Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)

Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)
Tissue bernoda merah


__ADS_3

"Memangnya siapa yang membawanya?" tanya Gavin lagi.


"Mantan pacarnya. Dan ini mobilnya, aku yakin itu!" kekeuh Tasya, menunjuk ke mobil sport berwarna Orange.


Mendengar Tasya menyebut mantan pacar, mata Brandon membulat sempurna, kecemasan semakin menusuk hatinya, sebab dia tidak tahu masalah apa yang terkait antara Bia dan mantannya.


Sedangkan di dalam mobil, Jonathan memaksa untuk mencium bibir Bia, dia tidak peduli dengan beberapa orang yang menghampiri dan mengetuk-ngetuk kaca mobilnya. Jonathan mengangkat tangan Bia ke atas dan ******* bibir Bia. Air mata bisa mulai menetes, dia sangat takut Jo akan berbuat lebih dari itu.


"Umm mmm!" Bia menggelengkan kepalanya agar Jonathan tak bisa menggapai bibirnya, tapi semua usahanya percuma.


Jonathan mulai meraba-raba tubuh Bia dan menurunkan lengan dress Bia hingga bagian dadanya hampir terekspos.


BRAKK!


Brandon menghantam kaca mobil Jo dengan sebuah batu besar, namun kaca itu tak juga pecah seperti kemauannya. Jonathan merasa terganggu, dia melepaskan Bia dan memilih keluar untuk menyelesaikan keributan di luar terlebih dahulu.


"Siapa kalian?" tanya Jo dengan berteriak.


Emosi Brandon semakin di ubun-ubun saat sekilas dia melirik keadaan Bia yang acak-acakan. Brandon menarik kera baju Jo dan langsung melayangkan sebuah tinjuan ke wajah tak tahu malu Jo.


"Hey, kau gila, ya? Kenapa kau memukulku?" tanya Jo tak terima, dia meringis memegangi wajahnya yang telah lebam.


"Kau berhak mendapatkannya karena kau menyentuh calon istriku!" sergah Brandon.


"Apa? Di-dia calon istrimu?" Jo merasa tak percaya, dia beringsut mundur menjauh dari Brandon karena takut pria yang sedang digelayuti amarah itu akan melayangkan bogem lagi untuknya.


Tasya berlari ke arah mobil Jo, dia melihat Bia yang sedang memeluk dirinya sendiri di dalam mobil. "Bi, ini aku Tasya, ayo kita pulang...." ajak Tasya.


Bia mendongak, dia melihat Tasya sangat lama sebelum akhirnya dia menerima uluran tangan sahabatnya itu.


Bia langsung berhambur ke pelukan Tasya, rasa takutnya ia tumpahkan menjadi tangisan. Tasya mengerti Bia sedang ketakutan saat ini, jadi dia membiarkan Bia menangis sepuasnya dalam pelukannya.


Hati kecil Brandon perih melihat Bia seperti itu, kurang banyak ini juga salahnya.


Brandon kembali melirik tajam pada Jo yang masih meringis memegangi pipinya. Dengan cepat Brandon mengangkat tangannya hendak melayangkan sebuah tinjuan lagi, namun dihalangi oleh Gavin.


"Paman, jangan! Nanti kamu akan terlibat masalah!" cegah Gavin.


Brandon mendengar nasihat Gavin, dengan cepat dia membuka jas yang dikenakannya dan memakaikannya pada Bia.


"Valerie, tolong bawakan Bia ke dalam mobil," pinta Tasya.

__ADS_1


"Baik, Kak."


Valerie memeluk Bia dan membawanya ke dalam mobil sesuai arahan Tasya.


"Jonathan!" panggil Tasya, di sampingnya ada Gavin yang bersiaga takut terjadi sesuatu pada kekasihnya.


"Tasya?" mata Jonathan terbelalak kaget saat melihat Tasya berdiri di depannya, karena tadi Brandon menghujaninya dengan tinjuan, jadi dia tidak terlalu memperhatikan Tasya di antara mereka.


Plak!


Tasya melayangkan sebuah tamparan keras ke pipi Jonathan.


"Beraninya kau menyentuh sahabatku!"


"Tasya, aku minta maaf!" Jonathan mengatupkan kedua tangannya memohon maaf.


"Jangan pernah temui aku dan Bia lagi!" kecam Tasya, setelah mengatakan itu Tasya langsung berbalik meninggalkan Jo yang meringis sambil memegangi pipinya yang lebam.


