Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)

Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)
Kau di atas!


__ADS_3

"Tentu saja, aku tidak mau. Tapi, aku dipaksa. Aku diancam, jika aku tidak mau menjadi protagonis wanita dalam drama ini, maka beasiswaku akan dicabut," adunya sembari menarik nafas panjang.


"Diancam? Jadi, kamu bermain dalam drama ini bukan karena sukarela?" Brandon begitu kaget, namun dia masih bisa mengkondisikan keterkejutannya.


Bia menggelengkan kepalanya, "Mana mungkin aku mau dengan sukarela. Bahkan, aku tidak pandai berakting. Makanya, malam itu ... aku berlatih denganmu," terang Bia sedikit gugup.


"Tapi, kamu malah benar-benar menyerangku!" imbuhnya.


"Siapa yang mengancammu? Lagi pula, kenapa kamu takut kehilangan beasiswa itu? Aku masih sanggup membiayai kuliahmu sampai berapa puluh ribu tahun lagi, Bia. Jika memang kamu tidak ingin melakukannya, jangan lakukan. Lakukan apa yang kamu inginkan. Tidak perlu pikirkan hal yang membuatmu sulit. Karena, dirimulah penentu hidupmu," ujar Brandon.


"Aku tidak ingin kehilangan sesuatu yang susah payah aku dapatkan. Itu adalah pencapaian terbesarku, aku tidak mau kehilangan hal itu hanya karena ancaman seseorang. Lagi pula, dengan bermain drama ini, aku bisa mengasah kemampuan aktingku, kan?"


"Jadi, melalui hal ini, aku bisa sekali mendayung, dua pulau terlampaui. Betul, kan?" ucap Bia cengengesan.


"Memangnya siapa yang mengancammu?" tanya Brandon lagi, dia sangat penasaran dengan pelaku yang berani-beraninya mengancam Istrinya.


"Clara, dialah yang mengancamku dengan mengatasnamakan beasiswa," akunya sambil melihat ke arah deburan ombak yang terasa menggoda, ingin sekali dia bermain air laut yang terlihat menari-nari itu.


"Clara? Dia yang mengancammu? Tapi, apa tujuannya?" tangkas Brandon, terlalu sukar untuk percaya bahwa Clara lah yang mengancam Istrinya.


"Kenapa? Kamu tidak percaya? Itu hakmu. Aku hanya menjawab apa yang kau tanyakan, terlebih kamu mau percaya atau tidak, itu urusanmu!" pungkas Bia, dia juga malas menjelaskan. Jika Brandon tidak percaya, dia juga tidak akan merasa rugi.


"Aku bukan tidak mempercayainya. Hanya saja, aku sedikit bingung, kenapa dia bisa mengancammu seperti itu?" ujar pria itu.


"Mungkin saja karena cemburu. Sepertinya, dia pernah melihat kedekatan kita."


"Karena cemburu? Jadi, jika merasa cemburu, kita bisa melakukan kecurangan seperti itu? Aku juga cemburu saat nanti kau melakukan adegan ciuman dengan mantan pacarmu, berarti aku bisa melakukan apapun yang aku mau untuk menebus kecemburuan itu?"


"Kalau begitu, aku akan mengikuti cara wanita itu bermain," ucap Brandon.


"Apa yang mau kau lakukan, Uncle? Jangan melakukan sesuatu yang membuat beasiswaku hilang. Biarkan saja aku menuruti apa yang diminta Clara," sanggah Bia.


"Maksudmu, kau mau berciuman dengan mantan pacarmu, hah?!" omel Brandon.


"Tidak. Nanti aku berusaha meminta keringanan pada Pak Nugraha."


"Keringanan yang seperti apa?" tanya Brandon.


"Misalnya, menghilangkan adegan ciuman yang terlalu hot," ujarnya.

__ADS_1


"Bia, adegan itulah yang paling ditunggu-tunggu oleh para penonton. Mana mungkin Nugraha mau menghilangkannya," celetuk Brandon.


"Benar juga." Bia mencebikkan bibirnya.


Cup!


Brandon mengecup bibir Bia sekilas. Wajah Bia langsung memberengut kesal, menghunuskan tatapan tajam pada Brandon yang hanya cengar-cengir.


"Bukan salahku. Sudah kukatakan, jangan mencebikkan bibirmu!" kilahnya, padahal memang dia yang ketagihan dengan bibir istrinya.


"Jadi, haruskah kamu mencium bibirku? Tidak bisa mencium tempat yang lain?" omel Bia.


"Misalnya?" tanya Brandon sambil tersenyum samar.


"Misalnya, pipiku, atau dahiku, atau bagian tubuhku yang lain," ujarnya sambil memegangi tubuh yang ia sebutkan.


