
"Jonathan, dialah protagonis prianya," jawab Bia setelah terdiam cukup lama.
"Jonathan? Siapa dia?" tanya Brandon dengan kerutan kening yang begitu dalam.
"Pria malam itu. Kau ingat malam itu, kan, Uncle?" ucap Bia menatap Brandon, tatapannya juga begitu serius.
"Pria malam itu yang ... memaksa menciummu?" tanya Brandon agar lebih jelas.
Bia mengangguk. Sebenarnya, dia cukup malas membahas sesuatu yang dianggapnya sebagai kenangan kelam. Namun, karena Brandon, pria yang berstatus suaminya telah bertanya, dia harus menjawab.
"Apa hubunganmu dengannya?"
Bia berdecak, dia ikut mengerutkan dahinya, merasa heran dengan pertanyaan Brandon yang semakin menyelidik.
"Menurutku, kau tidak perlu tau sedetail itu. Aku sudah menjawab apa yang kau tanyakan, dan ketahuilah hal yang sewajarnya saja. Jangan terlalu mengorek masalah pribadiku!" ketus Bia.
Brandon tersenyum kecut. Itu bukanlah sebuah penjelasan yang ingin dia dengar. Tapi, Bia malah mengatakan itu.
"Kenapa kau tidak mau membahasnya? Dia sudah memaksamu seperti itu, membuatmu trauma, tapi kenapa kau masih mau dipasangkan dengannya dalam drama itu? Apa karena dia kekasih gelapmu yang paling kau cintai?" cetus Brandon, raut wajahnya mulai berubah masam saat kembali mengingat kejadian malam itu.
"Kekasihku? Apa maksudmu? Dari mana kau tau hal-hal seperti ini?" cecar Bia. Dia sangat kesal ketika Brandon membicarakan masalah pribadinya.
"Kau tidak perlu tau dari mana aku mengetahuinya. Yang perlu kau lakukan, jawab saja pertanyaanku!" sentak Brandon.
"Aku tidak perlu menjawab apapun. Aku tidak perlu menjelaskan apapun kepada siapapun termasuk dirimu!" Bia tetap kekeuh, sifat keras kepalanya masih melekat dalam dirinya.
"Kenapa? Apa karena kau mau menutupi hubungan kalian pada seluruh dunia termasuk diriku?" tuding Brandon, hatinya terasa semakin memanas.
__ADS_1
"Uncle, kau ini sangat lucu!"
"Tertawalah!" sahut Brandon.
"Kau lupa, kenapa kita bisa menikah? Kurasa, kau sendiri lebih tau dengan jelas alasan kita menikah. Jadi, jangan mengorek kehidupan pribadiku!" sentak Bia.
"Kau yakin tidak mau memberitahukan padaku?" tanya Brandon sekali lagi.
"Baiklah, dia mantan pacarku. Apa kau puas?!" Bia mencebikkan bibirnya.
Sepertinya apa yang dia katakan itu benar. Sahabatnya juga mengatakan hal yang sama. Hanya Clara yang berbeda.
Brandon menghentikan laju mobilnya. Bia melihat ke sekeliling, dia sangat terkejut saat melihat sekitaran mereka di penuhi hamparan pasir putih, gemuruh ombak laut terdengar sangat riuh.
"Pantai? Kenapa kita bisa ada di pantai?" tanya Bia dengan mata melototnya.
"Kau terlalu sibuk berdebat. Sampai tidak sadar ke mana mobil ini membawamu," jawab Brandon dengan entengnya.
"Kenapa? Jika melihat laut, kau teringat kembali dengan mantan pacarmu itu? Apa sebegitu sulitnya melepaskan memori ingatan kenangan kalian?" sarkas Brandon yang tak suka dengan reaksi Bia.
Bia berdecak, dia mencebikkan bibirnya sambil tersenyum mengejek.
"Kenapa? Apa kamu cemburu pada mantan pacarku? Jangan-jangan, karena pergulatan panas kita semalam, kamu tiba-tiba jatuh cinta padaku?" tebak Bia sambil menunjuk wajah Brandon.
"Ya, aku memang cemburu. Aku memang tiba-tiba jatuh cinta padamu. Kenapa? Kau tidak menerima pernyataan cintaku karena masih memikirkan mantan pacarmu itu, hum?" akunya dengan wajah serius. Namun, Bia entah bisa menerimanya atau tidak. Karena, serius atau pun becanda, raut wajah pria itu tetap sama saja.
Brandon merengkuh pinggang Bia, dia ******* bibir itu, menyesapnya perlahan. Tidak peduli dengan penolakan-penolakan yang dilakukan Bia.
__ADS_1
Setelah Bia diam, barulah dia melepaskan pagutan mereka.
"Kenapa kau menciumku? Kau terlalu pemaksa, Uncle!" umpat Bia sambil menutup mulutnya.
"Aku sudah sering mengatakannya padamu, jangan mencebikkan bibirmu seperti itu atau aku akan menciummu. Jadi, jika aku menciummusetiap kau mencebikkan bibir, itu bukanlah salahku," kilah Brandon membela diri.
"Ternyata kau pintar berkelit, ya," ujar Bia. "Aku pikir, kau pria yang lurus-lurus tanpa bisa berbohong. Ternyata aku salah," imbuhnya sembari menarik nafas panjang.
"Kenapa? Kau tidak suka? Apa karena sifat itu sama dengan mantan pacarmu, jadi kau kembali terkenang dengan kenangan kalian?"
"Uncle, hari ini kau salah makan apa? Perasaan, masakanku tadi pagi tidak ada kesalahan apapun. Tapi, kenapa kau bisa menjadi orang yang berbeda hanya dalam beberapa jam saja?"
"Maksudmu?" tanya Brandon karena dia benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan Bia.
"Sedari tadi, kau terus mengatakan 'Kenapa? kau takut ini dan itu karena mengingat kembali kenangan kelam dengan mantan pacarmu?' Uncle, apa tidak ada kata-kata lain yang bisa kau ucapkan selain itu? Memangnya, siapa yang mengatakan padamu bahwa aku secinta itu pada pria brengsek itu hingga tidak bisa melupakannya, apapun yang kulihat selalu mengingatkanku padanya. Siapa yang mengatakan itu padamu, ha?" cecar Bia, hawa emosinya begitu menggebu-gebu.
Brandon beringsut, melihat Bia yang marah sambil memelototinya seperti itu, membuatnya semakin gemas. Ingin sekali dia mencubit pipi wanita itu, tapi segan untuk dilakukannya.
"Tidak ada. Aku yang mau mengatakannya," ucapnya.
"Jadi, kenapa kau mau dipasangkan dengannya? Apalagi, drama yang kalian mainkan nanti, ada adegan ciumannya, kan? Kau mau berciuman dengannya?" tanya Brandon, mengamati wajah Bia yang tampak berubah muram.
Bia menggelengkan kepalanya. Bahkan, dia bersedia untuk mengikuti drama ini. Apalagi untuk berciuman, tentu saja dia sangat tidak sudi melakukan hal itu. Tapi, karena takut dengan ancaman Clara, dia terpaksa menyetujuinya. Anggap saja mencium pantat babi, begitu pikirnya.
"Tentu saja, aku tidak mau. Tapi, aku dipaksa. Aku diancam, jika aku tidak mau menjadi protagonis wanita dalam drama ini, maka beasiswaku akan dicabut," adunya sembari menarik nafas panjang.
-Bersambung-
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga rate 5 ya guys 🙏🙏
Terima kasih ❤️❤️❤️