
"A-apa? a-aku di atas?" tanya Bia menunjuk wajahnya sendiri, matanya terbelalak kaget. Wajahnya semakin merona.
"Ya, ayo, cepatlah!" seru Brandon tidak sabaran.
Bia mulai tertantang. Apalagi, terakhir kali mereka juga melakukan gaya yang sama. Jadi, kali ini dia tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi. Kebodohannya yang terakhir kali mengajarkannya, kalau hal yang dia takutkan itu tidak akan pernah terjadi. Tanpa kegusaran apapun dia langsung menduduki tubuh Brandon. Kemudian memasukkan senjata laras panjang milik suaminya itu ke dalam lembah miliknya yang sudah basah.
dia mulai menghentakkan senjata itu di dalam tubuhnya. Sekali lagi, pergulatan panas mereka menghasilkan sebuah rasa yang nikmat. Rasa yang akan membuat mereka kecanduan dan terus menginginkannya satu sama lain.
"Uh... aku tidak menduga rasanya akan seenak ini jika aku yang menggoyangkannya sendiri," racau Bia tanpa kesadaran yang pasti.
"Ternyata kau sangat menikmatinya ya," goda Brandon, meskipun laki-laki itu turut merasakan nikmat yang luar biasa, tetapi melihat raut wajah istrinya yang sangat berbeda, dia lebih menikmati itu.
"Tentu saja, sesuatu yang nikmat, tidak akan bisa terulang berkali-kali," sahut Bia. Brandon sendiri tidak tahu, dia mengatakan hal itu dengan kesadaran atau tidak.
Dan akhirnya, mereka mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan.
"Sudah, atau kau mau lagi?" tanya Brandon, dia teringat terakhir kali Bia masih meminta lagi. Jadi, kaku ini dia berinisiatif untuk menawarkan diri.
"Ti-tidak, aku sudah puas," tolaknya.
"Kamu mau bermain di pantai atau langsung pulang?" tanya Brandon lagi.
Rasa lelah yang dirasakannya membuat Bia lebih memilih pulang dan beristirahat. Terlebih, besok adalah hari penting untuknya. Jadi, dia harus menjaga kondisinya agar benar-benar fit.
"Pulang saja, Uncle. Besok pertunjukan dramaku. Meskipun aku enggan untuk bermain, tapi aku tidak mau mengecewakan orang-orang yang sudah mempercayaiku," ujarnya.
"Baiklah." Brandon mengecup kening Bia, "Ayo kita pulang sekarang!"
****
Tanpa disadari, hari mulai silih berganti. Semalam, Bia tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Pikirannya melayang jauh, yang dia pikirkan hanyalah saat-saat pertunjukan itu tiba. Apalagi, jika teringat kalau Jonathan akan menciumnya, sungguh dia sangat resah.
Sampai pagi datang menyapa, Bia masih belum tidur semenit pun.
Meskipun tubuhnya terasa lemas karena dia kurang tidur, tapi dia tetap menjalani kewajibannya, membuat sarapan untuk suaminya.
"Kenapa kamu lemas sekali?" tanya Brandon, dilihat dari belakang saja, Brandon sudah tau.
__ADS_1
"Semalam aku tidak tidur."
"Karena memikirkan gugupnya akan bermain drama?" timpal Brandon.
"Iya. Rasanya, aku sangat gugup," jawabnya.
Yang kau pikirkan semalaman bukanlah gugupnya karena akan tampil di hadapan semua orang. Tetapi, karena pria sialan itu akan menciummu, kan?
"Jangan gugup. Anggap saja mereka angin," celetuk Brandon asal.
"Sudahlah, Uncle, tidak perlu menyemangatiku. Kamu ... datang?" tanya Bia tanpa menoleh pada Brandon. Dia terus berdoa, semoga saja Brandon menjawab sebuah jawaban yang memang ingin di dengarnya.
"Tidak. Aku ada meeting di perusahaan Kak Bara," jawabnya cepat.
"Oh, begitu...." ada rasa kecewa yang bercampur dengan kelegaan. Bia sendiri tidak tau, sebenarnya apa yang dia mau.
Bia menata makanan yang baru di masaknya di atas meja makan. Sesekali, tatapan mata mereka beradu tapi langsung disudahi oleh Bia.
