
"Kau tau, perpisahan bukanlah akhir ataupun awal untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang kita hadapi. Setiap permasalahan memiliki cara penyelesaian terbaiknya sendiri. Kita bisa memikirkan jalan keluar yang lain. Tapi, yang pastinya bukanlah perpisahan seperti yang ada dipikiranmu!" pungkas Brandon, mempercepat laju kemudinya agar bisa cepat sampai di apartemen. Jika disana, mereka bisa lebih leluasa membicarakan semuanya.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan? Apa kita harus melanjutkan kepura-puraan ini? mau sampai kapan, Uncle? Bibiku juga sudah tau semuanya, jadi lebih baik kita hentikan semuanya sampai di sini, oke?!" bantah Bia.
"Kita lanjutkan bicara di dalam!" Brandon membuka seatbeltnya dan langsung masuk. Bia hanya tercenung, melihat Brandon yang berlalu tanpa mengatakan apapun lagi. Setelah itu, barulah dia melepaskan seatbeltnya perlahan-lahan dan turun. Terlihat, Brandon duduk di depan tv seperti sedang menunggunya.
"Apa yang membuatmu mau mengakhiri pernikahan ini? Apa karena Bibi Wila sudah tau, jadi beliau menyarankan kita untuk segera berpisah?" tanya Brandon, wajahnya sangat serius.
Lagi-lagi Bia menggelengkan kepalanya, "Bibiku tidak menyarankan itu. Kamu jangan asal menuduhnya! Bibiku malah menyarankan kita untuk memperpanjang pernikahan ini, aku harus mengejar cintamu, cinta suamiku. Aku harus memperjuangkan dirimu, memperjuangkan pernikahan ini. Itulah permintaannya padaku tadi," terang Bia kembali terisak, memijat pelipisnya yang terasa amat pusing memikirkan nasibnya yang kelabu. Tapi, dia tidak bisa mengeluh. Dari awal, keadaan pelik ini dia yang menciptakannya sendiri.
Aku sendiri yang mencari pria dan mengenalkannya pada Bibi. Seandainya hal itu tidak kulakukan dan aku jujur yang sebenarnya. Pasti, ini semua tidak akan terjadi. Sekarang, Bibi Wila pun pasti kecewa karena aku sejak awal sudah membohonginya. Aku ingin menyudahi kebohongan ini!
Melihat Bia yang terdiam cukup lama, Brandon juga menghela nafas panjang. Serumit inikah hubungan mereka pada akhirnya? Haruskah dia mengikuti kemauan wanita itu dan menenggelamkan hatinya sendiri? Sejujurnya, dia sudah terbawa arus, terbiasa dengan kehadiran wanita yang selalu berbuat gaduh itu. Harinya tidak sekali dulu lagi. Tetapi, di hari ini, apakah dia harus kehilangan semua keceriaan yang telah sejak lama menjadi kebiasaannya juga? Tidak bisa! Cinta itu harus diperjuangkan! Maka, Brandon juga akan melakukan hal yang sama untuk mendapatkan hati wanitanya itu.
"Bibimu sudah berkata seperti itu. Lalu, kenapa kamu mengambil keputusan yang lain? Kamu tidak takut Bibimu tambah kecewa dengan keputusan yang kamu buat ini?" tanya Brandon, menilai raut wajah Bia yang bertambah suram. Bisa ditebak, dia sedang gamang dengan keputusan hatinya saat ini.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan? Mempertahankan pernikahan hambar ini? Bagaimana bisa kau menyarankan kita mempertahankan hubungan tanpa cinta ini, Uncle? Kamu mau bersandiwara sampai kapan? Kalau kamu takut mengecewakan Kak Embun, maka akulah yang akan menjelaskan padanya!" pungkas Bia yang sudah putus asa. Tidak tahu lagi apa yang harus dikatakannya.
"Aku lelah, aku masuk ke kamar dulu, Uncle!" ucap Bia tanpa menoleh pada Brandon.
"Tunggu!" Brandon menarik lengan Bia, spontan menghentikan langkah wanita itu.
"Ada apa?" tanya Bia tanpa melihat ke arah Brandon.
"Kita sudah bersama selama ini. Hubungan kita juga berjalan dengan cukup baik. Di hatimu, apa tidak ada cinta untukku sedikitpun?" setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya Brandon berani menanyakan perihal hati pada sang istri.
