Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)

Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)
Perjanjian


__ADS_3

Brandon melihat ke arah Bia, Bia menyunggingkan senyuman manisnya seperti wasiat dari Madam tadi. Namun, semua tak seindah harapannya. Brandon hanya melirik sedikit padanya lalu langsung melihat ke arah lain. Bahkan tidak ada tanda-tanda tersipu sedikitpun dari wajah yang tetap memasang ekspresi batu itu.


Aku sangat membenci ekspresi batu itu!


Bia melirik tajam ke arah Brandon yang lebih memilih melihat ke sekeliling rumahnya, seperti maling yang sedang menyusun rencana akan masuk melalui celah mana. Terlebih, dia begitu kesal saat mendapati Tasya yang sedang duduk sambil melemparkan senyum kebahagiaan kepadanya.


Bia membalas tatapan Tasya dingin, tak ada senyuman yang menghiasi wajahnya seperti yang dilakukan Tasya. 'Setelah ini, aku akan menghitungnya baik-baik denganmu, Tasya! Tunggu saja!' begitulah arti tatapan Bia untuk sahabatnya itu.


Sampai, suara seorang pria yang begitu berwibawa membuat mereka semua terdiam dan mulai mendengarkan pembicaraan mereka selanjutnya.


"Terima kasih untuk perjamuan Anda untuk keluarga kami. Maaf kedatangan kami telah merepotkan kalian semua," ucap Bara.


"Kedatangan kami kesini selain untuk bersilaturahmi dan saling mengenal dengan keluarga Bia agar bisa lebih akrab dan mengeratkan hubungan silaturahmi, juga memliki tujuan yang lainnya."


"Tujuan utama kami datang adalah ingin melamar Bia, untuk adik kami Brandon Wirastama!"


Tidak seperti wanita lain yang akan merasa bahagia saat dilamar oleh pria idamannya, justru Bia malah mencubit lengannya hingga memerah, berusaha membangunkan dirinya dari mimpi karena masih tak menyangka, kepura-puraannya akan berlanjut ke tahap seperti ini.


Wila tersenyum hangat pada Bia dan keluarga Brandon, kemudian dia menjawab, "saya serahkan jawabannya langsung pada Bia, keponakan saya," ucap Wila.


"Ma-maaf semuanya, bolehkah saya meminta waktu untuk berbicara berdua saja dengan Brandon?" tangkasnya.


Semua orang saling beradu pandang dengan dahi mengernyit dalam. "Boleh, silahkan saja...." sahut Embun, selaku Kakak ipar Brandon.


Bia menyeret tangan laki-laki kaku itu ke arah taman belakang. Menurut Bia tempat sepi itu cocok untuk dijadikan tempat dia berbincang dengan Brandon.


Setibanya dia di taman, Bia langsung menghempaskan tangan Brandon kasar.


"Apa semua ini?" tanya Bia, tatapan tajamnya beradu dengan tatapan dingin Brandon.


"Aku melamarmu!" ucapnya dengan wajah tak berekspresi itu.


"Cih, melamarku? Apa kau sudah jatuh cinta padaku?" cibir Bia, dengan entengnya dia menanyakan hal sensitif seperti itu.


"Ayo kita buat kesepakatan?!"

__ADS_1


"Kesepakatan? Kesepakatan apa?" tanya Bia dengan kening yang berlipat dalam.


"Menikah!" tandas Brandon, wajahnya masih sama, membuat gadis itu berdecak kesal, sangat menyebalkan!


"Uncle, apa kau gila?" tanya Bia menantang.


"Kau tahu Embun Jingga Prameswari? Dia Kakak iparku!" ungkap Brandon.


"Lalu, apa hubungannya denganku? Uncle, kumohon, hentikan semua ini, jangan buat hubungan kita saling terlibat semakin jauh...." Bia memelas sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Dia memaksaku menikah, karena kau juga mengalami hal yang sama, maka ayo buat kesepakatan menikah!" terangnya tanpa wajah bersalah.


"Untuk apa kau membiarkanku berbicara tapi kau tak menanggapiku sama sekali?!" cebik Bia semakin kesal.


"Aku tidak mau!" itulah jawaban Bia atas ajakan kerja sama dari Brandon.


