
"Sejak kapan kau banyak bicara seperti ini? Biasanya apapun yang kukatakan kau pasti hanya diam, tidak akan menyangkal apapun meskipun aku mengatakanmu jelek," cecar Bia.
"Sejak bertemu denganmu!" jawab Brandon cepat.
Pufftt!
Bia menyemburkan air yang berada dalam mulutnya. Dia melirik wajah Brandon, mulai menahan tawa saat melihat Brandon memasang wajah seriusnya.
"Uncle, orang tua jangan suka membual!" ledek Bia.
"Bia, sekali lagi kau mengataiku tua, aku akan membuktikan padamu kalau aku tidak tua seperti yang kau katakan!" kecam Brandon.
"Hahaha, bukti? Bukti seperti apa yang kau berikan? Joging di pagi hari? Atau berlari empat ratus meter untuk membuktikan ketangguhanmu?" Bia masih saja meledek sambil geleng-geleng kepala. "Dasar tidak masuk akal!" gerutunya lagi.
"Aku bisa membuktikannya dengan olah-raga di atas ranjang hingga kita bermandikan keringat, atau sampai kau terkulai lemas?" sahut Brandon. Sontak, jawaban itu membuatnya tak bisa mengatakan apapun lagi.
"Sepertinya sudah siang. Untuk sampai ke Halte, aku menumpang denganmu saja," tangkas Bia. Dengan cekatan dia membereskan meja makan dan mencuci piring. Setelah itu, dia masuk ke kamarnya dan mengambil tas jinjingnya. Sedangkan Brandon hanya terdiam sambil terus memperhatikan gerak-gerik Bia yang terburu-buru.
"Ayo!" ajak Bia tergesa-gesa.
Brandon tidak mengatakan apapun lagi, dia mengekor di belakang Bia yang sudah masuk ke dalam mobilnya.
"Kenapa kau duduk di belakang?" tanya Brandon melihat dari kaca spion tengah.
"Karena aku menumpang, jadi aku duduk di belakang," jawab Bia dengan entengnya.
Brandon melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Butuh waktu setengah jam untuk tiba di Halte yang dimaksud oleh Brandon.
"Kenapa kau memilih tempat seperti ini sih? Kan jadi merepotkan. Harusnya pilih di tempat yang mudah dijangkau saja agar memudahkanku dan juga kamu!" omel Bia.
"Aku sudah menanyakan padamu. Tapi, kamu menjawab semua terserah padaku. Karena aku lebih suka tempat yang tenang, jadi aku memilih kawasan itu," jawab Brandon.
"Huh!" Bia hanya mencebik kesal, sebab apa yang dikatakan Brandon memang benar adanya.
Sampai di Halte, Bia langsung turun dan menutup pintu mobil sangat kuat. Tanpa berpamitan atau sekedar mengucapkan kata terima kasih pada Brandon.
Tanpa Bia sadari, ada sepasang mata yang sedang menghunuskan tatapan tajam padanya. Orang itu menyeringai kemudian tertawa jahat.
"Sepertinya, rencana yang telah aku siapkan benar-benar harus aku jalankan," gumam Clara.
__ADS_1
"Haninbia, karena kau yang telah memulai konflik denganku dengan mengkhianati ucapanmu sendiri, maka jangan salahkan aku atas takdir buruk yang selalu aku timpakan padamu!" seringaian tipis berhias duri terukir di bibirnya.
Clara melajukan mobilnya, tujuannya saat ini hanyalah menemui kepala fakultas seni untuk mendiskusikan sesuatu.
"Pak, untuk pemeran antagonis yang kemarin sempat kita bicarakan, apakah Bapak sudah menemukannya?" tanya Clara.
"Belum, Bu Clara. Apakah Bu Clara memiliki rekomendasinya?" tanya Nugraha.
"Ada. Saya memiliki seseorang yang sangat berpengalaman di bidang ini. Pasti Bapak akan sangat puas dengan seseorang ini," ujar Clara dengan senyuman jahat.
"Benarkah? Saya sangat berterima kasih jika Bu Clara bersedia memasukkan dia menjadi protagonis wanita di pertunjukan drama kita nanti," pinta Nugraha penuh harap.