"Jadi, aku boleh menciumi bagian tubuhmu yang lain? Misalnya, bagian tengkuk, atau yang lainnya?" tanya Brandon menyelidik.


"Tentu saja, jangan selalu mencium bibirku. Memangnya kamu tidak bosan?" celetuk Bia.


"Sedikitpun aku tidak merasa bosan. Kalau kamu sudah mengizinkannya, aku pasti akan melakukan seusai kemauanmu," ucap Brandon.


"Melakukan kemauanmu!" jawab Brandon.


"Kemauanku? Uncle, apa kau gila? Kapan aku meminta sesuatu padamu?" sentak Bia mengamati wajah Brandon yang mulai tampak berbeda.


"Barusan, kau mengatakan aku boleh mencium bagian mana saja. Jadi, aku sudah mengambil keputusan, aku mau mencium semuanya sekarang!" bisik Brandon, suara sensualnya sudah cukup dimengerti oleh Bia.


"Ka-kamu mau apa?" tubuh Bia sudah terkungkung di bawah pelukan Brandon.


"Seperti yang kukatakan tadi, Haninbia! Aku seperti sedang berbicara dengan anak kecil saja," gerutunya.


"Ta-tapi, Uncle, ki-kita sedang berada di tempat umum," ujar Bia yang semakin terdesak dengan tubuh kekar Brandon.


"Lalu, memangnya kenapa? Kita adalah pasangan yang sah. Tidak masalah mau melakukannya di mana saja," timpal Brandon tidak peduli dengan penolakan Bia.


Bia melihat ke sekeliling, dia baru menyadari ternyata hanya ada mereka berdua di sana. Kemanapun matanya memandang, tetap saja tidak menemukan manusia lain di sana.


Apa dia sengaja memilih tempat sepi seperti ini? Dasar Uncle mesum!

__ADS_1


Brandon kesal karena Bia terus menggelengkan kepalanya, dia memegangi wajah Bia dan langsung menyesap bibir istrinya itu. Bia hanya pasrah saat tangan-tangan kekar itu mulai menggerayangi tubuhnya. Sekuat apapun dia melawan, dia pasti akan kalah dengan tenaga pria bernafsu.


Hembusan nafas Brandon yang mengenai lehernya, membuatnya mulai terangsang. Hanya saja, dia terlalu malu jika ikut menggerayangi tubuh Brandon.


Ahhh... aku juga ingin menggerayangi tubuhnya. Tapi, rasa maluku mengalahkan keinginanku.


Bia menggigit bibir bawahnya, merasakan getaran tubuhnya saat sentuhan-sentuhan Brandon mendarat di area terlarangnya. Brandon mulai mengusap-usap sesuatu yang seketika membuat Bia menginginkan lebih.


Bia menggigit pundak Brandon, tidak terlalu kuat, hanya untuk memberikan reaksi.


"Bia, aku menginginkanmu!" bisik Brandon. Jarak wajah mereka yang terlalu dekat, membuat reaksi aneh menjalar di sekujur tubuh wanita itu.


"Uncle, kita melakukannya di sini?" tanya Bia, sekali lagi dia mau memastikan.


"Kenapa? Kita berada di dalam mobil, kan? Tidak ada yang bisa melihat pergulatan panas kita. Jadi, apa salahnya?"


"Bu-bukan begitu. Hanya saja, meskipun kita berada di dalam mobil, tetap saja aku merasa malu," ucap Bia, dia merasa sangat malu hingga membuang pandangannya ke arah lain.


"Ayo, kita pindah ke belakang!" ajak Brandon.


"Tapi, Uncle, aku...."


"Hum?" Brandon masih menunggu Bia mengutarakan apa yang ingin dikatakan.


"Tidak apa-apa," tangkasnya.


"Kalau begitu, ayo kita pindah ke belakang!" ajaknya lagi.


Bia mengangguk, dia juga tidak mampu menolak. Sentuhan Brandon benar-benar memabukkannya. Sehingga dia ingin lebih dan lebih.


Mereka sudah berpindah ke kursi belakang. Brandon menurunkan celananya hingga sampai ke lutut.


"Bia, cepat duduk di pangkuanku!" perintah Brandon setelah duduk dengan sedikit bersandar.


"A-apa? a-aku di atas?" tanya Bia menunjuk wajahnya sendiri, matanya terbelalak kaget. Wajahnya semakin merona.


-Bersambung-


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar hadiah, dan vote sebanyak-banyaknya 🙏🙏🙏Berikan juga rating 5 ya guys. Karena, dukungan kalian sangat berarti untuk author. Terima kasih❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2