"Kau yakin? Tidak takut membuat Bibimu kecewa?"


"Itu bukan urusanmu!" balas Bia ketus.


"Kenapa kau selalu mengusikku? Hari itu, bukankah aku sudah mengatakannya dengan jelas, jika kita bertemu di luar, anggap saja tak saling mengenal satu sama lain!" tandas Bia geram.


"Sejak awal kita memanglah dua orang asing yang melakukan tidak sengaja one night stand, dan setelah itu takdir mempertemukan kita dalam situasi yang lain hingga kita bertemu di sini! Kau yang menarikku saat itu, kan? Atas dasar apa aku mengusikmu lebih dulu?" sungut Brandon panjang lebar.


Bia memejamkan matanya, menarik nafas panjang-panjang.


Aku memang tidak bisa menyalahkannya untuk kejadian itu, memang akulah yang sudah menariknya untuk kuperkenalkan pada Bibi. Tapi, tetap saja aku tidak tahu kalau itu dia!


"Maaf, aku tidak tertarik! Aku tidak mau menyia-nyiakan masa mudaku!" Bia kekeuh menolak.


"Kalau begitu baiklah, aku akan meminta keluargaku pulang. Biarkan kak Embun maupun Bibimu kecewa, aku yakin kau pasti memiliki alasan yang cukup baik agar Bibimu tidak kecewa, kan?" ucap Brandon.


Alasan yang kuat? Alasan apa yang harus aku katakan pada Bibi Wila selain melarikan diri dari masalah. Jika masalah yang dibuat sebesar ini, maka saat aku kembali pun Bibi Wila pasti masih kecewa padaku.


Brandon beranjak dari hadapan Bia, namun dalam keadaan pikiran yang masih kalut, Bia mencekal lengan pria itu hingga Brandon menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Uncle, aku bersedia untuk bekerja sama denganmu!" ucap Bia merubah keputusannya.


"Setuju?" tanya Brandon memastikan.


Bia mengangguk. "Lalu, apa saja syarat kerja sama kita?" suaranya melemah, ada rasa tak rela namun tetap dipaksakan.


"Itu akan kita bicarakan nanti, sekarang kita kembali ke depan dan bersikaplah senormal mungkin, jangan membuat mereka curiga. Ayo, kita sudah terlalu lama meninggalkan mereka," tangkas Brandon.


"Tapi, bisakah pernikahan ini kita laksanakan secara tertutup? Hanya keluarga dekat saja yang datang!" pintanya.


"Kenapa begitu?"


"Aku ... memiliki alasanku sendiri," jawabnya lirih.


"Baiklah, aku mengerti, kita akan menuruti keinginanmu." jawaban Brandon melegakan hati Bia yang masih diselimuti kegelisahan yang tak berkesudahan.


Pelan-pelan Bia melepaskan tangan laki-laki asing yang mungkin saja telah menjadi calon suaminya. Dia sendiri masih berdiri mematung di tempatnya, pikirannya masih saja berkelana memikirkan keputusan yang baru saja diambilnya.


"Apakah keputusanku barusan itu sudah benar?" gumam Bia.


"Haninbia?" panggil seseorang dari arah belakang, membuat Bia terjingkat kaget.


"Bibi Wila? ada apa?" tanya Bia berusaha menyunggingkan senyum manisnya.


"Kenapa kamu malah termenung di sini? Keluarga Brandon sudah menunggu di depan, mereka ingin segera mendengar jawabanku dan menentukan tanggal pernikahan," terang Wila.


"Ayo!" ajak Wila menarik tangan Keponakannya.


"Hem, Bibi...."


"Ada apa Bia?"


"Ah? Tidak, Bi. Hem Ayo!" ajak Bia kemudian.


"Bia, jika ada masalah, jangan sungkan untuk ceritakan pada Bibi. Semua masalah ada jalan keluarnya jika kita mau berbagi," ujar Wila.

__ADS_1


Bia terdiam, dia sedang menimbang, apakah harus memberitahukan yang sebenarnya dan membatalkan perjanjian yang sudah dia buat dengan Brandon, atau memilih melanjutkannya agar Bibinya tak kecewa?


__ADS_2