Bia terdiam sejenak, seperti sedang menimbang-nimbang perasaannya sendiri. Kemudian, dia tersenyum.
"Bagaimana dengan perasaanmu sendiri? Kenapa kau hanya memastikan perasaanku saja? Selama ini hubungan kita memang berjalan cukup baik, tapi bukan berarti ada cinta yang telah tumbuh di hatimu, kan?" cerca Bia, pelan-pelan melepaskan genggaman Brandon.
"Artinya, kau tidak mencintaiku?" tanya Brandon untuk memastikan.
__ADS_1
Aku mencintaimu, Uncle! Bagaimana mungkin aku bisa mengalihkan hatiku dari kenyamanan yang kau biasakan padaku? Aku ingin mengakhiri ini semua juga karena aku tidak mau terjebak terlalu dalam lagi. Hubungan yang tidak pasti ini terlalu menyakitiku!
"Entahlah, sepertinya aku ti--"
"Tapi aku mencintaimu!" potong Brandon cepat, dia tidak mau mendengar penolakan Bia.
"A-apa? Bagaimana mungkin kau mencintaiku?" Bia benar-benar terkesiap dengan pernyataan cinta laki-laki itu. Ini sungguh sulit untuk dipercaya. Bukan sulit, tapi memang tidak bisa dipercaya.
"Kau tidak mempercayainya?" tanya Brandon.
Bia menggeleng, "Sulit untuk mempercayainya, Uncle Rasakanlah hatimu, mungkin karena kamu mulai terbiasa dengan kehadiranku, bukan cinta seperti yang kamu ucapkan," ucap Bia serius.
"Lalu, bagaimana caraku bisa membuatmu percaya?"
"Aku tidak tau."
"Kamu yakin tidak mencintaiku sama sekali?"
Bia mulai bimbang, apa ia dia harus jujur dengan perasaannya sendiri?
"Aku bisa mencobanya terlebih dahulu. Jika dia memang benar-benar mencintaiku, maka semuanya akan terlihat di kemudian hari. Jika dia tidak menyukaiku, maka semuanya akan terlihat juga," gumam Bia.
"Kamu bicara apa, Bia?" tanya Brandon, sejak tadi dia memperhatikan bibir Bia yang hanya komat-kamit tidak jelas.
"Sebenarnya, aku juga mencintaimu, Uncle!" ucap Bia malu-malu, terlihat dari wajahnya yang memerah saat mengakui perasaannya sendiri.
"Kamu juga mencintaiku?" saking senangnya, Brandon berdiri, dia sudah merentangkan kedua tangannya bersiap memeluk Bia.
Bia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum malu. Tanpa permisi, Brandon langsung merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Memeluk erat-erat tubuh itu, tidak mau melepaskannya lagi.
"Terima kasih karena sudah mengatakan yang sejujurnya!" bisik Brandon, hatinya sangat senang sekali.
__ADS_1
"Terima kasih juga karena telah mencintaiku, wanita yang serba kekurangan ini," ujar Bia.
"Kamu adalah kelebihanku, Bia. Tanpamu, hidupku hambar karena tidak ada pelengkap!"
"Hahaha, sejak kapan kamu pintar menggombal, Uncle?" Bia menguraikan pelukan mereka, dadanya terasa sesak.
"Jangan panggil aku dengan sebutan aneh itu lagi. Panggil aku Sayang!" pinta Brandon.
"Terdengar lucu!"
"Lucu karena kamu belum membiasakan dirimu. Cepat katakan, aku ingin mendengarnya!" desak Brandon memaksa.
"Sa-sayang?"
"Ya, begitu. Sampai seterusnya, panggil aku begitu." Brandon mengecup singkat kening Bia.
"Kalau aku ingat." Bia cengengesan, memamerkan sederet giginya.
Saat mereka masih berbincang-bincang manja, masih dalam suasana bahagia setelah pernyataan cinta, ponsel Bia berdering. Dilihatnya, Dokter Handy yang menghubunginya.
"Siapa?" tanya Brandon melihat raut gelisah istrinya.
"Dokter Handy," jawabnya.
"Kenapa tidak kamu jawab?" tanya Brandon lagi.
"Perasaanku tidak enak. A-apa aku harus menjawabnya?" tanya Bia gamang.
-Bersambung-
Jangan lupa berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga rate 5 ya guys🙏🙏
__ADS_1
Terima kasih❤️❤️