Tasya buru-buru memeluk Bia, mendekapnya erat dan ikut menangis. "Bia maafkan aku, aku telat datang," ujar Tasya merasa bersalah.


Bia hanya diam, dia masih syok dengan adegan pemaksaan Jo tadi.


"Bia, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Tasya lagi, dan Bia hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Aku sudah menelpon Mama dan mengatakan tentang kejadian ini. Mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan acara makan malam ini," ujar Gavin.


"Tasya, bisakah aku meminjam pakaianmu? Aku tidak mungkin pulang dalam keadaan berantakan begini, pasti Bibi Wila khawatir jika melihatku seperti ini," ujar Bia, suaranya sangat pelan nyaris berbisik.


"Kita beli pakaian baru saja," usul Brandon.


Bia kembali diam, tak sekalipun dia melirik atau menyahuti ucapan pria itu.


Setelah membelikan pakaian ganti untuk Bia, mereka memutuskan untuk mengantarkan Bia terlebih dahulu.


"Bia, kamu benar-benar tidak apa-apa, kan?" tanya Tasya yang terus saja merasa khawatir.


"Aku tidak apa-apa, Tasya. Aku masuk dulu," ucap Bia.


"Kamu tidak berpamitan dengan Paman Brandon?" tanya Tasya, walau hubungan mereka tidak didasari cinta, tapi setahu Tasya hubungan mereka semakin akrab dan berjalan dengan baik.


Bia kembali terdiam, dia melirik ke arah Brandon, kemudian menggelengkan kepalanya. "Aku tidak sedekat itu dengannya, aku masuk!" jawabnya kemudian.

__ADS_1


Brandon melihat Bia masuk tanpa mengatakan apapun dengannya, ada rasa kekecewaan yang menggeluti hatinya. Dia hanya bisa mendengus pasrah tanpa bisa mengatakan apapun.


Bia masuk ke dalam, semua lampu sudah dimatikan, dia berpikir Bibinya sudah tidur jadi dia memutuskan langsung masuk ke kamarnya. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara Wila yang sedang batuk tanpa henti.


"Bibi Wila batuk?" gumamnya masih berdiri di tempatnya.


Bia memutuskan melihat Wila ke kamarnya, karena pintu kamar Wila tidak dikunci, jadi Bia langsung masuk tanpa mengetuk pintu.


"Bibi Wila sedang sakit?" tanya Bia sambil berjalan mendekat ke arah Wila.


"Bia? Ka-kamu sudah pulang?" Wila tampak terkejut saat melihat Bia di depannya.


"Bibi sakit?" Bia mengabaikan pertanyaan Bibinya yang tak penting.


"Ti-tidak, Bibi baik-baik saja, Bia!" jawabnya gugup, kegugupan itu bisa di lihat oleh Bia.


Kenapa gelagat Bibi Wila sangat aneh? Seperti ada yang disembunyikan olehnya. Tapi, apa?


Bia jadi bertanya-tanya dalam hatinya.


Bia duduk di tepi ranjang, tepatnya di depan Wila. Matanya tertuju pada tissue bernoda merah yang dipegang oleh Wila.


"Bibi, ini apa?" Bia berusaha merebut tissue itu namun gerakan Wila lebih cepat, dia menyembunyikan tissue itu di belakang badannya.


"Bukan apa-apa, Bia. Ini hanya noda lipstik saja," kilahnya.


"Noda lipstick? Tapi, itu tidak mirip seperti noda merah lipstik, Bibi. Jujurlah pada Bia!" pintanya memohon.


"Bia, Bibi tidak pernah membohongimu, kan? Kali ini tetap sama, Bia. Jangan meragukan Bibi," ujar Wila lemah.


"Kalau Bibi tidak mau Bia meragukan Bibi, berikan tissue itu pada Bia, Bi! Bia mau melihatnya!" Bia memaksa.


"Bia, tolong ambilkan air hangat untuk Bibi, Bibi ingin menghangatkan tenggorokan, terasa perih karena batuk," ucapnya mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah, Bi." akhirnya Bia mengalah dan menuruti permintaan Bibinya.


Wila menatap punggung Bia dengan tatapan nanar, air matanya luruh, ia tersedu dalam diam menelan semua kepahitan yang sedang ia rasakan saat ini, tak ada niatan untuk berbagi kepada siapapun. Wila meremas tissue itu hingga tak berbentuk.


"Maafkan Bibi, Bia!" gumamnya sambil menahan isak tangisnya.


-Bersambung-

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga rate 5 ya guys 🙏🙏


Terima kasih ❤️❤️❤️


__ADS_2