Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)

Pretend Marriage (Pura-pura Menikah)
Selamat Datang baby!


__ADS_3

Waktu bergulir begitu cepat. Tanpa terasa, Bia sudah memasuki trimester ketiga dan sedang menunggu kelahiran buah hatinya.


Perasaan tak sabar kerap kali menggelayuti hatinya. Sering bertanya-tanya, kapan buah hatinya akan lahir ke dunia.


"Sayang, kamu tidak ke kantor lagi?" pertanyaan Bia tercetus ketika melihat Brandon membawa laptop dan segelas kopi ke ruang televisi dan duduk di samping istrinya yang sedang menonton serial favoritnya.


"Tidak. Aku tidak mau melewatkan masa-masa terpenting," jawabnya sambil meneguk kopi buatannya sendiri.


Bia menghela nafas. "Belum ada tanda-tanda apa pun, Sayang. Kenapa kamu begitu khawatir, sih?" Bia geleng-geleng kepala. Antusias Brandon begitu besar, Bia senang melihatnya.


"Meskipun begitu, kita tidak bisa memprediksi kapan dia akan lahir, bukan? Dua hari lagi sudah tiba hari perkiraannya. Aku semakin tak tenang, Bi!" Brandon mengutarakan perasaannya cemasnya.


"Ya sudah, lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku tidak akan mengganggu." Bia kembali fokus pada tontonannya.


Saat sedang fokus dengan pekerjaannya, Brandon dikagetkan dengan pegangan tangan istrinya yang semakin menguat


"Bi, kamu kenapa?" suara Brandon begitu khawatir.


"A-aku merasa mules," jawab Bia.


"Kamu sudah mau melahirkan?" tanya Brandon.


"Ahh... sudah tidak apa-apa. Ternyata hanya kontraksi palsu," ucap Bia, menggenggam tangan Brandon yang masih diperutnya.


"Aku pikir, kamu akan segera melahirkan," ujar Brandon, menghela nafas panjang karena kondisi Bia sudah pulih.


Setengah jam telah berlalu, Bia kembali merasakan kontraksi, dan kali ini rasanya lebih sakit daripada yang tadi. Bia sampai harus menggigit bibir bawahnya.


"Bi, sakit lagi?" tanya Brandon, mengusap-usap pelan perut istrinya.


Bia mengangguk. "Aku yakin, ini memang kontraksi mau melahirkan. Brandon, anak kita akan segera lahir!" Bia berucap sambil menggigit bibir bawahnya. Rasanya sangat sakit, namun ada kebahagiaan tersendiri ketika sesuatu yang dinantikan akhirnya akan datang.

__ADS_1


"Bi, kita secar saja, ya?" pinta Brandon, baru melihat Bia seperti ini saja dia sudah tak sanggup. Belum lagi melihat Bia nanti akan semakin kesakitan dan menaruhkan nyawanya.


"Kenapa? aku kuat kok. Lagipula, sebentar lagi perjuanganku selama ini akan berbuah manis. Aku akan berjuang secara normal dulu, Sayang. Lagian, kondisiku sangat memungkinkan untuk bisa lahiran normal!" Bia menolak. Dia meyakini dirinya bisa dan kuat.


"Kita akan ke rumah sakit sekarang. Aku akan menghubungi Kak Embun dulu." Brandon mengambil ponselnya di kamar. Hatinya menghangat, perasaan bahagia dan cemas bercampur menjadi satu dalam relungnya.


"Ada apa, Brandon?" Embun habis mengomeli anak-anaknya yang bertengkar.


"Kak, Bia akan segera melahirkan. Aku akan membawanya ke rumah sakit. Kakak dan yang lainnya menyusul, ya!" pintanya berharap dengan suara serak.


"Brandon, kamu jangan panik, ya. Semuanya pasti akan baik-baik saja!" Embun berucap dalam keadaan panik. Dia bingung apa dulu yang harus diselesaikannya.


"Baik, Kak. Aku tutup dulu," ucap pria itu lagi mengakhiri panggilannya dan segera mengambil sebuah tas besar berisi perlengkapan Bia dan anak mereka nanti yang telah disiapkan jauh-jauh hari.


