
"Sayang, sebenarnya dendam apa yang tersimpan di antara kalian berdua? Jika kenangan, mungkin aku tidak akan terlalu ingin tahu. Tetapi, dendam? Aku tidak bisa mengubur rasa penasaran ini. Bisakah kamu jelaskan? Sebelum, kamu katakan, aku tidak bisa tenang," tanya Bia mengharap sebuah jawaban dari Brandon ataupun Ben.
"Bukan sesuatu hal yang penting, Sayang. Jangan terlalu dipikirkan," bujuk Brandon, semakin menambahkan banyak sayuran ke piring istrinya agar bisa lebih sehat.
"Bukan apa-apa? Sepertinya, aku tidak sebeharga, itu, ya?" celetuk Ben.
"Bisakah kau makan dengan tenang tanpa menguji satu kata pun? Suaramu benar-benar sangat mengganggu gendang telingaku!" sentak Brandon.
"Maaf!" Ben langsung menurunkan intonasi suaranya.
"Lanjutkan saja makanmu!"
"Paman, besok jam berapa kita berangkat?" tanya Hansel.
"Setelah sarapan, kita bisa langsung berangkat ke bandara. Malam ini, langsung berkemas saja," jawab Brandon.
"Kau keterlaluan! Tidak mengizinkan aku ikut pergi dengan kalian. Tetapi, kalian malah membahas tentang ini di depanku!" sungut Ben.
Sontak, semua orang saling bertatapan satu sama lain. Mereka semua mengerutkan kening. Terlalu susah untuk memahami perseteruan terselubung yang terselip di antara mereka berdua.
"Ben, diamlah! Jangan memperkeruh suasana." Brandon melirik Bia, takut istrinya malah akan salah paham.
"Kak embun, Kak Belle, Kak Rena, Kak Bara, Kak Daniel, Kak Rey, bolehkan aku menginap di sini? Sudah malam sekali, aku pasti akan kesulitan menemukan penginapan, karena waktu sudah larut," tanya Ben dengan raut wajah yang patut dikasihani.
__ADS_1
"Kenapa kesulitan? ini hari aku tak bukan hutan. Jadi, tidak mungkin kau kesulitan. Kalau kau memang benar-benar kesulitan menemukan penginapan, biarkan Hansel dan Arga yang mengantarmu mencari penginapan," tukas Brandon.
"Kenapa bukan kau saja, Brandon?"
"Aku harus menemani istriku yang sedang hamil. Lagipula, ini masih jam setengah delapan malam. Jangan mengada-ada!" sinis Brandon.
"Entahlah, kau memang terlalu kejam!"
Setelah semua orang selesai makan, Brandon dan Bia langsung kembali ke kamar mereka. Meskipun Ben berusaha mencegah, tapi tak dihiraukan oleh Brandon.
"Sayang, kasihan temanmu. Sesekali dia datang ke sini, seharusnya kamu menjamu temanmu itu. Bukan malah meninggalkannya begitu saja seperti ini," ucap Bia. "Lagipula, aku juga tidak mengerti dengan dendam apa yang ada diantara kalian. Dia terlalu berharap perhatian darimu, sedangkan kamu bersikap terlalu ketus padanya," imbuh Bia sambil mengendikkan bahu.
"Kamu sedang hamil. Jangan terlalu berpikir yang aneh-aneh. Tidak baik untuk kesehatan calon anak kita, Sayang. Biarkan mereka tumbuh dengan baik tanpa harus stres di dalam sini," ujar Brandon.
"Kalau kamu tidak mau memberitahukannya padaku, bagaimana aku tidak memikirkannya, Brandon? Kasih tau saja! Atau, paling tidak, berikan kisi-kisinya agar aku bisa mencari tau sendiri segala kemungkinan!" desak Bia. Bia melepaskan genggaman tangan Brandon, menghentikan langkahnya, tak mau lagi berjalan di samping Brandon, sang suami.
"Tidak bisakah kamu jujur padaku? Hanya mengatakan ada apa di antara kalian, sesusah itu? Katamu, semuanya harus dikatakan dengan jelas. Tapi, ternyata kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku, ya!" sungut Bia.
"Aku memilih untuk tidak mengatakan hal ini padamu, karena aku terlalu malu, Sayang. Kalau aku mengatakannya, bukan hanya aku yang membenci Ben, tapi kamu juga pasti akan membencinya. Tidak ada hal apapun di antara kalian, jadi kamu tidak bisa bersikap seperti itu pada orang lain," ujar Brandon.
"Kenapa? Hari itu, dia juga hampir membunuhku. Kalau aku menyimpan dendam ini, bukannya sah-sah saja?" celetuk Bia.
"Ayo, tidur. Besok kita harus bangun lebih awal." Brandon kembali mengalikan pembicaraan.
__ADS_1
"Sudahlah. Tidak penting juga aku bertanya. Kamu tidak akan mengatakan apapun padaku. Yang ada, mulutku akan kaku dan berbuih!" Bia meninggalkan Brandon yang terpaku di tempatnya. Melihat Bia yang pergi meninggalkannya begitu saja.
Masuk ke dalam kamar, Brandon melihat Bia yang tertidur terlentang. Brandon mengganti pakaiannya dengan piyama. Mematikan lampu, dan menghidupkan lampu tidur. Saat Brandon naik ke atas ranjang, Bia langsung membalikkan badan membelakangi Suaminya.
Niat Brandon untuk memeluk istrinya pun pupus.
"Kamu masih marah?" tanya Brandon, suaranya sangat lembut.
Bia tidak menjawab. Malah menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"Tidurlah! Besok kita akan pergi, kan? Jadi, kita harus bergegas tidur!" ucap Bia, membalas ucapan Brandon tadi.
Kalau dia terus merajuk seperti ini, apakah dia akan kepikiran? Kalau benar seperti itu, pasti akan berimbas pada calon anak kami nantinya. Apa aku harus cerita saja padanya apa yang sebenarnya terjadi? Tapi, rasanya terlalu malu untuk menceritakan situasi itu. Sudahlah, ceritakan saja. Terserah bagaimana tanggapannya. Daripada terus seperti ini? Akan sangat memusingkan!
"Kamu yakin, mau tidur? Tidak mau mendengar ceritaku? Pengalaman memalukanku dan Ben sampai membuat sikapku padanya berubah seratus persen?" tanya Brandon, memeluk tubuh ramping Bia dari belakang.
"Memalukan? Aku semakin penasaran. Janji untuk cerita, ya! Jangan sampai, setelah aku penasaran kamu malah enggan untuk cerita," tukas Bia.
"Aku janji!"
"Aku siap mendengarkan. Ceritakanlah cepat!" desak Bia
"Jadi, antara aku dan Ben, tidak ada dendam saling membunuh seperti yang kamu pikirkan,. Tapi, ingatlah, kamu harus menjauh darinya, ya. Aku tidak mau kamu sampai terluka karena dia, Haninbia!" ucap Brandon sambil mengusap-usap kepala istrinya.
__ADS_1
-Bersambung-
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak like dan komentar. Berikan juga rate 5, Vote, dan Hadiah sebanyak-banyaknya supaya author tambah semangat untuk update. Terima kasih ❤️❤️❤️❤️