"Pasti, Pak. Dia pasti sangat senang bisa berpartisipasi bersama kita di pentas kali ini," seru Clara mengangguk-anggukkan kepalanya berulang kali.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak. Nanti saya akan membawanya ke aula saat latihan," ucap Clara.
"Baik, Bu, saya menunggunya."
Clara melihat kepergian Pria itu dengan senyuman puas. Rencananya sudah berjalan lima puluh persen. Kemungkinan rencananya berhasil sempurna sudah sangat besar.
*****
"Huh! Semoga perjalanan rencana ini bermula dan akan berakhir dengan baik," gumam Haninbia.
"Bia, kamu di panggil ke ruangan Bu Clara!" ucap seseorang yang sengaja menghampiri Bia.
"Bu Clara?" Bia bertanya ulang untuk memastikan sekali lagi, mana tau telinganya salah dengar.
"Benar. Sekarang Bu Clara sedang menunggumu di ruangannya," ucap orang itu.
"Maaf, aku sedang sibuk. Jadi, untuk saat ini aku tidak bisa menemuinya," tolak Bia.
"Tapi, Bu Clara mengatakan ada hal penting yang harus disampaikan padamu sekarang juga."
Memangnya hal penting apa yang mau dia katakan padaku? Tentang menjauhi Brandon? Ckck!
"Baik. Aku akan ke sana sekarang."
Bia langsung menuju ke ruangan Clara. Tidak ada keseganan atau ketakutan yang berada di pikirannya. Dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Bia mendudukkan dirinya di sebuah sofa, dia menyandarkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, menunggu Clara yang membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Kau semakin berani menunjukkan ketidak sopananmu padaku!" cibir Clara.
"Jika ada hal penting, langsung katakan ke intinya saja. Aku tidak suka basa-basi!" timpal Bia tanpa menoleh pada Clara.
Clara merasa geram, namun dia masih memasang wajah senyumannya karena kali ini Bialah yang akan kalah.
"Pak Nugraha, meminta kamu untuk menjadi protagonis wanita di pentas kali ini," ucap Clara langsung merajuk pada inti pembahasan.
"Apa?" mata Bia langsung terbelalak sempurna.
"Pak Nugraha yang meminta, atau Anda yang merekomendasikan aku?" tanya Bia menyelidik.
Ternyata dia cukup pintar juga.
"Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja pada Pak Nugraha," pungkas Clara yang tak ingin membuat alasan lain. Dia takut tidak bisa menahan diri dan malah mengatakan yang tidak seharusnya dikatakan.
"Pak Nugraha tidak mengenaliku karena aku bukan dari fakultas seni. Dan lagi, aku cukup tahu diriku tidak memiliki kemampuan dan kualifikasi untuk berakting makanya aku tidak pernah mendaftarkan diri. Jadi, bisakah Anda membuat sebuah alasan yang lebih masuk akal dan rasional?" ucap Bia panjang lebar.
"Terserah kau mau percaya atau tidak. Aku hanya menyampaikan apa yang telah di amanahkan saja," kilah Clara.
"Aku menolak!" seru Bia kekeuh.
Cih, kau kira aku takut dengan penolakanmu itu? Aku memiliki kunci utama, Haninbia. Jika kau menolak, masih banyak ancaman yang bisa ku gunakan untuk membuatmu setuju.
"Tidak masalah. Namun, Pak Nugraha juga sudah menyampaikan, jika kau menolak maka beasiswamu akan dicabut." Clara tersenyum penuh kemenangan.
Bia mengepalkan tangannya. Sungguh, dirinya merasa telah dipermainkan.
Memangnya kenapa kalau beasiswaku dicabut? Suamiku orang terkaya dan terpandang. Dia bisa membiayai anak cucunya untuk berkuliah di sini. Namun, usaha yang telah susah payah kudapatkan, harus hilang hanya karena muslihat wanita ini? Aku tidak bisa menerima kekalahan ini.
"Siapa lawan mainku?" tanya Bia serius.
"Protagonis prianya adalah Jonathan," jawab Clara, kembali menyuguhkan senyuman puasnya.
-Bersambung-
Jangan lupa berikan like, komentar, bunga, dan juga vote. Berikan bintang 5 juga ya guys... dukungan kalian sangat berarti untuk author.
Terima kasih🙏🙏🙏❤️❤️❤️
__ADS_1