
"Kak Daniel, Kak Rey, Kak Bara, mereka ikut denganku juga tidak masalah, hitung-hitung untuk meramaikan suasana. Jika mereka nakal bisa memudahkanku mengikat mereka dan melemparkannya ke laut!" seloroh Brandon.
"Ya sudah, mereka ikut denganmu saja!" cetus Daniel.
"Yah, kenapa Daddy tidak adil sih?" Kak Hansel diperbolehkan pergi, kenapa aku dan Valeri tidak boleh?" sentak Hilsa merajuk.
"Kamu dan Valeri juga boleh pergi, Sayang," ucap Embun menenangkan sang putri.
"Baiklah, tapi kita akan pergi dua Minggu lagi, ya. Hari ini kami sibuk dengan pindah rumah," ucap Brandon.
"Pindah rumah? Kenapa cepat sekali?" tanya Embun kaget bukan main.
"Tidak apa-apa, Kak. Kami hanya mau belajar mandiri saja kok," ujar Bia.
"Tapi, kan... tinggal lah disini satu Minggu lagi agar rumah ini selalu terasa ramai, ya?" pinta Embun memohon sambil menggenggam tangan Bia.
"Embun...." panggil Bara lembut namun penuh penekanan. "Biarkan saja mereka, mereka ingin belajar mandiri. Jangan menyulitkan mereka dengan permintaanmu," ujar Bara.
Embun mengerucutkan bibirnya karena mendapat teguran dari Suaminya.
"Iya!" jawabnya mencebikkan bibirnya. Lalu dia beralih pada Bia dan Brandon, " tapi kalian sering-sering main kesini, ya!" pinta Embun, sepertinya dia benar-benar sering sekali kesepian.
"Iya, Kak." Bia tersenyum senang karena semua orang di rumah itu memperlakukannya dengan baik.
"Hansel, Arga, kita bantu Paman Brandon pindahan, ya!" ajak Gavin semangatnya sangat membara.
"Cih, karena kau tahu di sana ada Tasya makanya kau sangat bersemangat, kan?" cibir Arga.
"Hahaha, mana mungkin. aku ikhlas kok membantu Paman Brandon. Hatimu saja yang busuk jadi berpikir yang tidak-tidak tentangku!" balas Gavin tidak mengakui.
__ADS_1
*****
Setelah selesai sarapan, Bia membantu Brandon untuk mengemasi barang-barang pria itu yang akan mereka bawa ke rumah baru. Kebetulan untuk barang-barang Bia, Bibi Wila dan Tasya sudah memilah-milah barangnya yang juga akan dibawa ke rumah baru Bia dan Brandon oleh Tasya. Bibi Wila beralasan bahwa butiknya sedang ramai pembeli jadi dia tidak bisa ikut membantu Bia dan Brandon pindah ke rumah baru mereka.
"Kenapa akhir-akhir ini Bibi Wila terlihat sangat sibuk? Sebenarnya apa yang dilakukan olehnya?" Bia bertanya-tanya dalam benaknya.
"Setelah aku selesai membereskan barang-barangku di sini aku akan mencari tahu semuanya!" tekad Bia.
"Bibi, kenapa termenung?" tanya Hilsa sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Bia.
"Tidak apa-apa kok," Bia buru-buru menjawab sambil tercengir kuda.
"Hilsa, bisakah kamu jangan memanggilku Bibi? Hehe," pinta Bia dengan perasaan takut. dia belum terlalu mengenal Hilsa,jadi takut Hilsa akan marah padanya karena permintaan aneh itu.
"Loh, kenapa?" tanya Hilsa dengan kening mengerut dalam.
"Hahaha!" Hilsa tertawa. "Benar sekali." Dia menjentikkan jarinya.
"Sebenarnya aku juga heran padamu Bia, kenapa gadis muda dan cantik serta energik sepertimu mau menikah dengan Pamanku yang galak, datar, dan kejam itu. Kamu tidak takut padanya?" tanya Hilsa sambil bergidik ngeri karena membayangkan Brandon.
Aku mau dengannya bukan karena sukarela. Tapi karena terpaksa! Jika boleh memilih, aku juga tidak mau menikah dengan pria kaku berwajah batu itu!
umpat Bia dalam hati.
"Mungkin sudah takdir kali ya," sahutnya sambil terkekeh.
Hilsa melambai-lambaikan tangannya memberi isyarat pada Bia agar wanita itu mendekat padanya.
"Ada apa?" tanya Bia dengan berbisik seolah-olah mengerti saat Hilsa mengajaknya bergosip.
__ADS_1
"Bia, aku katakan padamu, ya. Jangan sampai kamu membuat Paman Brandon marah atau kamu akan menjadi 'Krek!' begitu," Hilsa menggenggam tangannya seolah-olah ia sedang meremas sesuatu hingga berbunyi seperti itu. "Kamu akan menjadi rempeyek pelampiasannya. Mengerti tidak?" ucapnya.
"Aku berbaik hati dan mengatakannya padamu karena aku sudah pernah merasakannya." imbuhnya sambil bergidik ngeri.
"Be-benarkah?" entah kenapa setelah mendengar cerita Hilsa, Bia juga ikut merasakan kengeriannya.
"Be--" belum sempat Hilsa melanjutkan ucapannya, Brandon sudah berada di depannya. Membuat wanita itu langsung pura-pura sibuk memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper.
"Bia, semuanya sudah selesai?" tanya Brandon.
"Belum, Sayang!" jawab Bia, wajahnya menunjukkan senyuman tulus untuk sang suami.
Kamu tidak lihat masih banyak pakaianmu yang berserakan di lantai. Apakah itu artinya aku sudah siap berkemas.
umpat Bia kesal dengan pertanyaan aneh Brandon.
Hilsa melihat itu dengan pikiran panik sebab barusan dia membicarakan Brandon bersama Istrinya. Dia mengira kalau Bia menikah dengan Brandon hanya karena keterpaksaan saja.
"Hilsa, kenapa merenung? Apa yang kamu bicarakan?" Bia melambaikan tangannya di depan wajah Bia.
"Aku tidak apa-apa, Bia. Hanya saja aku memikirkan sesuatu karena telah membicarajan Paman Brandon tadi," ucapnya keterusan.
"Membicarakan aku? Apa yang kalian bicarakan di belakangku?" tanya Brandon sambil melotot tajam pada Hilsa yang nyalinya mulai menciut.
-Bersambung-
Maaf kalau updatenya tidak rutin. Sebagai emak-emak, mau hari lebaran author juga mulai sibuk, hehe. Tapi, kalian jangan sampai lupa ngasih like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya ya. jangan lupa kasih bintang 5 juga
terima kasih ❤️🙏🙏
__ADS_1