lagi," ucap Bia berjanji.

__ADS_1


"Ya sudah, ayo masuk. Kita makan malam dulu," ajak Wila yang langsung beranjak dan masuk ke dalam.


"Bia mandi dulu, Bi."


Wila hanya mengangguk.


Setelah selesai mandi, Bia membantu Wila menyiapkan makanan untuk makan malam mereka. Meskipun Wila sudah sibuk di butik, tapi dia tetap menyempatkan waktu untuk memasak beberapa jenis makanan untuk dirinya dan Bia.


Saat mereka sedang makan, tiba-tiba Wila mengajak Bia bicara. Meskipun sedikit terkejut karena biasanya Wila paling marah kalau ada yang bicara di meja makan, namun Bia tetap menanggapi ucapan Wila.


"Bia, ada yang ingin Bibi sampaikan padamu," tutur Wila.


Sebelum menyahut, Bia menenggak air putihnya terlebih dahulu. "Apa, Bi? Langsung sampaikan saja," sahut Bia.


"Bibi mau kamu segera menikah, Bi!"


Pernyataan yang terucap dari mulut Wilasari membuat Bia terbatuk-batuk. Bia kembali meraih teko yang berisi air putih dan menuangkannya di gelas. Diminumnya air putih itu hingga tandas tak bersisa.


TAK!


Dia menatap wajah Bibinya lekat, berusaha mencari keanehan di wajah sang Bibi. Berharap kalau semua itu hanyalah candaan belaka seperti biasanya.


"Bibi serius, Bia." Wila berucap dengan wajah serius. Dia mengerti kenapa Bia menatapnya seperti itu.


"Bibi sedang demam? Kenapa hari ini Bibi bicara ngawur?" sela Bia yang masih menatap wajah Bibinya.


"Tidak, Bia. Bibi serius!" sangkal Wila.


"Bibi ingin kamu segera mengenalkan kekasihmu dan menikah dengannya sesegera mungkin!" tukas Wila yang masih bertahan dengan wajah serius.


"Hahahaha!" Bia malah terkekeh. Entah apa yang ada dipikirkannya saat ini. "Bibi Wila, lelucon macam apa yang sedang Bibi katakan?" Sebenarnya tak ada lagi tawa yang tersisa, Bia hanya tertawa dibuat-buat.


"Kita tidak sedang mengatakan lelucon apapun, Bia! Bibi serius. Kalau kamu tidak segera mengenalkan pacarmu pada Bibi dan kalian menikah, Bibi akan menikahkan kamu dengan Pak Broto!" pungkas Wila membuat Bia terdiam.

__ADS_1


"Pak Broto kan sudah tua, gendut dan mesum, kenapa Bibi bisa setega itu, sih?" rengek Bia.


"Bibi hanya tidak ingin kamu berakhir sepertiku, Bibi ingin ada yang menemani hari tuamu dan menjagamu kelak," urai Wila menatap Bia lekat.


Bia menggenggam jari-jemari Wila yang berada di atas meja, "Bi, Bia tahu semua ini Bibi lakukan demi kebaikan Bia. Tapi, Bia masih sangat muda dan Bia masih merasa nyaman dengan kesendirian ini. Setelah lulus kuliah, Bia akan mencari pekerjaan yang mapan dan membahagiakan Bibi," ujar Bia berusaha memberikan pengertian.


"Itulah yang tidak bisa dibiarkan. Jika kamu terlalu nyaman dengan kesendirianmu dan terlalu mandiri, kamu akan berakhir seperti aku, Bi!" tegas Wila.


Selama ini Wila memang dikenal sebagai wanita yang tegas. Dia juga pekerja keras hingga dia bisa mendirikan sebuah butik yang lumayan terkenal di pusat kota. kemandiriannya selama ini mengubah mindsetnya kalau wanita tidak selalu membutuhkan lelaki. Toh, semua juga bisa dilakukan sendiri. Untuk apa membebani diri dengan cinta?


Itulah pemikiran yang selalu tertanam di hati dan Pikiran Wilasari hingga menjadikannya perawan tua sampai sekarang. Namun, pandangan salah arah itu kini membuatnya menyesal.


Dia menyesal karena tidak menikah di usia muda dan memperbanyak keturunan agar ada yang menemaninya di hari tua. Sekarang, dia merasa kesepian karena seberapa lama Bia berada disisinya, keponakannya itu pasti akan memilih jalan hidup sendiri dan menikah. Meninggalkannya yang tergopoh-gopoh sendirian. Dan lagi, ada sebuah rahasia besar yang tersimpan, yang membuatnya semakin menyesal dengan jalan hidup penuh kemandirian yang dia ambil.


Makanya dia ingin Bia segera menikah sebelum benar-benar tiada. Dia ingin melihat keponakan kesayangannya itu bahagia bersama keluarga kecilnya, tidak seperti dia.


Dia merasa cemas dan takut Bia akan senasib dengannya karena alasan Ibunya Bia sendiri.


Padahal, Bia memiliki pacar, namun dia tidak mengenalkannya pada Wila. Terlebih sekarang mereka sudah tidak lagi bersama. Dan sekarang, ketakutan Wila mungkin akan terwujud. Bia mulai menimbulkan pemikiran seperti Wila saat masih muda, terlebih malam panjang yang membuatnya kehilangan kesucian, membuat Bia semakin takut untuk membangun bahtera rumah tangga.


"Memang apa yang salah dengan cara pikir seperti itu, Bibi?" tanya Bia serius.


"Tentu saja salah. Bahkan sekarang Bibi menyesal karena menumbuhkan mindset seperti itu," tukas Wila. "Terserah jika kamu menganggap Bibi jahat karena memaksamu segera menikah. Yang perlu kamu tahu, Bibi melakukan semuanya tentu demi kebaikanmu sendiri," imbuh Wila dengan suara rendah.


Mana mungkin aku menganggapmu sebagai orang jahat. Jika kamu benar-benar jahat, kamu tidak akan menarikku ke sisimu, mengeluarkan biaya banyak untuk membiayai hidupku dan aku bisa sekolah sampai ke jenjang tinggi seperti ini. Disaat aku sedang butuh kasih sayang tapi ditinggalkan oleh Ibuku demi pria lain, kau yang merengkuhku agar aku tak terbuang.


"Bia, jangan termenung!" pekik Wila. "Sekarang, kamu jawab saja, kamu bersedia mengenalkan pacarmu atau tidak? Kalau iya, kita akan bertemu besok di cafe dekat butik. Tapi jika tidak, malam ini juga Bibi akan menghubungi Pak Broto!" pungkas Wila mengambil intisari setelah mereka saling melempar pendapat.


Dada Bia bergejolak, otaknya kacau dengan permintaan sang Bibi. Tapi, sekarang dia hanya perlu menjawab iya atau tidak.


"Ba-baiklah, besok Bia akan mengenalkannya pada Bibi," ucap Bia yang akhirnya memberi ketenangan pada Wila.


Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.

__ADS_1


Berikan juga rating 5 ya guys❤️❤️❤️


Terima kasih karena sudah berkenan untuk hadir❤️❤️❤️


__ADS_2