"Jangan terlalu dipikirkan," ujar Brandon.
"Ya, Uncle," jawabnya yang masih memasang wajah muram.
Bia masuk ke ruang make-up, dia sudah di dandani secantik mungkin. Namun, wajah muramnya tidak bisa dia tutupi dari siapapun.
"Kenapa wajahmu kusut? Harusnya kamu senang karena bisa beradu akting dengan pria tertampan di kampus kita. Bahkan, adegan ciuman itu diinginkan oleh banyak wanita. Kamu sudah mendapatkannya, kenapa malah tidak terima?" tanya penata rias yang sedang menata rambut Bia.
Sepertinya, adegan ciuman yang terjadi nanti sudah tersebar di seluruh penjuru kampus. Aku yakin, penontonnya akan sangat ramai.
"Tidak semua wanita menginginkan pria brengsek seperti itu!" bantah Bia.
"Kurasa tidak, semua wanita menginginkan Jonathan. Kau hanya sedang berpura-pura, kan?" cela sang penata rias.
"Cih, untuk apa aku menginginkan pria bajingan itu. Suamiku lebih tampan dan gagah, untuk apa aku menginginkan pria lain yang kalah jauh dari Suamiku!" sentak Bia, karena geram dengan ucapan sang penata rias, tanpa sadar dia malah berbicara hal yang paling dirahasiakannya.
"Suamimu? Kau sudah menikah? Jadi, apa suamimu tidak marah kau berciuman dengan pria lain nanti?"
Marah? Bahkan sepertinya dia tidak peduli sama sekali.
__ADS_1
"Itu bukan urusanmu! Lakukan saja apa yang seharusnya kau lakukan! Kau dibayar bukan untuk mengoceh," omel Bia.
Setelah semua selesai, sebelum drama itu dimulai, Bia memilih duduk di ruang penata rias.
"Bia, kenapa kamu menerima drama ini? Kamu benar-benar akan melakukan adegan intim itu?" tanya Tasya khawatir.
Bia mengangguk, "tidak apa-apa, Tasya. Untuk mendapatkan sesuatu, aku harus mengorbankan sesuatu yang lain pula bukan?" ujar Bia.
"Tapi, kau akan ber--"
"Sudahlah, Tasya, dia sudah membuat keputusan. Tidak perlu kamu atur lagi," potong Jonathan yang datang entah dari mana.
"Bia, hari ini bibirmu milikku!" Jonathan mengedipkan sebelah matanya kemudian berlalu dari sana.
"Uh!" Tasya mengepalkan tangannya erat-erat, ingin mengejar Jonathan tapi dihalangi oleh Bia.
"Jangan menghalangiku, biarkan aku memukul kepalanya!" ocehnya memberontak dari cekalan Bia.
"Bia, sudah waktunya naik ke panggung," panggil seseorang.
"Baik, aku segera datang!" sahutnya, suaranya terdengar tak bersemangat.
"Bi, jangan pergi. Aku tahu kau tidak mau melakukan ini," mohon Tasya.
"Tasya, aku tidak apa-apa. Kau duduk di bangku penonton, ya. Lihat aku menampilkan penampilan terbaikku." Bia menyunggingkan senyuman paksa. Dia melepas tangan Tasya dan keluar dari ruangan itu.
Tasya menatap kepergian Bia dengan tatapan nanar. Sudah beberapa hari mereka tidak bertemu, sekali bertemu, dia malah melihat sahabatnya berada dalam masalah.
"Maafkan aku, Bi. Aku tidak bisa melakukan apapun untuk membuatmu keluar dari lingkaran hitam ini," gumam Tasya.
"Ayo, semuanya perkenalkan diri kalian!" seru Nugraha memeriahkan acara.
Semua pemain tampak riang, hanya Bia dan Jonathan yang berwajah kusut. Bia juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba wajah pria itu berubah masam. Bukannya tadi masih sangat sombong.
"Bia, kau benar-benar keterlaluan!" ucap Jonathan sedikit berbisik.
-Bersambung-
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, gift, dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga rate 5 ya guys 🙏...
...Terima kasih❤️❤️❤️...