"Bi, pelan-pelan!" Brandon merangkul Istrinya. Sedangkan tasnya diserahkan pada maid mereka.


"Sekarang apa sedang sakit?" tanya Brandon dan hanya dijawab gelengan.


"Bu, kita periksa bukaan dulu, ya!" ujar sang Dokter.


Bia mengangguk. Bia membuka kakinya, membiarkan sang Dokter untuk memeriksa.


"Sudah bukaan dua," ucap sang Dokter. "Supaya bisa mempercepat pembukaan, Ibu bisa berjalan-jalan dulu, menggunakan Birthing Ball, tidur miring ke kiri, dan berjongkok, ya!" ucap sang Dokter.


"Iya, Dok."


Bia menerapkan semua yang dikatakan Dokter. Berjalan-jalan di sekitar ruangan dan sesekali dia duduk di Birthing Ball.


"Bi, kamu kuat ya!" Tasya memberikan semangat untuk sahabatnya. Mengusap-usap punggung Bia yang sejak tadi terus menghembuskan nafas. Mencoba untuk tidak merintih kesakitan walaupun sakit yang dirasakannya kini luar biasa. Bia ingin merintih, tapi ingat pesan Dokter jika menjerit hanya akan membuang-buang tenaga saja berujung tidak sanggup mengejan.


Kontraksi mulai semakin gencar menghujaninya. Rasa sakit itu semakin lama semakin meningkat, tidak bisa dia jelaskan dengan kata-kata. Namun, itu semua bentuk dari perjuangannya jika ingin bertemu dengan buah hatinya.

__ADS_1


"Sayang ... kamu tidak apa-apa?" Brandon meneteskan air mata. Sungguh, dia benar-benar tak bisa melihat istrinya harus menahan sakit seorang diri.


"Aku tidak apa-apa, Sayang. Hanya saja, bisakah kamu meminta Dokter untuk datang ke sini? Sa-sakitku sudah bertambah," pinta Bia dengan nafas tersenggal-senggal.


Brandon menoleh ke belakang, dia meminta Valerie untuk memanggilkan Dokter.


"Bu, kita cek pembukaan lagi, ya?" Dokter itu tersenyum ramah supaya Bia bisa merasa lebih tenang dan nyaman.


"Wah! sudah pembukaan tujuh! Lumayan cepat." Dokter wanita tersebut beralih melihat Brandon. "Pak, temani Ibu, ya. Sebentar lagi kita akan bertemu dengan buah hati kalian."


Brandon mengangguk. Rasa penasaran juga ikut menyusul. Selama ini, Brandon dan Bia memang kompak tidak mau mengetahui apa jenis kelamin anak mereka. Mereka ingin mendapatkan surprise. Sebab, mau perempuan atau laki-laki, keduanya sama saja.


Kontraksi Bia semakin sering. Air ketubannya sudah pecah. Sang Dokter dan beberapa asistennya siaga di dekat jalan lahir.


Setelah asistennya mengatur posisi Bia supaya bisa lahiran dengan nyaman, barulah Bia mulai mengejan.


"Sedikit lagi, Bu! Kepalanya sudah terlihat!" seru sang Dokter.


Ketika mulasnya datang, Bia mengejan sekuat tenaga. Saat dia mengejan, ada rasa perih yang teramat seperti sesuatu yang terpaksa dikoyak di area sensitifnya.


"Perih!" hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Bisa yang sejak tadi terkatup diam.


"Memang seperti itu, Bu. Tidak apa-apa, setelah bayi kalian keluar, semua rasa itu akan hilang dan digantikan dengan kebahagiaan," terang sang Dokter.


Bia mengangguk. Dia berusaha keras mendorong tubuh bayinya yang sedikit lagi sudah hampir keluar.


Melihat Bia mengejan, Brandon semakin cemas. Laki-laki itu semakin erat menggenggam tangan sang istri, seolah takut kehilangan wanita yang paling dicintainya itu.


"Oek ... Oek ... Oek...." suasana begitu mengharu biru ketika suara tangisan bayi kecil terdengar sampai ke luar ruangan.


"Selamat Pak, anak pertama kalian perempuan," ucap sang Dokter sambil tersenyum.

__ADS_1


*BERSAMBUNG*


__ADS_2